Sabtu, 20 June 2026 06:36 UTC

(kiri ke kanan) Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal dan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. K.H. Romo H.R. Muhammad Syafi'i, S.H., M.Hum. Foto: Satria
JATIMNET.COM, Ponorogo – Pondok Modern Darussalam (PMD) Gontor terus menggelar berbagai agenda nasional dalam rangka memperingati satu abad perjalanan lembaga tersebut. Salah satu kegiatan yang digelar ialah Sarasehan Nasional Kiai Pesantren Ashriyah, Muballigh Alumni Gontor, serta FORBIS National Economic Summit and Expo 2026 di kompleks PMD Gontor, Kabupaten Ponorogo, Sabtu, 20 Juni 2026.
Sejumlah tokoh nasional hadir sebagai narasumber dalam forum tersebut. Di antaranya Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. K.H. Romo H.R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum dan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Agama menilai Gontor telah berkembang menjadi salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia yang kiprahnya juga dikenal hingga tingkat internasional. Menurutnya, nama Gontor kerap menjadi rujukan ketika masyarakat luar negeri membicarakan dunia pesantren di Indonesia.
“Gontor adalah salah satu pesantren legend di Indonesia. Saya bertemu teman-teman di luar negeri berbicara pesantren, jawabannya Gontor. Basecamp saya di Medan, setiap mendirikan pondok, banyak yang diasuh oleh alumni Gontor,” kata Romo.
Ia menyebut perjalanan Gontor selama hampir satu abad telah membuktikan perannya sebagai lembaga yang dipercaya masyarakat dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat. Keberadaan Gontor, menurutnya, turut menjadi bagian penting dalam perkembangan bangsa Indonesia.
BACA: UAS Sebut Gontor Berhasil Cetak Generasi Berilmu dan Berakhlak
Romo menjelaskan berbagai program yang dijalankan Gontor saat ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Selain menjadi lembaga pendidikan, pesantren juga berfungsi sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan masyarakat yang melahirkan sumber daya manusia berkualitas di berbagai bidang.
“Ke depan kita berharap Gontor bisa membangun peradaban Indonesia dan dunia. Saya yakin Gontor mampu menciptakan itu,” tuturnya.
Ia menambahkan, kekuatan utama Gontor terletak pada pola pendidikan dan pembinaan para kiai yang mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan secara sederhana, mudah dipahami, dan dapat diterapkan langsung oleh para santri maupun masyarakat luas.
Menjelang usia 100 tahun, Romo menilai tantangan terbesar yang dihadapi Gontor adalah menjaga capaian yang telah diraih sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman yang semakin dinamis.
“Gontor tidak lagi hanya untuk Indonesia, tetapi harus mendunia. Saya melihat fondasi ke arah itu sudah dirintis dengan baik. Gontor siap menata diri untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia maupun dunia,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid yang merupakan alumni Gontor angkatan 1978 mengapresiasi perkembangan pesantren yang terus tumbuh dan mampu menjawab tantangan di berbagai era.
BACA: Pondok Modern Darussalam Gontor Berlebaran Besok
Menurut Hidayat, usia satu abad menjadi bukti keberhasilan Gontor dalam menjaga eksistensi sekaligus mengembangkan berbagai potensi melalui penguatan kurikulum, jaringan alumni, serta kolaborasi dengan berbagai kalangan.
“Saya alumni Gontor tahun 1978, sekarang menjadi Wakil Ketua MPR RI. Sebagai alumni yang berada di lembaga negara tentu kami sangat mengapresiasi Gontor yang terus tumbuh, terus menjawab tantangan dan mengisi peluang,” ungkapnya.
Ia menilai nilai-nilai yang ditanamkan Gontor telah melahirkan kontribusi besar di tengah masyarakat melalui para alumni yang berkiprah sebagai mubaligh, akademisi, pengusaha, maupun penggerak organisasi sosial kemasyarakatan.
Hidayat juga menyoroti perkembangan lembaga pendidikan di bawah naungan Gontor yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Jika dahulu hanya berawal dari satu pesantren, kini almamaternya itu telah berkembang menjadi jaringan pesantren modern yang didukung sejumlah perguruan tinggi.
“Sekarang juga ada tujuh universitas. Ini menjadi bukti bahwa Indonesia mempunyai peluang besar untuk ikut mengisi peradaban dunia melalui peran pesantren,” ujar Hidayat.
