Senin, 01 June 2026 04:00 UTC

Suasana pengukuhan tiga dukun Suku Tengger dalam perayaan Yadnya Kasada 1948 Saka di kawasasan Gunung Bromoro Lereng Bromo, Minggu malam hingga Senin dini hari (31 Mei-1 Juni 2026. Foto: Zulafif.
JATIMNET.COM, Probolinggo – Kawasan lautan pasir Bromo diselimuti kabut tebal dengan suhu udara yang berkisar 7 - 9 derajat Celcius pada Minggu malam hingga Senin dini hari (31 Mei – 1 Juni 2026).
Saat itu, ribuan warga Tengger dari Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang berkumpul di Pura Luhur Poten, kawasan Gunung Bromo.
Mereka menjadi saksi pengukuhan tiga dukun baru bagi warga Hindu dalam perayaan Yadnya Kasada 1948 Saka. Dua di antaranya dari Kabupaten Probolinggo dan seorang lainnya dari Kabupaten Pasuruan.
Pengukuhan dukun baru diharapkan mampu meneruskan peran sebagai pemimpin spiritual. Hal ini sekaligus penjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Tengger.
Dukun Pandita Kecamatan Tosari, Agung Hudoyo mengatakan bahwa pengukuhan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan adat dan tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Tengger.
“Dukun pandita memiliki tanggung jawab membimbing masyarakat dalam menjalankan tradisi dan upacara adat. Regenerasi ini penting agar budaya Tengger tetap lestari dan tidak terputus,” ujarnya.
BACA: 10 Tokoh di Probolinggo Jadi Warga Kehormatan Tengger, Siapa Saja?
Ia berharap perayaan Yadnya Kasada tahun ini dapat menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat Tengger untuk terus menjunjung nilai-nilai luhur warisan leluhur.
“Harapan kami di Yadnya Kasada tahun ini, semua umat Suku Tengger menjadi lebih baik dan berbudi pekerti luhur. Hal ini sebagaimana diwariskan oleh leluhur kita secara turun-temurun dari masa ke masa,” tambahnya.
Selain pengukuhan dukun pandita, panitia adat juga menganugerahkan gelar warga kehormatan kepada 10 tokoh dari berbagai latar belakang.
Penghargaan tersebut diberikan, sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan kontribusi mereka dalam pelestarian budaya serta pemberdayaan masyarakat Tengger.
Pengukuhan itu menjadi salah satu agenda utama sebelum pelaksanaan ritual puncak Yadnya Kasada, yakni pelarungan ongkek berisi hasil bumi ke kawah Gunung Bromo.
Sesaji yang dipersembahkan warga berupa sayuran, buah-buahan, hasil pertanian, hingga hewan ternak sebagai simbol rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi.
BACA: Gunung Bromo Ditutup hingga 2 Juni 2026, Wisatawan Diminta Menyesuaikan Jadwal Kunjungan
Di balik kesakralan ritual tersebut, terdapat tradisi lain yang tak kalah menarik perhatian, yakni aktivitas para pemarit atau pencari berkah Kasada.
Mereka bersiaga di sekitar bibir kawah dengan membawa jaring dan peralatan sederhana, untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke kawah sebelum jatuh ke dasar.
Meski harus menghadapi medan terjal dan risiko di sekitar kawah aktif, puluhan pemarit tetap bertahan selama berjam-jam demi mendapatkan hasil bumi, uang, maupun ternak yang dipercaya membawa keberuntungan.
Salah seorang pemarit, Suweni, mengaku telah mengikuti tradisi tersebut selama bertahun-tahun. Baginya, sesaji yang berhasil diperoleh diyakini membawa berkah bagi keluarga.
“Tidak takut meski harus di bibir kawah, karena sudah biasa ikut mencari sesaji Kasada. Biasanya dapat uang dan hasil bumi,” katanya.
Yadnya Kasada merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Tengger yang berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger.
Hingga kini, ritual tersebut tetap lestari sebagai simbol rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, serta wujud identitas budaya masyarakat Tengger yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
