Logo

Less Sugar Jadi Pilihan Baru Minuman Kekinian

Mengurangi rasa manis bukan kehilangan kenikmatan, melainkan memberi lidah kesempatan mengenal rasa yang lebih seimbang.
Reporter:,Editor:

Selasa, 08 September 2026 10:00 UTC

Less Sugar Jadi Pilihan Baru Minuman Kekinian

Ilustrasi: Pilih Segar Lebih Bijak. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Less sugar semakin mudah ditemukan dalam percakapan saat memesan minuman. Pilihan ini muncul pada kopi susu, teh, minuman buah, hingga berbagai racikan dingin yang populer di perkotaan.

Kebiasaan tersebut terasa relevan ketika cuaca panas meningkatkan keinginan untuk minum lebih sering. BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 di banyak wilayah Indonesia berlangsung pada Juli hingga September. Jawa Timur juga termasuk wilayah yang menghadapi periode kemarau relatif kering.

Di tengah kondisi itu, mengurangi gula pada minuman bisa menjadi kebiasaan sederhana. Apalagi masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan konsumsi minuman manis dan penyakit tidak menular.

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 47,5 persen penduduk usia tiga tahun ke atas mengonsumsi minuman manis setidaknya sekali sehari. Sebanyak 43,3 persen mengonsumsinya satu hingga enam kali seminggu.

Artinya, minuman manis bukan lagi sekadar teman nongkrong. Ia telah menjadi bagian dari pola konsumsi harian banyak orang.

 

Less Sugar Mengubah Cara Menikmati Minuman

Selama bertahun-tahun, rasa manis menjadi salah satu karakter kuat minuman populer. Teh, kopi susu, cokelat, hingga minuman buah sering hadir dengan gula atau sirup dalam jumlah cukup terasa.

Pilihan less sugar menawarkan pendekatan berbeda. Konsumen tetap mendapatkan minuman favorit, tetapi meminta kadar pemanis lebih rendah dibandingkan racikan standar.

Kebiasaan ini berbeda dari berhenti mengonsumsi gula sepenuhnya. Tujuannya lebih realistis, yaitu mengurangi rasa manis secara bertahap agar konsumsi sehari-hari lebih terkendali.

Langkah kecil tersebut cukup penting karena gula juga datang dari banyak sumber lain. Sarapan, camilan, saus, makanan kemasan, dan pencuci mulut dapat menambah total konsumsi harian.

Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi gula tidak melebihi 50 gram per orang per hari. Jumlah tersebut kurang lebih setara empat sendok makan.

Batas itu bukan berarti empat sendok makan gula tambahan bebas digunakan untuk minuman. Totalnya perlu mempertimbangkan berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi sepanjang hari.

 

Kebiasaan Minum Manis Masih Tinggi

Data nasional memberi gambaran mengapa tren less sugar layak diperhatikan lebih serius. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 47,5 persen penduduk berusia tiga tahun ke atas mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari atau satu kali sehari. Angka konsumsi satu hingga enam kali per minggu mencapai 43,3 persen.

Hanya 9,2 persen yang tercatat mengonsumsi minuman manis kurang dari tiga kali per bulan. Data tersebut menunjukkan rasa manis masih sangat dekat dengan kebiasaan minum masyarakat.

Pada saat bersamaan, diabetes menjadi persoalan kesehatan yang perlu diperhatikan. International Diabetes Federation dalam Diabetes Atlas edisi ke-11 memperkirakan sekitar 20,4 juta orang dewasa berusia 20–79 tahun di Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024.

Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di antara negara dengan populasi orang dewasa penyandang diabetes terbesar di dunia. Diabetes tentu tidak disebabkan hanya oleh segelas es teh atau kopi susu. Faktor risikonya kompleks, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, berat badan, usia, hingga faktor genetik.

Namun, kebiasaan mengurangi gula tambahan tetap menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat. Terutama jika minuman manis sebelumnya dikonsumsi hampir setiap hari.

