Logo

Elektronik di Rumah Bisa Menambah Panas Ruangan

Ruangan yang gerah tidak selalu datang dari matahari, tetapi juga dari perangkat yang terus bekerja.
Reporter:,Editor:

Minggu, 06 September 2026 13:00 UTC

Elektronik di Rumah Bisa Menambah Panas Ruangan

Ilustrasi: Kurangi Panas Tersembunyi. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Perangkat elektronik di rumah sering luput diperhatikan ketika ruangan mulai terasa panas. Televisi, komputer, lampu, konsol gim, hingga perangkat dapur menghasilkan panas selama bekerja.
Efek satu perangkat mungkin tidak terasa besar. Namun, beberapa perangkat yang digunakan bersamaan dapat menambah beban panas dalam ruangan, terutama ketika ventilasi terbatas dan cuaca luar sedang kering.
Kondisi ini semakin relevan pada September 2026. BMKG Jawa Timur menyatakan provinsi ini sedang berada pada puncak musim kemarau periode Agustus–September, dengan cuaca yang cenderung lebih panas dan kering.
BMKG juga memprediksi 12 dari 74 Zona Musim atau 16,2 persen ZOM di Jawa Timur mencapai puncak kemarau pada September. Sebanyak 53 ZOM atau 71,6 persen telah mencapai puncaknya pada Agustus.
Mengurangi panas dari perangkat elektronik akhirnya bukan sekadar urusan hemat listrik. Kebiasaan tersebut juga dapat membantu menjaga rumah tetap nyaman ketika suhu udara meningkat.
Perangkat Elektronik Menghasilkan Panas Saat Bekerja
Energi listrik yang digunakan perangkat tidak seluruhnya berubah menjadi fungsi yang kita inginkan. Sebagian akhirnya dilepaskan sebagai panas ke lingkungan sekitar.
Gejalanya mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bagian belakang televisi terasa hangat, adaptor pengisi daya memanas, dan laptop mengeluarkan udara panas ketika bekerja berat.
Komputer desktop dengan monitor besar juga dapat menambah panas, terlebih ketika digunakan berjam-jam. Hal serupa terjadi pada konsol gim, perangkat jaringan, lampu tertentu, dan berbagai alat elektronik lainnya.
Pada hari biasa, panas tersebut mungkin tidak terlalu mengganggu. Situasinya berbeda ketika suhu luar sudah tinggi dan rumah menerima paparan matahari selama berjam-jam.
WHO secara khusus menyarankan mematikan sebanyak mungkin perangkat listrik yang tidak diperlukan ketika menghadapi cuaca panas. Langkah itu termasuk bagian dari upaya mengurangi beban panas di dalam rumah.
Kebiasaan tersebut sederhana, tetapi sering terlewat. Televisi tetap menyala tanpa ditonton atau komputer dibiarkan bekerja meski tidak sedang digunakan.
Perangkat Elektronik di Rumah Perlu Dipakai Bergantian
Rumah modern memiliki semakin banyak perangkat listrik. Tantangannya bukan menghindari teknologi, melainkan mengatur pemakaiannya sesuai kebutuhan.
Bayangkan ruang keluarga pada sore hari. Televisi menyala, laptop digunakan bekerja, konsol gim aktif, beberapa lampu hidup, sementara pengisi daya dan perangkat lainnya ikut terhubung.
Setiap sumber panas kecil kemudian berada dalam satu ruangan. Pada kondisi gerah, pendingin harus menghadapi panas dari luar sekaligus panas yang dihasilkan aktivitas di dalam.
Solusi paling realistis adalah mengurangi perangkat yang menyala bersamaan. Perangkat yang sudah selesai digunakan dapat dimatikan sebelum menyalakan perangkat lain.
Aktivitas yang menghasilkan panas lebih besar juga bisa dijadwalkan. Menyetrika pakaian, memasak lama, atau menggunakan peralatan tertentu dapat dilakukan ketika udara lebih sejuk apabila memungkinkan.
WHO bahkan menganjurkan menghindari aktivitas berat pada waktu terpanas. Suhu yang dirasakan di bawah paparan matahari dapat sekitar 10–15 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan area teduh.
Pengaturan waktu membuat tubuh dan rumah tidak menerima beban panas pada saat bersamaan.
Kemarau 2026 Membuat Beban Panas Perlu Diperhatikan
Kondisi musim tahun ini memberi alasan tambahan untuk memperhatikan sumber panas kecil di rumah. BMKG memprediksi kemarau 2026 cenderung lebih kering dibandingkan biasanya di banyak wilayah Indonesia.
