Sabtu, 05 September 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Segar Tanpa Berlebihan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Minuman manis saat cuaca panas mudah berubah dari selingan menjadi kebiasaan. Es teh, kopi susu, soda, minuman rasa buah, hingga minuman kekinian terasa semakin menarik ketika matahari sedang terik.
Situasi itu relevan pada September 2026. BMKG Jawa Timur menyatakan provinsi ini sedang berada pada puncak musim kemarau periode Agustus–September, ketika cuaca cenderung lebih panas dan kering.
Kondisi panas tentu membuat kebutuhan menjaga asupan cairan semakin penting. Namun, rasa haus tidak berarti setiap minuman dingin perlu menjadi minuman manis.
Justru di sinilah kebiasaan kecil perlu diperhatikan. Gula dari beberapa gelas minuman dapat terakumulasi sepanjang hari, apalagi ketika makanan yang dikonsumsi juga mengandung gula tambahan.
Minuman Manis Mudah Dikonsumsi Tanpa Terasa
Ada alasan sederhana mengapa minuman manis begitu menarik saat hari panas. Rasa dingin memberikan sensasi menyegarkan, sementara rasa manis membuat minuman lebih mudah dinikmati.
Masalahnya, gula dalam bentuk cair sering kurang terasa sebagai bagian dari konsumsi makanan sehari-hari. Satu gelas saat makan siang kemudian disusul kopi susu sore dan minuman lain pada malam hari.
Kementerian Kesehatan menggunakan batas konsumsi gula 50 gram per orang per hari. Jumlah tersebut setara sekitar empat sendok makan dan mengacu pada 10 persen kebutuhan energi sebesar 2.000 kilokalori.
Angka tersebut bukan berarti setiap orang harus menambahkan empat sendok makan gula ke dalam makanan atau minumannya. Gula yang terdapat pada berbagai makanan dan minuman sepanjang hari tetap perlu diperhitungkan.
WHO menggunakan acuan serupa. Asupan gula bebas dianjurkan kurang dari 10 persen total energi harian. Pada pola makan 2.000 kilokalori, jumlahnya sekitar 50 gram atau 12 sendok teh.
WHO menyebut pengurangan hingga 5 persen atau sekitar 25 gram per hari dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Dingin dan Manis Bukan Berarti Lebih Menghidrasi
Ketika tubuh terasa gerah, minuman dengan banyak es memang memberikan sensasi dingin dengan cepat. Namun, sensasi tersebut sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan saat memilih minuman.
Air putih tetap menjadi pilihan sederhana untuk memenuhi kebutuhan cairan tanpa menambahkan gula ke dalam pola makan. Minuman manis lebih tepat dipandang sebagai bagian konsumsi makanan, bukan satu-satunya sumber cairan.
Perbedaannya menjadi penting ketika seseorang membeli minuman beberapa kali sehari. Tambahan gula yang tampak kecil pada setiap gelas dapat menumpuk.
WHO memasukkan gula yang ditambahkan produsen, juru masak, maupun konsumen sebagai gula bebas. Gula alami dalam madu, sirup, jus buah dan konsentrat jus juga masuk dalam kelompok tersebut.
Karena itu, label seperti madu, rasa buah, atau jus tidak otomatis membuat sebuah minuman bebas dari perhatian terhadap gula.
Jus buah juga tidak selalu setara dengan buah utuh. WHO menyebut gula yang secara alami terdapat dalam jus buah termasuk gula bebas yang perlu diperhitungkan dalam konsumsi sehari-hari.
Kebiasaan Minum Manis Punya Dampak Jangka Panjang
Membatasi gula bukan sekadar urusan menghitung kalori. Konsumsi gula bebas yang berlebihan berkaitan dengan sejumlah persoalan kesehatan yang berkembang dalam jangka panjang.
WHO menyebut konsumsi gula bebas merupakan faktor risiko paling umum untuk karies gigi. Secara global, karies gigi diperkirakan memengaruhi sekitar 2,5 miliar orang dan menjadi penyakit tidak menular yang paling umum.
Asupan gula bebas yang tinggi juga dapat meningkatkan kepadatan energi dalam pola makan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan yang tidak sehat.
