Selasa, 10 July 2018 11:10 UTC

Kuliner Pilkachu, hasil karya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya.
JATIMNET.COM – Perhatian terhadap anak autis dan hiperakif (ADHD) di Jawa Timur masih rendah. Fakta itu membuat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) prihatin, mereka memutuskan untuk ciptakan kuliner Pikachu atau Pizza Kacang Ijo Unik.
Makanan khas Eropa berbahan kacang ijo ini masih sangat jarang ditemukan. Untuk itu, mahasiswa UMS ini sengaja membuat inovasi makanan ini dengan tujuan menambah gizi para penyandang autis dan hiperaktif. Sebab, anak autis dan ADHD memiliki beberapa pantangan dalam makanan yang dikonsumsi.

Diantaranya, tidak boleh mengandung gluten dan kasein. “Inovasi makanan ini sangat aman untuk anak berkebutuhan khusus (ABK),” kata Ika Ramadhani, salah satu mahasiswa penggagas Pikachu, Selasa, 10 Juli 2018.
Ika menuturkan, pembuatan makanan ini diprakarsai tiga orang mahasiswa jurusan Keperawatan, Pikachu diyakini memiliki nutrisi yang tepat dan seimbang untuk menunjang kegiatan dan penyembuhan diri ABK. “Karena dalam pembuatan Pikachu ini, kami tidak menggunakan tepung yang mengandung gluten dan kasein,” ujarnya.
Untuk tepungnya sendiri lanjut dia, bahan baku pikachu berasal dari tepung kacang hijau dan tepung kentang. Bahan baku ini tidak memiliki kandungan gluten dan kasein, sehingga tergolong aman untuk dikonsumsi anak autis dan ADHD.
Dalam pembuatannya mereka juga menggunakan garam khusus yaitu garam himalaya, garam tersebut tidak terlalu asin. “Selain tidak dapat mengkonsumsi makanan yang mengadung gluten dan kasein mereka juga tidak dapat mengkonsumsi makanan yang terlalu asin,” terang Ika.
Saat ini, Pikachu ini telah mendapatkan respon yang baik bagi orang tua yang memiliki anak autis dan ADHD. Mereka senang dan cocok terhadap makanan ini, karena banyak makanan yang tidak cocok bagi anak autis dan berdampak terhadap kekebalan tubuh anak itu sendiri. “Jika Pikachu ini tidak cocok bagi anak autis mereka akan terkena diare dan anak menjadi hiperaktif,” ucapnya.
Editor : Arif Ardliyanto
