Minggu, 22 March 2026 09:00 UTC

Pengendera sepeda motor saat melintasi jalan yang tergenangi banjir untuk menjalankan tradisi unjung-unjung di Dusun Gembongan, Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Minggu, 22 Maret 2026. Foto: Hasan
JATIMNET.COM, Mojokerto – Di tengah banjir, warga Dusun Gembongan, Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto tetap melaksanakan unjung-unjung pada hari kedua Lebaran, Minggu, 22 Maret 2026.
Mereka tetap berkunjung ke rumah orang tua, keluarga, kerabat maupun tetangga meski harus melintasi jalan yang tergenang banjir.
Meski air bah merendam di sejumlah titik, suasana Lebaran tetap terasa hangat dalam silaturahmi yang berlangsung.
Kondisi ini berlangsung sejak malam takbir, Jumat malam, 20 Maret 2026. Air masuk ke permukiman dan beberapa akses jalan tidak bisa dilalui kendaraan. Mobilitas warga dan para tamu terhambat.
Haris Aprianto, salah satu wargal Desa Mojosulur yang melaksanakan unjung-unjung di Dusun Gembongan, Desa Jotangan terpaksa memarkir kendaraannya di kawasan terdampak. Kemudian, untuk menuju ke rumah yang dituju, dilanjutkannya dengan berjalan kaki.
“Biasanya kan bisa masuk kendaraan, tapi karena terkendala banjir. Jadi, motornya parkir di depan,” ujarnya.
BACA: Permukiman Tergenang Banjir, Sebagian Warga Mojokerto Berlebaran di Pengungsian
Ia bersama keluarga tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah kerabat dengan berjalan kaki dari ujung kampung. “Jadi harus jalan kaki sekitar 100 meter, tapi gak terganggu,” imbuhnya.
Meskipun dihadapkan pada kondisi banjir, warga Dusun Gembongan tidak meninggalkan tradisi unjung-unjung yang menjadi bagian dari perayaan Lebaran.
Aktivitas saling berkunjung yang tetap berlangsung mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan di tengah keterbatasan.
Warga Dusun Gembongan, Desa Jotangan, Sudariyono menjelaskan bahwa genangan air kali ini tergolong cukup tinggi dibandingkan biasanya.
“Ketinggian air sekitar 30 sampai 50 sentimeter. Airnya masuk (ke permukiman) kemarin malam saat malam takbir,” jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa kejadian banjir saat hari raya merupakan pengalaman yang jarang terjadi. “Sebenarnya sudah biasa, tapi baru kali ini saat momen hari raya,” ungkapnya.