Persoalannya, satu gelas minuman manis tidak bekerja sendirian. Kebiasaan makan dan minum sepanjang hari yang akhirnya menentukan jumlah energi dan gula yang masuk.
Itulah sebabnya pendekatan moderasi lebih masuk akal dibandingkan larangan total. Seseorang masih dapat menikmati es teh manis atau kopi susu, tetapi tidak harus menjadikannya minuman setiap kali merasa haus.
Perubahan kecil bahkan bisa dimulai dari tingkat kemanisan. Memesan gula lebih sedikit, menghindari tambahan sirup, atau tidak selalu memilih topping manis dapat membantu menekan akumulasi gula.
Cuaca Panas Membuat Pilihan Minuman Makin Penting
Perhatian terhadap kebiasaan minum terasa semakin relevan melihat kondisi Jawa Timur pada September tahun ini. Prediksi BMKG membagi Jawa Timur menjadi 74 Zona Musim. Sebanyak 53 ZOM atau 71,6 persen diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus, sedangkan 12 ZOM atau 16,2 persen mencapai puncaknya pada September.
BMKG Jawa Timur juga menyebut cuaca selama puncak kemarau Agustus–September cenderung lebih panas dan kering. Masyarakat diimbau menggunakan air secara hemat dan bijak karena ketersediaannya perlu dijaga.
Meski demikian, kondisi setiap daerah tidak identik. Prediksi indeks kekeringan meteorologis periode Juli–September menunjukkan 99,7 persen wilayah Jawa Timur berada pada kategori normal berdasarkan metode SPI, sementara kategori agak kering sebesar 0,1 persen.
Data tersebut penting agar musim kemarau tidak selalu digambarkan secara berlebihan. Cuaca yang terasa panas dan puncak musim kemarau tidak otomatis berarti seluruh Jawa Timur mengalami kekeringan meteorologis berat.
Bagi masyarakat, pesan praktisnya tetap sederhana. Saat aktivitas meningkat dan udara terasa terik, membawa air minum sendiri dapat mengurangi kebiasaan membeli minuman manis setiap kali haus.
Tetap Bisa Menikmati Minuman Favorit
Mengurangi minuman manis tidak harus berarti meninggalkan semua minuman favorit. Pendekatan yang terlalu ketat justru sering sulit dipertahankan.
Mulailah dari frekuensi. Jika biasanya membeli tiga minuman manis dalam sehari, salah satunya dapat diganti dengan air putih.
Pilihan berikutnya adalah ukuran. Gelas yang lebih kecil memberikan kesempatan menikmati rasa tanpa otomatis mengambil porsi terbesar yang tersedia.
Tingkat kemanisan juga bisa disesuaikan. Banyak kedai saat ini menyediakan pilihan gula normal, lebih sedikit, atau tanpa tambahan gula. Memilih tingkat yang lebih rendah dapat menjadi kebiasaan sederhana.
Perlu diingat pula bahwa mengganti gula dengan pemanis non-gula bukan satu-satunya strategi. Dalam pedoman diet sehat terbarunya pada 2026, WHO mendorong pengurangan konsumsi gula bebas tanpa mengandalkan pemanis non-gula sebagai jalan utama.
Alternatif paling sederhana tetap tersedia di sekitar kita. Air putih dingin, air mineral, atau minuman tanpa tambahan gula dapat menemani aktivitas ketika udara panas.
Buah utuh juga bisa menjadi pilihan saat keinginan terhadap rasa manis muncul. WHO merekomendasikan sedikitnya 400 gram buah dan sayuran setiap hari untuk orang berusia di atas 10 tahun.
Pada akhirnya, minuman manis saat cuaca panas tidak perlu diposisikan sebagai sesuatu yang sepenuhnya dilarang. Yang lebih penting adalah mengetahui kapan kita benar-benar haus dan kapan sekadar menginginkan rasa manis.
Cuaca terik mungkin membuat segelas minuman dingin terasa istimewa. Namun, membiasakan air putih sebagai pilihan utama dan menikmati minuman manis secara terukur membuat kesegaran sesaat tidak berubah menjadi kelebihan gula setiap hari.
