Logo

Cara Mengurangi Panas Matahari yang Masuk ke Rumah

Menghalau panas sejak dari jendela sering lebih sederhana daripada mendinginkan ruangan yang telanjur gerah.
Reporter:,Editor:

Minggu, 06 September 2026 12:00 UTC

Cara Mengurangi Panas Matahari yang Masuk ke Rumah

Ilustrasi: Teduh dari Matahari. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Panas matahari yang masuk ke rumah dapat membuat ruangan terasa gerah meski kipas sudah menyala. Jendela yang terkena sinar langsung menjadi salah satu bagian rumah yang perlu mendapat perhatian saat kemarau.

Kondisi ini relevan pada awal September 2026. BMKG menyebut cuaca Indonesia pada 1–6 September masih didominasi kondisi panas dan kering, meski peluang hujan lokal tetap ada di sejumlah wilayah.

Di Jawa Timur, situasinya juga perlu diperhatikan. Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyatakan provinsi ini berada pada puncak musim kemarau periode Agustus–September 2026, dengan cuaca yang cenderung lebih panas dan kering.

Secara nasional, BMKG sebelumnya memprediksi 169 Zona Musim atau 25,41 persen luas daratan Indonesia mengalami puncak kemarau pada September. Mengurangi panas dari matahari pun menjadi langkah sederhana untuk menjaga kenyamanan rumah.

 

Panas Matahari Sebaiknya Ditahan Sejak Jendela

Jendela membawa banyak manfaat. Cahaya alami membuat rumah terang dan mengurangi kebutuhan menyalakan lampu pada siang hari.

Masalah muncul ketika kaca menerima sinar matahari langsung dalam waktu panjang. Energi matahari dapat meningkatkan beban panas di dalam ruangan, terutama pada bagian rumah yang minim peneduh.

Karena itu, WHO menyarankan jendela ditutup dan dilindungi menggunakan tirai, blinds, atau shutters ketika udara di luar lebih panas dibandingkan kondisi dalam rumah. Tujuannya mengurangi masuknya sinar matahari langsung.

Strategi tersebut berbeda dengan menutup rumah sepanjang hari tanpa pertimbangan. Ketika udara luar sudah lebih dingin setelah matahari terbenam, jendela justru dapat dibuka untuk membantu melepaskan panas.

WHO merekomendasikan memanfaatkan udara malam ketika suhu luar lebih rendah daripada suhu di dalam rumah. Kebiasaan sederhana ini membantu rumah membuang panas yang terkumpul selama siang.

 

Tirai Bukan Hanya Pelengkap Dekorasi
Tirai sering dipilih berdasarkan warna dan kesesuaiannya dengan interior. Pada musim panas, fungsinya dapat berkembang menjadi bagian dari pengendalian panas.

WHO memasukkan tirai dan penutup jendela sebagai langkah praktis untuk mengurangi beban panas di dalam rumah. Terutama pada jendela yang mendapatkan paparan matahari langsung.

Warna terang dapat menjadi pilihan praktis karena tidak membuat interior terasa semakin gelap. Namun, efektivitas peneduh juga dipengaruhi material, ketebalan, posisi, ukuran jendela, dan arah datangnya matahari.

Rumah dengan paparan matahari pagi tentu memiliki kebutuhan berbeda dari rumah yang menerima sinar kuat menjelang sore. Karena itu, penghuni sebaiknya mengenali jendela mana yang paling cepat membuat ruangan gerah.

Peneduh dari luar juga bisa dipertimbangkan. Kanopi, kisi-kisi, tanaman, atau elemen arsitektur yang tepat dapat membantu mengurangi paparan sebelum sinar mencapai permukaan kaca.

Tidak semua rumah membutuhkan perubahan besar. Memindahkan tirai tipis ke jendela yang lebih teduh dan memasang penutup lebih rapat pada sisi terpanas sudah menjadi awal yang masuk akal.

 

Suhu Ruangan Penting bagi Kesehatan

Mengurangi panas matahari bukan hanya persoalan mendapatkan ruang keluarga yang terasa nyaman. Suhu tinggi juga memiliki konsekuensi terhadap kesehatan.

