Logo

Sunscreen Saat Cuaca Panas, Jangan Hanya di Wajah

Perlindungan kulit yang baik dimulai dari bagian tubuh yang sering terkena matahari, bukan hanya wajah.
Reporter:,Editor:

Senin, 07 September 2026 00:00 UTC

Sunscreen Saat Cuaca Panas, Jangan Hanya di Wajah

Ilustrasi: Lindungi Kulit Harian. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Paparan sinar matahari menjadi bagian dari rutinitas harian yang sering dianggap biasa. Padahal, sunscreen saat cuaca panas penting digunakan pada kulit yang tidak terlindungi pakaian, terutama ketika aktivitas membawa kita lebih sering berada di luar ruangan.

Memasuki awal September 2026, perhatian terhadap perlindungan kulit semakin relevan. BMKG menyebut awal September masih didominasi cuaca panas dan kering di berbagai wilayah Indonesia. Minimnya tutupan awan pada pagi hingga siang juga dapat meningkatkan pemanasan permukaan.

Situasi tersebut bukan berarti sunscreen hanya diperlukan ketika matahari terasa sangat menyengat. Radiasi ultraviolet tidak selalu dapat dinilai dari rasa panas yang diterima kulit.

 

Sunscreen Saat Cuaca Panas Bukan Sekadar Tren

Sunscreen sering identik dengan produk perawatan wajah. Kebiasaan ini membuat bagian tubuh lain seperti leher, telinga, tangan, dan kaki mudah terlupakan.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa perlindungan tidak berhenti pada wajah. Lengan, kaki, leher, telinga, hingga kelopak mata termasuk area yang kerap terpapar matahari.

Bibir juga perlu diperhatikan karena terus terekspos ketika seseorang beraktivitas di luar. Produk bibir dengan perlindungan terhadap sinar matahari dapat menjadi bagian dari perlindungan harian.

Kementerian Kesehatan juga merekomendasikan sunscreen minimal SPF 30 pada kulit yang tidak tertutup pakaian sebelum keluar rumah. Angka ini bisa menjadi acuan sederhana bagi masyarakat yang masih bingung memilih tingkat perlindungan.

 

Indeks UV Memberi Gambaran Risiko yang Lebih Jelas

Rasa gerah dan indeks ultraviolet sebenarnya mengukur dua hal berbeda. Karena itu, hari yang terasa tidak terlalu panas belum tentu bebas dari paparan UV yang perlu diantisipasi.

World Health Organization menjelaskan UV Index dimulai dari angka 0 dan terus meningkat. Semakin tinggi nilainya, semakin besar potensi kerusakan pada kulit dan mata.

WHO membagi indeks 0–2 sebagai tingkat ketika risiko kerusakan jangka pendek relatif terbatas dalam kondisi normal. Pada indeks 3–7, perlindungan terhadap matahari sudah direkomendasikan.

Ketika indeks mencapai 8 atau lebih, perlindungan perlu semakin diperhatikan, khususnya sekitar tengah hari. WHO menyarankan mencari tempat teduh serta menggunakan pakaian, sunscreen, dan pelindung kepala.

Informasi indeks UV juga semakin mudah diperiksa. BMKG menyediakan informasi prediksi UV untuk membantu masyarakat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi radiasi ultraviolet.

 

SPF 30 Perlu Diikuti Cara Pakai yang Tepat

Memilih SPF tinggi tidak otomatis membuat seseorang terlindungi sepanjang hari. Cara penggunaan tetap menentukan seberapa efektif perlindungan yang diperoleh.

WHO merekomendasikan sunscreen broad-spectrum yang melindungi terhadap UVA dan UVB dengan minimal SPF 30. Pengaplikasian ulang disarankan sekitar setiap dua jam, terutama setelah berkeringat, berenang, atau berolahraga di luar.

Untuk seluruh tubuh orang dewasa, WHO memberikan gambaran penggunaan sekitar 3–4 sendok makan penuh. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa mengoleskan sunscreen terlalu tipis dapat membuat perlindungan aktual tidak sesuai harapan.

Namun, sunscreen juga bukan izin untuk berlama-lama di bawah matahari. WHO menempatkan tempat teduh dan pakaian sebagai bagian penting dari perlindungan, bukan sekadar mengandalkan produk tabir surya.

Kebiasaan sederhana bisa dimulai dengan memperhatikan area yang mudah terlewat. Bagian belakang leher, telinga, punggung tangan, serta kaki yang terbuka layak masuk dalam rutinitas sebelum bepergian.

 

Cuaca Mendung Tetap Memerlukan Perhatian
Kesalahan lain yang cukup umum adalah menghubungkan sunscreen hanya dengan cuaca panas. Ketika langit mendung, sebagian orang merasa kulit otomatis terlindungi.

Kementerian Kesehatan mengingatkan radiasi ultraviolet masih dapat menembus awan. Paparan juga dapat terjadi melalui kaca pintu atau jendela pada kondisi tertentu.

Karena itu, kebiasaan melihat kondisi langit saja kurang memadai untuk menentukan perlindungan kulit. Indeks UV memberikan informasi yang lebih relevan mengenai tingkat radiasi pada suatu waktu dan lokasi.

WHO bahkan merekomendasikan perlindungan matahari mulai UV Index 3. Patokan angka tersebut lebih praktis daripada sekadar menunggu kulit terasa panas atau matahari terlihat sangat terik.

Pada musim panas dan kering, rutinitas ini menjadi semakin mudah diterapkan jika perlengkapan sudah tersedia. Sunscreen dapat ditempatkan bersama barang yang selalu dibawa, seperti kunci, dompet, atau botol minum.

 

Perlindungan Kulit Perlu Berjalan Bersama Kebiasaan Lain

Menjaga kulit saat cuaca panas tidak harus berubah menjadi rutinitas yang rumit. Kementerian Kesehatan menganjurkan penggunaan topi atau payung untuk mengurangi kontak langsung dengan matahari.

Pakaian ringan dan longgar juga lebih nyaman untuk kondisi panas. Pada periode cuaca panas, Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat sebisa mungkin berteduh antara pukul 11.00 hingga 15.00.

Perlindungan tersebut sekaligus membantu tubuh menghadapi panas. BMKG pada awal September 2026 juga mengingatkan masyarakat menjaga kecukupan cairan, terutama ketika melakukan kegiatan di luar pada siang hari.

Aspek kesehatan ini penting karena cuaca panas tidak hanya berkaitan dengan kulit. Kementerian Kesehatan mencantumkan sejumlah tanda gangguan akibat panas, seperti keringat berlebih, pusing, mual, kram, hingga urin sedikit dan berwarna kuning pekat.

Sunscreen saat cuaca panas akhirnya hanya satu bagian dari kebiasaan yang lebih luas. Perlindungan terbaik menggabungkan tabir surya, pakaian yang tepat, tempat teduh, pengaturan waktu aktivitas, dan kecukupan cairan.

Rutinitas tersebut tidak perlu menunggu liburan ke pantai atau matahari terasa membakar. Perlindungan yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah menjadi bagian natural dari kehidupan sehari-hari.