Logo

Rumah Tetap Sejuk Saat Cuaca Panas Tanpa Boros Listrik

Rumah yang nyaman tidak selalu membutuhkan pendingin bekerja sepanjang hari.
Reporter:,Editor:

Minggu, 06 September 2026 00:00 UTC

Rumah Tetap Sejuk Saat Cuaca Panas Tanpa Boros Listrik

Ilustrasi: Rumah Adem Saat Kemarau. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Rumah tetap sejuk menjadi kebutuhan sederhana ketika cuaca panas bertahan sejak pagi hingga sore. Namun, menyalakan AC terus-menerus bukan satu-satunya cara menciptakan ruang yang nyaman.

Momentum ini terasa relevan pada awal September. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyatakan Agustus–September 2026 merupakan periode puncak musim kemarau di Jawa Timur. Cuaca pada periode tersebut cenderung lebih panas dan kering.

Data terbaru juga menunjukkan kondisi kering cukup nyata. Monitoring BMKG per 31 Agustus mencatat Jawa Timur secara umum telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan berturut-turut, masuk kriteria kekeringan ekstrem.

Untuk periode 1–10 September 2026, curah hujan di Jawa Timur juga diprediksi rendah, kurang dari 50 milimeter, dengan peluang lebih dari 90 persen. Kondisi seperti ini membuat pengaturan suhu rumah semakin penting.

 

Rumah Tetap Sejuk Dimulai dari Menghalau Panas

Salah satu kesalahan sederhana adalah membiarkan sinar matahari masuk langsung sepanjang siang. Kaca jendela memang memberikan pencahayaan alami, tetapi juga dapat membawa panas ke dalam ruangan.

WHO menyarankan jendela ditutup dan diberi tirai atau penutup ketika suhu di luar lebih tinggi dibandingkan suhu dalam ruangan. Langkah ini membantu mengurangi paparan panas langsung pada siang hari.

Cara tersebut sangat berguna untuk jendela yang mendapat sinar matahari kuat. Tirai, kerai, atau peneduh luar dapat menjadi lapisan pertama sebelum panas memenuhi ruangan.

Sebaliknya, jendela dapat dibuka setelah udara luar mulai lebih dingin. Udara malam membantu melepaskan panas yang sebelumnya tersimpan di dalam rumah.

 

Ventilasi Menjadi Bagian Penting dari Kenyamanan

Rumah terasa gerah bukan hanya karena suhu udara di luar. Sirkulasi yang buruk dapat membuat panas bertahan lebih lama di dalam kamar, ruang keluarga, atau dapur.

Pedoman Kementerian Kesehatan tentang penyehatan udara dalam ruang rumah menyebut suhu terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke. Ventilasi juga termasuk faktor yang memengaruhi perubahan suhu di dalam rumah.

Pedoman tersebut memberikan batas praktis yang mudah dipahami. Ketika suhu udara dalam rumah berada di atas 30 derajat Celsius, sirkulasi udara perlu ditingkatkan, termasuk melalui ventilasi mekanis atau buatan.

Karena itu, posisi pintu dan jendela sebaiknya tidak dipandang sebatas elemen desain. Bukaan pada sisi berbeda dapat membantu menciptakan jalur pergerakan udara yang lebih efektif.

 

Kipas dan AC Tidak Harus Saling Menggantikan

Kipas sering dianggap sebagai pilihan ketika rumah tidak menggunakan AC. Padahal, keduanya dapat digunakan secara bersamaan dengan pengaturan yang tepat.

WHO menyarankan pengaturan termostat AC pada sekitar 27 derajat Celsius dan penggunaan kipas listrik secara bersamaan. Kombinasi tersebut dapat membuat ruangan terasa sekitar 4 derajat Celsius lebih sejuk.

Menurut WHO, pendekatan itu juga berpotensi menghemat hingga 70 persen biaya listrik untuk pendinginan dibandingkan penggunaan pendinginan yang lebih intensif. Angka tersebut tentu dapat berbeda sesuai bangunan, perangkat, tarif listrik, serta pola pemakaian.

Pengaturan seperti ini membuat penghuni tidak harus mengejar suhu ruangan yang terlalu rendah. Tujuan utamanya adalah menciptakan kondisi nyaman bagi tubuh dengan energi yang digunakan secara lebih efisien.

Namun, kipas juga memiliki batas. WHO menyebut kipas listrik sebaiknya digunakan ketika suhu masih di bawah 40 derajat Celsius. Pada suhu yang lebih tinggi, kipas justru dapat menambah panas yang diterima tubuh.

 

Peralatan Elektronik Diam-Diam Menambah Panas

Televisi, komputer, lampu, konsol gim, hingga perangkat elektronik lain menghasilkan panas selama digunakan. Satu perangkat mungkin terasa kecil, tetapi beberapa perangkat aktif bersamaan dapat memengaruhi kenyamanan ruangan.

WHO merekomendasikan mematikan sebanyak mungkin perangkat listrik yang tidak diperlukan ketika menghadapi kondisi panas. Kebiasaan ini sekaligus mengurangi konsumsi energi yang tidak memberikan manfaat.

Pemilihan waktu beraktivitas juga dapat membantu. Pekerjaan rumah yang menghasilkan panas tinggi bisa dilakukan ketika udara lebih sejuk apabila memungkinkan.

Memasak dalam waktu panjang, menyetrika, atau menggunakan beberapa perangkat berdaya besar secara bersamaan pada siang terpanas dapat membuat ruangan semakin pengap.

Strateginya bukan berhenti menggunakan peralatan tersebut. Penghuni cukup mengatur waktu pemakaian dan memastikan udara panas memiliki jalur untuk keluar.

 

Kemarau Membuat Kebiasaan Kecil Lebih Berarti

Kondisi Jawa Timur pada September memperlihatkan pentingnya langkah sederhana tersebut. BMKG memprediksi curah hujan bulanan September 2026 di wilayah provinsi ini berkisar 0–87 milimeter, meski jumlahnya berbeda antarwilayah.

Dari 74 Zona Musim di Jawa Timur, BMKG sebelumnya memperkirakan 53 ZOM atau sekitar 71,6 persen mengalami puncak kemarau pada Agustus. Sebanyak 12 ZOM atau 16,2 persen diperkirakan mencapai puncaknya pada September.

Artinya, rasa gerah di rumah tidak harus langsung dijawab dengan menurunkan suhu AC serendah mungkin. Mengendalikan masuknya panas dan memperbaiki aliran udara layak dilakukan terlebih dahulu.

Mulailah dengan menutup tirai ketika matahari kuat, membuka rumah saat udara luar lebih sejuk, dan mematikan perangkat yang tidak digunakan. Kipas kemudian dapat membantu sirkulasi sebelum pendinginan tambahan diperlukan.

Rumah tetap sejuk pada cuaca panas akhirnya lebih banyak berbicara tentang pengelolaan panas daripada sekadar penggunaan AC. Dengan kebiasaan yang tepat, kenyamanan, kesehatan, dan penggunaan energi bisa berjalan beriringan.