WHO menjelaskan cuaca panas dapat memicu heat exhaustion dan heat stroke. Panas juga dapat memperburuk kondisi kardiovaskular, pernapasan, ginjal, dan beberapa masalah kesehatan lainnya.

Perhatian lebih diperlukan untuk kelompok yang lebih rentan. Bayi, lansia, pekerja luar ruang, serta orang dengan penyakit kronis termasuk kelompok yang dapat menghadapi risiko lebih besar ketika suhu meningkat.

WHO memberikan patokan praktis untuk menghadapi periode panas. Ruang hidup idealnya dijaga di bawah 32 derajat Celsius pada siang hari dan sekitar 24 derajat Celsius pada malam hari.

Angka tersebut bukan berarti setiap rumah harus dipaksa mencapai suhu tertentu menggunakan AC. Fokusnya adalah menghindari paparan panas berlebihan, terutama bagi anggota keluarga yang lebih rentan.

Bahkan WHO menyarankan memeriksa suhu ruangan pada beberapa waktu, yakni antara pukul 08.00–10.00, sekitar pukul 13.00, dan setelah pukul 22.00.

Kebiasaan tersebut dapat membantu penghuni mengenali pola panas rumah. Dari sana, penggunaan tirai, ventilasi, kipas, atau AC dapat disesuaikan secara lebih tepat.

 

Rumah Teduh Bisa Mengurangi Kerja Pendingin

Menghalau panas sebelum masuk juga membantu penggunaan pendingin menjadi lebih masuk akal. AC tidak perlu terus bekerja melawan paparan matahari yang sebenarnya dapat dikurangi sejak awal.

WHO menyarankan pengaturan termostat AC sekitar 27 derajat Celsius dan penggunaan kipas untuk membantu sirkulasi. Kombinasi tersebut dapat membuat ruangan terasa sekitar 4 derajat Celsius lebih sejuk.

Menurut WHO, cara tersebut juga berpotensi menghemat hingga 70 persen biaya listrik untuk pendinginan. Besarnya penghematan aktual tentu bergantung pada perangkat, bangunan, iklim, tarif, dan pola pemakaian setiap rumah.

Perangkat elektronik yang tidak diperlukan juga sebaiknya dimatikan. Televisi, komputer, lampu, dan berbagai perangkat listrik menghasilkan panas tambahan selama digunakan.

Prinsipnya cukup sederhana. Semakin sedikit panas yang masuk dan dihasilkan di dalam rumah, semakin ringan pula usaha yang dibutuhkan untuk mempertahankan kenyamanan.

Pendekatan ini juga membuat penghuni tidak hanya bergantung pada satu solusi. Tirai, peneduh, ventilasi malam, kipas, dan AC dapat digunakan sebagai sistem yang saling melengkapi.

 

Kemarau Membuat Rumah Perlu Lebih Adaptif

Musim kemarau 2026 memang membutuhkan perhatian lebih. BMKG memprediksi 451 Zona Musim atau 64,5 persen wilayah ZOM Indonesia mengalami kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya.

Menjelang akhir Agustus, sekitar 80 persen wilayah Indonesia juga telah mengalami musim kemarau. Kondisi kering semakin meluas, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.

Pada periode 4–7 September, BMKG masih memprakirakan kondisi Indonesia secara umum didominasi cerah berawan hingga hujan sedang. Jawa Timur juga termasuk wilayah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang.

Karena kondisi cuaca dapat berubah, pengaturan rumah sebaiknya tidak dilakukan secara kaku. Jendela dapat ditutup ketika panas luar sedang tinggi, tetapi dibuka kembali ketika udara luar lebih nyaman dan kondisinya aman.

Cara mengurangi panas matahari yang masuk ke rumah pada akhirnya tidak membutuhkan perubahan mahal. Mengenali arah matahari, menggunakan tirai secara tepat, dan mengatur waktu membuka jendela sudah memberi perbedaan.

Rumah yang teduh bukan berarti harus gelap sepanjang hari. Tujuannya adalah mendapatkan cahaya alami secukupnya tanpa membiarkan panas matahari membebani ruangan dan tubuh penghuninya.