Sabtu, 05 September 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Buah Segar Pilihan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Buah segar terasa semakin menarik ketika hari sedang panas. Rasa manis, tekstur berair, dan kemudahan menyantapnya membuat buah cocok menemani aktivitas selama musim kemarau.
Konteksnya cukup relevan pada September 2026. BMKG Jawa Timur menyatakan provinsi ini sedang berada pada puncak musim kemarau periode Agustus–September, dengan cuaca yang cenderung lebih panas dan kering.
Kondisi tersebut bukan berarti buah dapat menggantikan kebutuhan air putih. Namun, buah segar dapat menjadi bagian pola makan seimbang sekaligus alternatif camilan yang praktis saat udara terasa terik.
Buah Segar Bukan Sekadar Pelepas Dahaga
Semangka mungkin menjadi salah satu pilihan pertama ketika udara panas. Namun, pilihan sebenarnya jauh lebih luas. Pepaya, melon, jeruk, jambu biji, nanas hingga buah naga bisa bergantian masuk ke menu harian.
Kementerian Kesehatan menjelaskan buah merupakan sumber vitamin, mineral, serat dan antioksidan. Warna buah yang berbeda juga mencerminkan keragaman kandungan zat gizi, sehingga variasi lebih baik daripada terus mengandalkan satu jenis.
Untuk remaja dan orang dewasa, Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi sayur dan buah sekitar 400–600 gram per orang setiap hari. Sekitar dua pertiga dari jumlah tersebut dianjurkan berasal dari sayuran.
Rekomendasi global juga memberikan gambaran serupa. WHO menganjurkan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi sedikitnya 400 gram buah dan sayuran setiap hari. Jumlah itu kurang lebih setara lima porsi.
Pilih Buah Utuh daripada Sekadar Jus
Saat siang terasa menyengat, jus dingin memang mudah menggoda. Apalagi berbagai kedai menawarkan campuran buah dengan susu, sirup, gula, krimer, atau topping manis.
Masalahnya, buah yang berubah menjadi minuman belum tentu memiliki profil yang sama dengan buah utuh. WHO mencatat banyak jus buah, termasuk tanpa tambahan gula, tetap mengandung gula bebas dalam jumlah berarti sehingga konsumsinya perlu dibatasi.
WHO merekomendasikan gula bebas tidak melebihi 10 persen dari total energi harian. Pada pola makan 2.000 kilokalori, jumlah itu sekitar 50 gram atau 12 sendok teh. Batas ideal yang lebih rendah adalah 5 persen atau sekitar 25 gram.
Buah potong tanpa tambahan sirup menjadi pilihan sederhana. Selain mudah mengontrol porsinya, tekstur asli buah tetap dipertahankan dan aktivitas mengunyah membuat pengalaman makan berbeda dari meneguk minuman.
Ini bukan berarti jus harus dihindari sepenuhnya. Yang perlu diperhatikan justru frekuensi, porsi, serta tambahan gula yang sering tidak terasa karena minuman disajikan dingin.
Warna Berbeda Membuat Menu Tidak Membosankan
Makan buah setiap hari terkadang gagal bukan karena sulit mendapatkannya. Rasa bosan karena membeli buah yang sama terus-menerus juga bisa menjadi penyebab.
Cara sederhana mengatasinya adalah menggunakan warna sebagai panduan variasi. Hari ini bisa memilih semangka dan pepaya, kemudian berganti jambu, jeruk, melon, nanas atau buah naga pada hari berikutnya.
Kementerian Kesehatan mencatat buah berwarna kuning, merah, jingga, biru, ungu dan warna lainnya memiliki kandungan vitamin dan antioksidan yang beragam. Karena itu, variasi buah memberikan pilihan zat gizi yang lebih luas.
Buah juga tidak harus selalu menjadi pencuci mulut setelah makan besar. Potongan buah dapat dijadikan camilan pagi, teman jeda sore, atau bagian dari sarapan.
Kebiasaan ini sekaligus membantu memenuhi kebutuhan serat. WHO menganjurkan orang berusia lebih dari 10 tahun mendapatkan sedikitnya 25 gram serat alami setiap hari dari makanan. Buah, sayuran, biji-bijian utuh dan kacang-kacangan termasuk sumbernya.
Musim Kemarau Membuat Kebiasaan Ini Makin Relevan
Perhatian terhadap makanan segar semakin masuk akal melihat kondisi kemarau tahun ini. BMKG memprediksi musim kemarau 2026 lebih kering dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Sebanyak 451 Zona Musim atau 64,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat musim kemarau bawah normal. Artinya, akumulasi curah hujannya diperkirakan lebih rendah daripada kondisi klimatologis yang biasa terjadi.
Pada pemutakhiran Juni, BMKG juga memperkirakan puncak kemarau nasional berlangsung sepanjang Juli hingga September. Sebanyak 169 Zona Musim, mencakup sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia, diproyeksikan mencapai puncak kemarau pada September.
Di Jawa Timur, gambarannya lebih spesifik. Dari 74 Zona Musim, 53 ZOM atau 71,6 persen diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus. Sebanyak 12 ZOM atau 16,2 persen mencapai puncaknya pada September.
Buah segar tentu bukan solusi tunggal menghadapi kondisi panas dan kering. Kebutuhan cairan tetap perlu dipenuhi, sementara pola makan secara keseluruhan harus tetap beragam dan seimbang.
Kebiasaan Kecil yang Mudah Dipertahankan
Meningkatkan konsumsi buah tidak harus dimulai dengan target yang rumit. Membeli dua atau tiga jenis buah untuk beberapa hari sering kali lebih realistis daripada memenuhi kulkas sekaligus.
Buah yang mudah rusak dapat dikonsumsi lebih dahulu. Sementara jenis yang lebih tahan bisa disimpan untuk hari berikutnya. Cara sederhana tersebut juga membantu mengurangi makanan yang akhirnya terbuang.
Perhatikan pula cara penyajiannya. Menambahkan banyak gula, susu kental manis, sirup atau saus manis pada buah dapat mengubah camilan sederhana menjadi sumber gula tambahan.
Pilihan buah juga tidak perlu mengejar label mahal atau tren tertentu. Buah lokal yang matang, segar, mudah diperoleh dan disukai keluarga sudah cukup untuk membangun kebiasaan.
Di tengah musim kemarau, buah segar menawarkan sesuatu yang sederhana: makanan praktis dengan rasa menyenangkan serta beragam zat gizi. Buah juga mudah disesuaikan dengan pola makan masyarakat Indonesia.
Yang terpenting bukan mencari buah paling sempurna untuk menghadapi panas. Membiasakan buah segar hadir secara rutin, bergantian, dan dalam porsi wajar justru lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
