Sabtu, 24 October 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Menjelajah Desa, Membaca Indonesia. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Wisata desa semakin menarik karena menawarkan sesuatu yang mulai sulit ditemukan di kota besar: pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sawah, kebun, makanan rumahan, kerajinan, tradisi, hingga percakapan dengan warga menjadi bagian dari perjalanan.
Perkembangan desa wisata di Indonesia juga bukan lagi fenomena kecil. Kementerian Pariwisata mencatat ribuan desa wisata telah masuk dalam jejaring nasional melalui platform Jejaring Desa Wisata atau Jadesta.
Hingga 2026, jumlahnya telah melampaui 6.100 desa wisata yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Angka tersebut memperlihatkan perubahan penting. Desa tidak hanya dipandang sebagai tempat yang dilewati menuju destinasi wisata. Desa perlahan menjadi destinasi itu sendiri.
Wisatawan Indonesia Makin Suka Bepergian
Pasar terbesar pariwisata Indonesia sebenarnya berasal dari masyarakat Indonesia sendiri. Badan Pusat Statistik mencatat perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,20 miliar perjalanan. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 1,02 miliar perjalanan pada 2024.
Besarnya pergerakan wisatawan domestik membuka peluang bagi destinasi yang sebelumnya tidak masuk dalam jalur wisata utama.
Orang tidak selalu membutuhkan perjalanan panjang dengan pesawat atau menginap di hotel berbintang. Perjalanan satu atau dua jam dari kota tempat tinggal juga dapat menjadi pengalaman wisata.
Perubahan pola tersebut memberi peluang besar kepada desa-desa yang memiliki lanskap menarik, makanan khas, kerajinan, pertanian, budaya, atau kehidupan masyarakat yang unik. Apalagi media sosial membuat tempat kecil dapat dikenal jauh lebih cepat dibandingkan satu dekade lalu.
Sebuah desa yang sebelumnya hanya dikenal masyarakat sekitar bisa mendadak ramai setelah pemandangan sawah, air terjun, kebun, kuliner, atau tradisinya tersebar melalui video pendek.
Jawa Timur Punya Modal Besar
Jawa Timur berada pada posisi menarik dalam perkembangan wisata domestik. Provinsi ini memiliki kombinasi bentang alam dan budaya yang sangat beragam. Ada kawasan pegunungan, pesisir, perkebunan, pertanian, hutan, desa adat, sentra kerajinan, hingga kampung-kampung dengan tradisi kuliner yang kuat.
Data BPS juga menunjukkan Jawa Timur konsisten menjadi salah satu pusat perjalanan wisatawan nusantara terbesar di Indonesia. Kekuatan tersebut membuat wisata desa memiliki pasar yang luas. Warga Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik, Kediri, Madiun, Jember, maupun kota lain tidak selalu harus melakukan perjalanan jauh untuk menemukan pengalaman baru.
Kabupaten Malang misalnya memiliki desa-desa dengan basis pertanian dan pegunungan. Banyuwangi mempunyai kekuatan budaya serta bentang alam. Pacitan memiliki kawasan perdesaan yang dekat dengan pantai dan bentang karst.
Daerah seperti Trenggalek, Lumajang, Blitar, Ponorogo, Bondowoso, hingga Magetan juga mempunyai karakter yang berbeda. Inilah keunggulan wisata desa: setiap tempat tidak perlu menjadi seragam.
Jangan Semua Desa Dibuat “Instagramable”
Ada satu godaan besar ketika sebuah desa mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata. Pengelola sering merasa harus membuat sebanyak mungkin spot foto.
Payung warna-warni dipasang. Tulisan raksasa dibuat. Ornamen buatan ditempatkan di berbagai sudut. Lanskap alami akhirnya kalah oleh dekorasi yang sebenarnya dapat ditemukan di banyak tempat lain.
