Logo

26 Tahun Berkelana, Syekh Yusuf Al-Makassari Wariskan 30 Karya Lintas Generasi

Juga diangkat sebagai panglima perang melawan VOC
Reporter:,Editor:

Kamis, 17 September 2026 04:00 UTC

26 Tahun Berkelana, Syekh Yusuf Al-Makassari Wariskan 30 Karya Lintas Generasi

Pengasuh Pondok Pesantren Canga'an Bangil, Pasuruan, Akhmad Kholily Kholil (baju putih) dan Filolog Unusia A. Ginanjar Sya'ban (baju batik) dalam Temu Narasi bertajuk Mengenang 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di BPJ Jatim, Trowulan. Foto: Karina.

JATIMNET.COM, Mojokerto - Nama Syekh Yusuf Al-Makassari tak hanya dikenal dalam sejarah Islam Nusantara. Ulama asal Gowa, Sulawesi Selatan, itu juga tercatat sebagai pengelana yang menimba ilmu ke berbagai penjuru dunia.

Dalam pengembaraannya, ia juga dikenal sebagai penulis puluhan kitab sekaligus tokoh perlawanan terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Kisah perjalanan dan warisan intelektualnya dibahas dalam Temu Narasi bertajuk Mengenang 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di Ruang Majapahit, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur, Trowulan, Mojokerto, Rabu, 16 September 2026.

Kegiatan yang digelar Direktorat Promosi Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan itu menjadi bagian dari rangkaian agenda UNESCO Anniversary 2026 untuk mengenalkan kembali sosok Syekh Yusuf kepada masyarakat.

Pengasuh Pondok Pesantren Canga'an Bangil, Pasuruan, Akhmad Kholily Kholil mengatakan bahwa Syekh Yusuf merupakan sosok ulama yang memiliki pengalaman lintas wilayah dan tradisi keilmuan.

"Kalau di era sekarang, Syekh Yusuf itu bisa dibilang traveler," kata Kholily saat membuka diskusi.

Syekh Yusuf tercatat menghabiskan sekitar 26 tahun untuk berkelana dari Makassar ke sejumlah wilayah Nusantara. Namun, juga ke Sri Lanka, India, Yaman, Makkah, Suriah hingga Pakistan.

Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat. Di setiap wilayah yang disinggahinya, Syekh Yusuf berguru kepada para ulama dan mursyid untuk memperdalam ilmu keislaman.

Menurut Kholily, pengalaman spiritual dan keilmuan itu kemudian tercermin dalam karya-karya Syekh Yusuf. Salah satu karakter kuat pemikirannya adalah ajakan untuk mengesakan Allah serta melihat berbagai peristiwa kehidupan dalam kerangka ketuhanan.

"Jika engkau sadar, semua yang terjadi di atas dunia ini adalah kehendak Allah. Semua akan terasa manis," ujar Kholily mengutip salah satu pemikiran Syekh Yusuf.

Sepanjang hidupnya, Syekh Yusuf disebut meninggalkan sekitar 30 karya kitab. Ia juga tercatat menjadi mursyid dari 34 tarekat. Kiprah Syekh Yusuf tidak berhenti pada bidang keagamaan dan intelektual.

Filolog Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), A. Ginanjar Sya'ban, mengatakan Syekh Yusuf kembali ke kawasan Nusantara sekitar tahun 1670. Lokasi yang dipijak pertama setelah pengembaraannya adalah Banten.

Di sana, Syekh Yusuf terlibat dalam perjuangan Kesultanan Banten menghadapi VOC dan dipercaya sebagai panglima perang.

"Di Banten, ia diangkat menjadi panglima perang untuk melawan VOC sebelum akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka," kata Ginanjar.

Hidup di pengasingan tak menghapus pengaruh Syekh Yusuf. Di Sri Lanka, ajaran dan sosoknya justru tetap dikenal dan mendapatkan pengikut.

Selama sekitar 10 tahun berada dalam pengasingan, Syekh Yusuf juga masih menghasilkan karya. Setidaknya lima karya disebut lahir dalam periode tersebut.

Ginanjar menilai warisan Syekh Yusuf perlu dikenalkan dengan cara yang lebih dekat dengan generasi saat ini.

Menurutnya, kajian mengenai Syekh Yusuf selama ini memang terus berkembang di lingkungan akademik, tetapi belum seluruhnya diterjemahkan menjadi bahan literasi populer. "Perlu strategi komunikasi publik yang menyesuaikan dengan tren zaman," ujarnya.

Ia menyebut sejumlah media kreatif yang dapat digunakan untuk memperkenalkan sosok Syekh Yusuf kepada masyarakat. Mulai dari film dokumenter, video pendek, infografis, komik, hingga melibatkan kreator konten sebagai jembatan informasi.

Hingga kini, kajian mengenai Syekh Yusuf dalam bentuk tesis, disertasi, maupun jurnal ilmiah terus bertambah.

Namun, penerjemahan karya-karyanya secara utuh ke dalam bahasa Indonesia dan penyajian dalam format populer dinilai masih membutuhkan kolaborasi lebih luas.

Momentum 400 tahun Syekh Yusuf diharapkan dapat menjadi titik penguatan riset sekaligus literasi mengenai warisan ulama Nusantara yang memiliki pengaruh hingga mancanegara.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Sri Sugiharta, mengatakan Temu Narasi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari digelar di enam lokasi di Indonesia.

"Tujuannya untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat luas mengenai peranan ulama Nusantara yang memiliki pengaruh global, termasuk warisan dan kontribusinya terhadap perkembangan Islam di Indonesia dan dunia," kata Sri.