Senin, 07 September 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Bibir Tetap Nyaman. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Bibir kering saat kemarau mudah dianggap sebagai gangguan kecil. Sensasi tertarik biasanya membuat seseorang refleks menjilat bibir, menggigit kulit yang mengelupas, atau menarik bagian yang pecah menggunakan jari.
Kebiasaan tersebut justru dapat membuat kondisi semakin sulit membaik. American Academy of Dermatology atau AAD menjelaskan bahwa air liur yang menguap dari permukaan bibir dapat membuat bibir semakin kering.
Kondisi udara pada September 2026 membuat persoalan ini semakin relevan. BMKG menyebut awal September masih didominasi cuaca panas dan kering di berbagai wilayah Indonesia.
Bahkan, sekitar 80 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau pada akhir Agustus. Bibir yang lebih mudah kering menjadi salah satu alasan untuk memperhatikan kebiasaan sederhana sepanjang hari.
Bibir Kering Saat Kemarau Bukan Hanya Kurang Minum
Bibir memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sebagian besar permukaan kulit. Karena itu, perubahan lingkungan dan kebiasaan sehari-hari dapat membuat bagian ini cepat terasa tidak nyaman.
Cuaca kering merupakan salah satu faktor yang dikenal dapat memicu bibir pecah-pecah. Paparan matahari dan kebiasaan menjilat bibir berulang kali juga termasuk pemicu yang umum.
Pada 2026, musim kering di Indonesia juga cukup signifikan. BMKG memproyeksikan puncak kemarau berlangsung pada Juli hingga September.
Sekitar 169 Zona Musim atau 25,41 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September. Angka tersebut menunjukkan kondisi kering belum selesai hanya karena Agustus telah berlalu.
BMKG juga mencatat 437 Zona Musim, setara 48,77 persen luas daratan, diproyeksikan mengalami durasi kemarau lebih panjang. Curah hujan tinggi diperkirakan baru meningkat bertahap pada Oktober hingga November.
Situasi ini tidak otomatis membuat semua orang mengalami bibir kering. Namun, lingkungan yang lebih kering dapat menjadi faktor tambahan bagi mereka yang memang mudah mengalaminya.
Menjilat Bibir Memberikan Nyaman yang Sangat Singkat
Refleks menjilat bibir mudah dipahami. Ketika permukaan terasa kering, air liur memberikan sensasi basah dalam beberapa detik.
Masalahnya muncul setelah air liur tersebut menguap. AAD menjelaskan bahwa proses itu dapat membuat bibir menjadi lebih kering dibandingkan sebelumnya.
Siklusnya kemudian mudah berulang. Bibir kering dijilat, terasa nyaman sebentar, kembali kering, kemudian dijilat lagi tanpa disadari.
Menggigit atau mengelupas kulit bibir juga bukan pilihan yang lebih baik. Kebiasaan tersebut dapat menimbulkan iritasi dan menghambat proses pemulihan.
Cara menggantinya cukup sederhana. Ketika muncul keinginan menjilat bibir, gunakan lip balm yang tidak menimbulkan rasa perih atau iritasi.
AAD menyarankan lip balm digunakan beberapa kali sehari dan sebelum tidur. Untuk bibir yang sangat kering dan pecah, salep lebih tebal seperti petroleum jelly dapat membantu mempertahankan air lebih lama.
Lip Balm yang Terasa Pedas Belum Tentu Lebih Baik
Sensasi dingin, tingling, atau sedikit menyengat sering dianggap sebagai tanda sebuah produk sedang bekerja. Pada bibir yang sudah pecah, anggapan tersebut perlu dipertimbangkan kembali.
AAD menyebut rasa terbakar, menyengat, atau tidak nyaman setelah penggunaan produk justru dapat menunjukkan adanya iritasi. Produk tersebut sebaiknya dihentikan ketika bibir sedang bermasalah.
Sejumlah kandungan juga dapat mengiritasi bibir pecah pada sebagian orang. AAD mencantumkan antara lain camphor, eucalyptus, menthol, fragrance, serta perisa seperti mint, peppermint, cinnamon, dan citrus.
Sebaliknya, pilihan yang sederhana sering kali sudah mencukupi. Petrolatum, mineral oil, dimethicone, ceramides, dan shea butter termasuk bahan yang disebut dapat membantu bibir pecah.
Produk tanpa pewangi juga dapat menjadi pilihan ketika bibir sedang sensitif. Prinsip utamanya bukan mencari sensasi paling kuat, tetapi menemukan produk yang nyaman digunakan secara konsisten.
Perlindungan SPF Juga Berlaku untuk Bibir
Bibir kering saat kemarau tidak hanya berhadapan dengan udara kering. Orang yang sering berkendara, berjalan kaki, bekerja di lapangan, atau menunggu transportasi juga menghadapi paparan matahari.
AAD merekomendasikan lip balm dengan SPF 30 atau lebih tinggi sebelum beraktivitas di luar. Perlindungan tersebut tetap penting ketika bibir sedang kering atau pecah.
Rekomendasi ini sejalan dengan perhatian terhadap paparan matahari secara umum. Untuk kulit kering, AAD juga merekomendasikan sunscreen broad-spectrum dan water-resistant minimal SPF 30.
BMKG pada awal September 2026 turut mengingatkan masyarakat menggunakan pelindung atau tabir surya ketika beraktivitas di luar. Kecukupan cairan juga perlu dijaga untuk mengurangi risiko dehidrasi dan kelelahan akibat panas.
Peringatan kondisi kering bahkan telah dikeluarkan untuk Dasarian I September 2026. BMKG menempatkan sejumlah kabupaten dan kota di Bali, Banten, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, serta wilayah lainnya dalam tingkat waspada hingga awas kekeringan meteorologis.
Konteks tersebut membuat membawa air minum dan lip balm terasa seperti kebiasaan kecil yang relevan selama aktivitas harian.
Beri Waktu Bibir untuk Pulih
Bibir pecah tidak selalu membaik dalam satu atau dua hari. AAD menyebut perawatan mandiri yang tepat umumnya dapat memberikan perbaikan nyata dalam sekitar dua hingga tiga minggu.
Selama periode tersebut, konsistensi menjadi penting. Gunakan pelembap bibir beberapa kali sehari, hindari menjilat atau menggigitnya, dan tetap menjaga asupan cairan.
Ketika berada di luar, gunakan produk bibir dengan SPF minimal 30. Perlindungan dapat dilengkapi dengan mencari tempat teduh saat paparan matahari terasa kuat.
Namun, bibir yang tidak membaik setelah dua hingga tiga minggu sebaiknya tidak terus dianggap akibat cuaca. AAD menyebut reaksi alergi, infeksi, hingga kondisi kulit tertentu dapat menimbulkan keluhan yang serupa.
Keluhan berupa ruam gatal, nyeri, kulit mengelupas, dan pecah di sekitar bibir juga dapat berkaitan dengan dermatitis kontak. Produk yang menyentuh bibir bisa menjadi salah satu pemicunya.
Bibir kering saat kemarau akhirnya lebih mudah dirawat ketika kebiasaan pemicunya ikut dihentikan. Tidak menjilat bibir mungkin terdengar sepele, tetapi justru menjadi salah satu langkah yang paling mudah dilakukan.
Di tengah cuaca September yang masih kering, membawa lip balm dan air minum dapat menjadi rutinitas sederhana. Tidak banyak produk yang diperlukan, selama perlindungan dilakukan dengan tepat dan konsisten.
