Logo

Ulama Madura Tegaskan Komitmen Lawan Narkoba di Pesantren

Reporter:,Editor:

Kamis, 16 April 2026 02:00 UTC

Ulama Madura Tegaskan Komitmen Lawan Narkoba di Pesantren

Sejumlah kiai dan ulama yang tergabung dalam AUMA saat mendatangi kantor DPP PKS Jl. TB Simatupang No. 82, Jakarta Selatan. Foto: AUMA for Jatimnet.

JATIMNET.COM, Sampang – Peredaran narkoba di lingkungan pondok pesantren perlu diwaspadai semua pihak. Terutama oleh para kiai dan ulama yang memiliki peran penting dalam menjaga lembaga pendidikan itu tetap bersih dari penyalahgunaan narkoba.

Hal itu disampaikan KH Mahrus Abdul Malik, pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan Jrangoan Sampang. "Pesantren harus benar-benar dijaga. Kami memohon kepada para kiai untuk turut menjaga perjuangan ini," katanya, Kamis, 16 April 2026.

Pernyataan Mahrus ini merupakan tindak lanjut dari semangat Habib Aboe Bakar Alhabsyi, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS yang turut dalam pemberantasan narkoba.

Oleh karena itu, ia mengajak kiai dan ulama yang tergabung dalam Aliansi Ulama Madura (AUMA) dan Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) mendukung komitmen dari legislator Senayan tersebut.

“Saya pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan Jrangoan mengharapkan bantuan para kiai, khususnya AUMA dan BASSRA untuk mendukung Habib Aboe Bakar Alhabsyi (yang turut memberantas narkoba di lingkugan pesantren),” jelas Mahrus.

Sebelumnya, Aboe Bakar sempat menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum di lingkungan pesantren dan ulama di Madura dalam jaringan narkoba.

Pernyataan itu disampaikannya dalam rapat kerja Komisi III DPR RI bersama Badan Narkotika Nasional dan Bareskrim Polri di Madura pada 7 April 2026.

Pernyataan itu akhirnya ramai diperbincangkan dan menyinggung ulama dan kiai. Kemudian, Aboe Bakar buru-buru menyampaikan permohonan maaf atas pernyatannya tersebut.

"Saya menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya. Pernyataan saya sebelumnya terlalu umum dan tidak tepat," ujar Habib Aboe Bakar dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 16 April 2026.

Ia juga meminta maaf kepada para habaib, ulama, dan kiai di seluruh wilayah Madura, termasuk Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, serta masyarakat luas yang merasa tersinggung.

Politikus PKS itu menegaskan tidak memiliki niat untuk mendiskreditkan pesantren maupun ulama. "Saya sangat menghormati para ulama. Mereka adalah guru-guru yang saya cintai dan hormati," katanya.

Lebih lanjut Habib Aboe Bakar menjelaskan bahwa pernyataannya semata-mata dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap meluasnya peredaran narkotika. Dengan demikian, ia mengajak semua pihak, termasuk pesantren untuk meningkatkan kewaspadaan.

Namun, ia mengakui cara penyampaian yang kurang tepat telah menimbulkan multitafsir di tengah masyarakat.

"Sebagai bentuk tanggung jawab, saya berkomitmen untuk menemui langsung para tokoh masyarakat yang merasa keberatan atas pernyataannya tersebut," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan terkait pernyataannya mengenai data sebaran narkotika di lembaga pemasyarakatan.