 

Lidah Bisa Beradaptasi dengan Rasa Kurang Manis

Alasan sebagian orang enggan memilih less sugar sebenarnya sederhana. Minuman yang biasanya terasa nikmat mendadak dianggap hambar ketika jumlah pemanis dikurangi terlalu drastis.

Karena itu, perubahan tidak harus dilakukan sekaligus. Memilih kadar gula 50 persen sebelum turun menjadi 25 persen dapat terasa lebih mudah bagi sebagian orang.

Pilihan tersebut juga memberi kesempatan untuk mengenali karakter asli minuman. Aroma teh, pahit kopi, rasa asam buah, atau gurih susu menjadi lebih terasa ketika rasa manis tidak terlalu dominan.

Untuk minuman buatan sendiri, perubahan bisa dilakukan lebih sederhana. Jumlah gula dalam es teh dapat dikurangi sedikit demi sedikit selama beberapa minggu.

WHO merekomendasikan asupan gula bebas kurang dari 10 persen total energi harian. Organisasi tersebut menyebut penurunan hingga di bawah 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Pada pola konsumsi 2.000 kilokalori per hari, batas 10 persen tersebut kira-kira setara 50 gram gula bebas. Angka ini menunjukkan betapa cepat jatah gula dapat terkumpul dari berbagai sumber.

Karena itu, lidah yang terbiasa dengan rasa lebih seimbang bisa menjadi keuntungan jangka panjang. Seseorang tidak lagi membutuhkan rasa sangat manis untuk mendapatkan sensasi nikmat.

 

Label Minuman Membuat Pilihan Lebih Mudah

Perubahan kebiasaan konsumen juga mulai didukung pendekatan informasi pangan yang lebih sederhana. Pada 2026, Kementerian Kesehatan memperkenalkan Nutri-Level sebagai sistem informasi kandungan gula, garam, dan lemak. Sistem tersebut membagi produk ke dalam kategori A sampai D.

Dalam pengelompokan komponen gula, kategori A memiliki kandungan maksimal 1 gram tanpa pemanis tambahan. Kategori B berada di atas 1 hingga 5 gram, sedangkan kategori C di atas 5 hingga 10 gram.

Kategori D menunjukkan kandungan gula lebih dari 10 gram. Sistem ini dapat membantu konsumen memahami perbedaan antarproduk tanpa harus menjadi ahli gizi.

Namun, membaca label tetap penting. Ukuran sajian perlu diperhatikan karena satu kemasan belum tentu sama dengan satu takaran saji.

Konsumen juga bisa menggunakan strategi sederhana ketika membeli minuman racikan. Minta less sugar, hindari tambahan sirup yang tidak diperlukan, dan jangan otomatis menambahkan topping manis.

Pilihan kecil seperti ini terasa sepele pada satu kesempatan. Dampaknya menjadi lebih berarti ketika dilakukan pada kebiasaan yang berulang setiap minggu.

 

Less Sugar Bisa Menjadi Kebiasaan, Bukan Tren

Minuman kekinian akan terus berubah. Hari ini kopi susu populer, besok mungkin teh buah, minuman berbasis susu, atau racikan lain mengambil perhatian.

Karena itu, less sugar lebih menarik bila dipahami sebagai kebiasaan daripada tren sesaat. Prinsipnya dapat digunakan pada hampir semua jenis minuman.

Saat cuaca panas, air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Minuman dingin berperisa dapat menjadi variasi, bukan pengganti air sepanjang hari.

Kebiasaan tersebut juga tidak harus membuat momen nongkrong terasa penuh aturan. Seseorang masih dapat menikmati minuman favorit sambil menentukan sendiri seberapa manis rasa yang benar-benar dibutuhkan.

Pilihan less sugar pada akhirnya mengajarkan satu hal sederhana. Rasa nikmat tidak selalu harus datang dari gula dalam jumlah besar.

Ketika lidah mulai terbiasa, minuman yang lebih ringan justru dapat terasa menyegarkan. Dari satu pesanan kecil, less sugar perlahan bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sadar.