Padahal, kekuatan utama wisata desa justru terletak pada keasliannya. Jika sebuah desa dikenal sebagai penghasil kopi, pengalaman wisata dapat dibangun dari kebun hingga proses menyeduh.
Jika masyarakatnya menghasilkan kerajinan bambu, wisatawan dapat diajak mengenal bahan, proses pembuatan, hingga mencoba membuat produk.
Desa pertanian dapat menawarkan pengalaman menanam, memanen, mengenal irigasi, atau menikmati makanan dari hasil kebun. Desa nelayan memiliki cerita berbeda lagi.
Dengan pendekatan seperti ini, wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto selama 20 menit kemudian pulang. Mereka mempunyai alasan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uang pada lebih banyak kegiatan lokal.
Uang Wisata Sebaiknya Berputar di Desa
Pariwisata menjadi lebih berarti ketika manfaat ekonominya menyebar. Wisatawan yang datang dapat membeli makanan di warung warga, menyewa pemandu lokal, menginap di homestay, membeli kerajinan, menggunakan transportasi setempat, atau mengikuti aktivitas yang dikelola masyarakat.
Semakin panjang rantai pengeluaran tersebut berada di desa, semakin besar peluang pariwisata memberikan manfaat langsung kepada warga. Karena itu, ukuran keberhasilan desa wisata seharusnya tidak berhenti pada jumlah pengunjung.
Desa dengan 500 wisatawan yang membelanjakan uang pada homestay, kuliner, pemandu, produk UMKM, dan aktivitas lokal bisa memberikan dampak ekonomi berbeda dibandingkan ribuan pengunjung yang hanya datang, berfoto, lalu pergi.
Pengelolaan juga harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Sampah, penggunaan air, kemacetan, perubahan lahan, hingga gangguan terhadap kehidupan warga dapat muncul ketika kunjungan meningkat tanpa perencanaan.
Wisata yang berkembang terlalu cepat bahkan dapat menghilangkan hal yang awalnya membuat desa tersebut menarik.
Anak Muda Bisa Menjadi Penjelajah yang Berbeda
Wisata desa juga memiliki nilai pendidikan yang sering terlewat. Bagi pelajar dan mahasiswa, perjalanan dapat menjadi ruang belajar langsung.
Mereka bisa melihat bagaimana petani bekerja, bagaimana UMKM mengolah produk, bagaimana masyarakat menjaga tradisi, hingga bagaimana persoalan lingkungan dihadapi di tingkat lokal.
Perjalanan seperti ini berbeda dari sekadar study tour dengan jadwal berpindah dari satu objek ke objek lain. Anak muda dapat melakukan observasi, berbicara dengan warga, mencatat persoalan, membuat dokumentasi, bahkan mengembangkan proyek kecil bersama masyarakat.
Teknologi kemudian digunakan setelah pengalaman nyata diperoleh. Mereka dapat membuat cerita digital mengenai desa, memetakan potensi wisata, membantu promosi produk lokal, membuat katalog UMKM, atau mendokumentasikan pengetahuan masyarakat yang mulai jarang dikenal generasi berikutnya.
Perjalanan akhirnya bukan hanya konsumsi pengalaman. Ia menjadi proses memahami tempat.
Indonesia mempunyai lebih dari 6.100 desa wisata dalam jejaring Jadesta dan pasar wisata domestik yang telah menembus sekitar 1,20 miliar perjalanan dalam setahun. Potensinya jelas sangat besar.
Namun, masa depan wisata desa tidak ditentukan oleh seberapa banyak dekorasi yang bisa dipasang. Kekuatan sebenarnya berada pada sesuatu yang sudah dimiliki desa sejak awal: alam, budaya, makanan, pekerjaan, pengetahuan lokal, dan manusianya.
Wisata desa naik kelas ketika wisatawan tidak hanya menemukan tempat yang indah, tetapi pulang dengan pemahaman baru tentang kehidupan di sana.
