Bacakan Pledoi, Idrus Marham Minta Divonis Bebas

Rochman Arief

Kamis, 28 Maret 2019 - 13:07

JATIMNET.COM, Jakarta – Mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham minta divonis bebas dalam perkara dugaan penerimaan suap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang RIAU-1 (PLTU MT RIAU-1).

“Saya memohon kepada majelis hakim yang mulia, untuk menolak semua dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum dan membebaskan saya dari dakwaan dan tuntutan, memulihkan nama baik, harkat dan martabat saya," kata Idrus Marham di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis 28 Maret 2019.

Idrus Marham dalam perkara ini dituntut pidana penjara lima tahun dan denda Rp 300 juta subsider empat bulan kurungan. Dia dinilai terbukti bersama-sama anggota Komisi VII DPR dari fraksi Partai Golkar non-aktif Eni Maulani Saragih menerima hadiah Rp 2,25 miliar.

Uang tersebut digunakan untuk pelaksanaan munaslub Partai Golkar dari pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo dalam pengurusan proyek PLTU MT RIAU-1.

BACA JUGA: Idrus Marham Dituntut Lima Tahun Penjara

“Saya bukan orang yang berkepentingan dengan proyek PLTU Riau I. Secara personal saya tidak memiliki kepentingan politis atas pelaksanaan munaslub. karena saya bukan calon ketua umum," ungkap Idrus membacakan pledoi sepanjang 85 halaman.

Menurutnya, hubungannya dengan Eni Maulani Saragih adalah hubungan biasa.

"Sama dengan hubungan saya dengan kader-kader muda partai Golkar lainnya yang tidak bertendensi untuk mencari sesuatu yang tidak sesuai hukum dan aturan perundang-undangan,” tambah Idrus.

Pola komunikasi antara Idrus dan Eni terungkap dalam sidang menggunakan kata "siap", "iya bang", "paham bang", menurut Idrus karena tanggapan dari senior, bukan persekongkolan atau kerja sama.

Menurut Idrus, dalam persidangannya telah jelas Eni Saragih menyatakan bahwa tidak mengetahui, tidak terlibat dan tidak menerima.

BACA JUGA: Resmi Ditahan KPK Ini Pengakuan Idrus Marham

“Saya tidak mempengaruhi, tidak memerintahkan, tidak menerima laporan atas apa yang dilakukan Eni Saragih berupa penerimaan sejumlah uang dan janji dari Johannes Budisutrisno Kotjo,” tegas Idrus.

Menutup pledoinya, Idrus membacakan puisi berjudul ‘Keadilan Sebuah Keniscayaan’ dengan salah satu kalimatnya berbunyi saya tidak mengerti mengapa saya harus berdiri di sini, tapi saya percaya dan yakin, di sini ada hati nurani, nurani bicara kebenaran, nurani bicara keadilan, keadilan sebuah keniscayaan.

Terkait perkara ini, Eni Maulani Saragih pada 1 Maret 2019 lalu telah divonis enam tahun penjara ditambah denda Rp 200 juta subsider dua bulan kurungan ditambah kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp 5,87 miliar dan 40 ribu dolar Singapura.

Sedangkan Johanes Budisutrisno Kotjo diperberat hukumannya oleh Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta menjadi 4,5 tahun penjara ditambah denda Rp 250 juta subsider enam bulan kurungan. (ant)

Baca Juga

loading...