Sebanyak 451 Zona Musim atau 64,5 persen wilayah ZOM Indonesia diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal. Artinya, curah hujan selama kemarau berada di bawah kondisi klimatologisnya.
BMKG juga menyebut puncak kemarau nasional berlangsung sepanjang Juli hingga September. Pada Agustus, puncak tersebut mencakup 369 ZOM atau 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Sebanyak 169 ZOM atau 25,41 persen luas daratan kemudian mencapai puncak kemarau pada September. Sebagian kecil wilayah Jawa termasuk dalam kelompok tersebut.
Kondisi kering sudah terlihat menjelang akhir Agustus. BMKG mencatat sekitar 80 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau pada periode 27 Agustus–2 September 2026.
Pada awal Agustus, data BMKG bahkan menunjukkan 90,79 persen wilayah yang dianalisis menerima curah hujan kategori rendah pada Dasarian I. Sebanyak 87,28 persen tercatat memiliki sifat hujan bawah normal.
Angka-angka tersebut tidak berarti setiap daerah mengalami suhu yang sama. Namun, kondisi kemarau yang luas membuat strategi menjaga kenyamanan rumah tetap relevan.
Mematikan Perangkat Juga Membantu Sistem Pendingin
Mengurangi sumber panas di dalam ruangan membuat kipas dan AC bekerja dalam kondisi yang lebih mendukung. Pendingin tidak harus terus mengimbangi panas tambahan dari perangkat yang sebenarnya tidak diperlukan.
WHO memberikan rekomendasi praktis untuk penggunaan pendingin. Ketika memakai AC, termostat dapat diatur sekitar 27 derajat Celsius dan dikombinasikan dengan kipas listrik.
Menurut WHO, kombinasi tersebut dapat membuat ruangan terasa sekitar 4 derajat Celsius lebih sejuk. Strategi ini juga berpotensi menghemat hingga 70 persen biaya listrik untuk pendinginan.
Besarnya penghematan tentu tidak sama di setiap rumah. Daya perangkat, ukuran ruangan, insulasi bangunan, tarif listrik, durasi pemakaian, dan kondisi cuaca ikut menentukan hasilnya.
Kipas sendiri sebaiknya tidak digunakan tanpa mempertimbangkan suhu. WHO menyebut kipas listrik digunakan ketika suhu berada di bawah 40 derajat Celsius karena pada suhu lebih tinggi kipas dapat meningkatkan panas yang diterima tubuh.
Dengan demikian, mengurangi perangkat yang tidak diperlukan menjadi bagian dari strategi lebih luas. Rumah menahan panas matahari, membatasi panas internal, lalu menggunakan pendinginan sesuai kebutuhan.
Kebiasaan Kecil Membuat Rumah Lebih Adaptif
Tidak semua perangkat harus dicabut setiap kali selesai digunakan. Prioritas pertama adalah perangkat yang memang tidak diperlukan atau menghasilkan panas cukup terasa ketika aktif.
Coba perhatikan ruangan yang paling sering digunakan pada siang dan sore. Identifikasi televisi, komputer, lampu, charger, konsol gim, atau perangkat lain yang menyala tanpa kebutuhan jelas.
Kebiasaan lain yang dapat dicoba adalah memindahkan aktivitas dengan perangkat berdaya besar ke ruangan yang memiliki sirkulasi lebih baik. Jangan menutup lubang pembuangan panas pada laptop atau perangkat elektronik.
Pada malam hari, manfaatkan udara luar apabila suhunya sudah lebih rendah dan kondisi lingkungan memungkinkan. WHO menyarankan membuka jendela setelah gelap ketika udara luar lebih dingin daripada udara dalam rumah.
Kenyamanan juga penting bagi kesehatan. WHO menyebut panas dapat memicu kelelahan panas dan heat stroke, sekaligus memperburuk kondisi kardiovaskular, pernapasan, serta ginjal pada kelompok tertentu.
Karena itu, mengendalikan panas rumah sebaiknya dilakukan sebelum ruangan benar-benar terasa menyiksa. Tidak semua solusi membutuhkan AC yang bekerja lebih keras.
Perangkat elektronik di rumah memang membuat kehidupan lebih praktis. Namun, perangkat yang menyala tanpa fungsi hanya menambah konsumsi energi dan menjadi sumber panas yang sebenarnya bisa dihindari.
Pada musim kemarau, kebiasaan sederhana itu semakin berarti. Matikan yang tidak diperlukan, atur waktu pemakaian, jaga sirkulasi, dan biarkan perangkat elektronik bekerja hanya ketika benar-benar dibutuhkan.