Logo

Atur Minum Sebelum Tidur agar Tidak Mudah Terbangun

Tubuh tetap membutuhkan cairan pada malam panas, tetapi waktu dan jumlahnya perlu disesuaikan agar istirahat tidak sering terputus
Reporter:,Editor:

Rabu, 09 September 2026 05:00 UTC

Atur Minum Sebelum Tidur agar Tidak Mudah Terbangun

Ilustrasi: Cukup Minum Sebelum Tidur. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Minum sebelum tidur terasa semakin penting ketika malam sedang panas. Rasa haus lebih mudah muncul setelah tubuh menjalani aktivitas seharian dalam kondisi kemarau yang kering.

Situasi ini relevan di Jawa Timur pada September 2026. BMKG menyebut Agustus–September sebagai periode puncak musim kemarau di provinsi ini, dengan kondisi yang cenderung lebih panas dan kering.

Pemantauan hingga 31 Agustus bahkan menunjukkan Jawa Timur secara umum mengalami kekeringan ekstrem, yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan berturut-turut. Untuk 1–10 September, curah hujan secara umum diprediksi kurang dari 50 milimeter dengan peluang lebih dari 90 persen.

Dalam situasi tersebut, menyediakan air di dekat tempat tidur memang masuk akal. Namun, hidrasi sebaiknya dibangun sepanjang hari, bukan dengan minum dalam jumlah besar sekaligus sesaat sebelum memejamkan mata.

 

Hidrasi Tidak Perlu Menunggu Malam

Kebiasaan yang sering terjadi cukup sederhana. Seseorang sibuk bekerja sejak pagi, jarang minum, kemudian baru menyadari rasa haus ketika aktivitas mulai berhenti pada malam hari.

Akibatnya, beberapa gelas air diminum sekaligus sebelum tidur. Rasa haus mungkin berkurang, tetapi kandung kemih dapat terasa penuh ketika tubuh seharusnya sedang beristirahat.

Pendekatan yang lebih nyaman adalah mencukupi cairan secara bertahap sejak pagi. Kementerian Kesehatan menyebut konsumsi air putih yang disarankan untuk orang dewasa sekitar 2 liter per hari.

Angka tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai kebutuhan mutlak yang identik bagi semua orang. Kebutuhan cairan dapat berubah mengikuti aktivitas, kondisi tubuh, lingkungan, makanan, serta arahan tenaga kesehatan.

Menariknya, cairan juga tidak hanya berasal dari gelas minum. Kementerian Kesehatan menyebut makanan dapat menyumbang sekitar 20 persen asupan cairan, termasuk melalui buah dan sayuran.

Artinya, hidrasi merupakan bagian dari pola konsumsi sepanjang hari. Malam tidak harus menjadi waktu mengejar seluruh cairan yang terlewat.

 

Kenali Tanda Tubuh Mulai Kekurangan Cairan

Rasa haus merupakan sinyal yang mudah dikenali, tetapi bukan satu-satunya hal yang dapat diperhatikan.

Kementerian Kesehatan mencatat empat gejala umum dehidrasi, yakni pusing, kelelahan atau kekurangan energi, frekuensi buang air kecil yang jarang, serta rasa kering pada mulut, bibir, dan mata.

Tanda-tanda tersebut layak mendapat perhatian ketika cuaca sedang panas. Tubuh dapat kehilangan cairan melalui keringat, terutama setelah banyak beraktivitas di luar ruangan.

Musim kemarau Jawa Timur tahun ini juga tergolong cukup kering. BMKG memprediksi sifat hujan musim kemarau 2026 berada pada kategori bawah normal di 56 Zona Musim, mencakup sekitar 75,5 persen luas Jawa Timur.

Durasi kemarau terpanjang diperkirakan mencapai 22–24 dasarian pada 20 Zona Musim atau sekitar 23 persen luas wilayah provinsi. Satu dasarian merupakan periode sekitar sepuluh hari.

Kondisi lingkungan tersebut membuat kebiasaan membawa botol air dan minum berkala terasa lebih relevan dibanding hanya mengandalkan rasa haus menjelang tidur.

 

Minum Sebelum Tidur Tetap Boleh

Tidak ada alasan untuk sengaja menahan haus hanya karena sudah mendekati waktu tidur. Jika tubuh membutuhkan cairan, air putih tetap menjadi pilihan sederhana.

Yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan polanya. Beberapa teguk air untuk meredakan haus berbeda dengan menghabiskan beberapa gelas sekaligus karena hampir tidak minum sepanjang hari.

Menyediakan segelas atau botol air di meja samping tempat tidur juga cukup praktis. Jika terbangun karena haus, seseorang tidak perlu berjalan jauh mencari minuman.

Namun, kebutuhan masing-masing orang berbeda. Ada yang tetap tidur nyenyak setelah minum menjelang tidur, sementara orang lain lebih mudah terbangun untuk buang air kecil.

Karena itu, pola minum dapat disesuaikan berdasarkan pengalaman tubuh sendiri. Jika berkali-kali terbangun setelah banyak minum pada malam hari, distribusi cairan sepanjang hari patut dievaluasi.

Pada September 2026, kebiasaan ini makin relevan karena BMKG memprediksi jumlah curah hujan bulanan di Jawa Timur hanya berkisar 0–87 milimeter, meski besarannya berbeda antardaerah.

 

Es Kopi Malam Bukan Pengganti Air Putih

Cuaca panas sering memunculkan keinginan menikmati minuman dingin pada malam hari. Es kopi, teh manis, minuman bersoda, dan berbagai minuman kekinian terasa menyegarkan setelah hari yang gerah.

Namun, sensasi dingin tidak selalu berarti pilihan tersebut cocok dijadikan sumber hidrasi utama menjelang tidur.

Minuman berkafein perlu mendapat perhatian khusus. Selain kopi, kafein dapat ditemukan pada teh, minuman energi, cokelat, dan sejumlah produk lainnya.

Jika seseorang sensitif terhadap kafein, konsumsi pada sore atau malam hari dapat membuat waktu istirahat terasa kurang nyaman. Air putih tetap menjadi pilihan paling sederhana ketika tujuan utamanya adalah mengatasi haus.

Minuman sangat manis juga tidak harus menjadi respons otomatis setiap kali cuaca panas. Kebiasaan tersebut dapat membuat asupan gula harian bertambah tanpa terasa.

Karena itu, pisahkan dua kebutuhan yang berbeda. Minuman favorit bisa dinikmati sebagai bagian dari pola konsumsi, sedangkan kebutuhan cairan dasar tetap dapat dipenuhi terutama melalui air putih.

 

Bangun Hidrasi dari Pagi hingga Malam

Kebiasaan minum yang baik tidak harus dimulai dengan menghitung setiap mililiter. Cara yang lebih realistis adalah menciptakan pengingat sederhana sepanjang aktivitas.

Minum setelah bangun pagi bisa menjadi awal. Air kemudian tersedia ketika sarapan, bekerja, makan siang, melakukan perjalanan, berolahraga, hingga menjelang malam.

Botol minum yang mudah terlihat juga membantu sebagian orang mengingat kebutuhan cairan. Saat bekerja lama di depan layar, rasa haus terkadang baru disadari setelah beberapa jam.

Asupan makanan pun dapat membantu. Kementerian Kesehatan mencontohkan bayam dan semangka sebagai bahan pangan dengan kandungan air sekitar 90 persen.

Namun, kebutuhan cairan tidak sebaiknya dipukul rata. Orang yang banyak berkeringat, bekerja di luar ruangan, berolahraga, sedang sakit, hamil, menyusui, atau memiliki kondisi medis tertentu dapat membutuhkan pendekatan berbeda.

Jika muncul pusing berat, kelemahan, kebingungan, sangat jarang buang air kecil, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, jangan hanya mengandalkan minum air di rumah. Pemeriksaan medis diperlukan bila kondisi memburuk.

Pada akhirnya, minum sebelum tidur tetap merupakan kebiasaan yang wajar. Yang perlu dihindari adalah menjadikan beberapa menit sebelum tidur sebagai satu-satunya kesempatan memenuhi kebutuhan cairan sehari penuh.

Di tengah malam gerah musim kemarau, strategi yang lebih nyaman adalah sederhana: cukup minum sejak pagi, perhatikan tanda tubuh, dan sediakan air saat malam. Dengan pola itu, kebutuhan hidrasi tetap terjaga tanpa membuat waktu istirahat terlalu sering terganggu.