Jumat, 28 November 2025 09:18 UTC

Sesi foto bersama para pemateri dan peserta Kenduri Kebhinekaan yang digelar Bakesbangpol Jatim bersama DPRD Jawa Timur di Jember. Foto: Hasan
JATIMNET.COM, Jember – Bentrok antar perguruan silat di Jember, masih menjadi potensi konflik sosial yang menjadi atensi untuk diantisipasi oleh kepolisian. Untuk itu, sejumlah langkah pencegahan terus digalakkan.
Hal ini mengemuka dalam Kenduri Kebhinekaan yang kembali digelar Bakesbangpol Jatim bersama DPRD Jawa Timur.
Forum yang dihelat di Gedung Bhayangkara, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember ini, menjadi ikhtiar memperkuat kerukunan dan mencegah potensi konflik di tengah masyarakat.
Acara yang digelar pada hari Jumat 28 November 2025 tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah provinsi untuk menjaga stabilitas keamanan dan mengantisipasi gangguan kamtibmas di seluruh wilayah Jawa Timur.
BACA: Kenduri Kebhinekaan Teguhkan Toleransi dan Cegah Konflik Sosial di Probolinggo
Kanit Bhabinkamtibmas Satbinmas Polres Jember, Aipda Mahar Syarief Rahman, S.I.Kom., hadir sebagai narasumber. Ia mengungkapkan bahwa sepanjang 2024–2025, Jember menghadapi berbagai potensi konflik sosial, mulai dari kenakalan remaja, gesekan antarpesilat, hingga isu intoleransi dan radikalisme.
“Terorisme juga menunjukkan tren peningkatan, begitu pula gesekan antarperguruan yang cukup sering terjadi,” ujarnya.
Untuk meredam situasi tersebut, kepolisian memperkuat langkah preemtif melalui edukasi dan pembinaan terhadap berbagai komunitas, termasuk perguruan pencak silat dan Forum Komunikasi Pencak Silat Jember.
“Kami melakukan penandatanganan komitmen damai, penyusunan tata tertib bersama, serta pembinaan bagi pelatih dan pengurus demi mencegah penyimpangan perilaku anggota,” jelasnya.
Kanit Bhabinkamtibmas Satbinmas Polres Jember, Aipda Mahar Syarief Rahman, saat menyampaikan materi. Foto: Hasan
Ia menegaskan bahwa strategi preemtif dan preventif harus terus dilakukan, mengingat dinamika sosial di Jember bergerak cepat dan kompleks.
“Upaya berkelanjutan dan kolaboratif menjadi kunci menjaga situasi tetap kondusif pada 2025–2026,” tambahnya.
Sementara itu, narasumber lain, Aris Dermawan, menjelaskan bahwa konflik sosial merupakan benturan fisik atau perseteruan antarkelompok yang berlangsung dalam rentang waktu tertentu dan berpotensi mengganggu keamanan, memicu disintegrasi sosial, serta menghambat proses pembangunan.
BACA: Jaringan Teroris Incar Pelajar, Cak Sumardi Ingatkan Kewaspadaan di Media Sosial
Mantan Ketua PC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Jember ini mengingatkan bahwa pemicu konflik tidak selalu berasal dari persoalan besar.
“Kenakalan remaja bukan hanya perilaku menyimpang, tetapi juga dapat menata jalannya keamanan dan ketertiban masyarakat,” tegas Aris.
Melalui Kenduri Kebhinekaan, Bakesbangpol berharap masyarakat semakin memahami pentingnya merawat keberagaman, mengantisipasi konflik sejak dini, dan membangun suasana yang harmonis di seluruh Jawa Timur.
