Suka Duka Kru Kapal Selat Bali Seberangkan Pemudik

Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Senin, 3 Juni 2019 - 10:21

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Peran para kru kapal penyeberangan Selat Bali sangat besar dalam membantu masyarakat yang ingin menyeberang dari Bali ke Pulau Jawa atau sebaliknya.

Namun, saat bertugas terutama pada masa mudik Lebaran 2019, mereka dituntut untuk selalu siaga ketika mengemudi dan juga selalu mengontrol mesin. Tantangan lainnya adalah cuaca yang selalu berubah. “Kadang juga diomeli pemudik,” kata Mualim 1 KMP Yunicee, Muhammad Ginanjar Putra, Sabtu 2 Juni 2019.

Ia mengatakan cuaca Selat Bali pada masa angkutan mudik kali ini tidak begitu bagus. Sebulan terakhir permukaan laut tidak tenang, hingga puncak gelombang tertinggi akan terjadi pada Agustus nanti.

BACA JUGA: Pemudik dari Bali ke Jawa Padati Pelabuhan Gilimanuk

Dia mengatakan butuh kehati-hatian lebih saat menghadapi arus dan gelombang tinggi. Bila arah kapal tidak tepat kapal akan mengayun ke kiri dan ke kanan.

Padahal bila kapal dikemudikan dengan tepat saat ada gelombang tinggi, akan mengayun ke depan dan belakang karena melawan ombak. Kecepatan angin juga menjadi atensi para nakhoda saat memutar kemudi untuk membelokkan kapal.

"Sekarang gelombang sedang tinggi, bisa mencapai 2,5 meter," kata Ginanjar.

AWASI PENUMPANG. Kru KMP Yunicee mengawasi penumpang yang menikmati waktu penyeberangan Selat Bali di geladak utama kapal. Foto: Ahmad Suudi

Dari pantauan Jatimnet.com saat mengikuti KMP Yunicee, terlihat jelas gelombang laut membentuk barisan bukit biru di tengah selat, hingga kapal mengayun ke samping dengan kemiringan 10 derajat.

Selain sibuk di anjungan, nakhoda juga harus memperhatikan jarak dengan kapal lain dan penumpang yang berada di geladak utama. Pengawasan penumpang menjadi perhatian mereka karena tak jarang ada yang ke tepian geladak padahal cuaca sedang tidak bersahabat.

Dalam kondisi cuaca yang tak bersahabat, biasanya banyak motor yang roboh karena kapal digoyang ombak sehingga para pemilik motor kerap mengomeli mereka. "Hampir setiap hari ada motor yang roboh kalau cuaca begini," cerita Ginanjar.

BACA JUGA: Volume Penumpang Penyeberangan Ketapang H-7 Lebaran Masih Tinggi

Setelah sampai di pelabuhan tujuan, mereka tidak lantas punya waktu bersantai karena harus cepat bongkar muat. Mereka dituntut cepat melayani rombongan pemudik lain yang sebelumnya sudah mengantre lama.

Standar sailing time atau waktu menyeberang adalah 48 menit dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali ke Ketapang, Banyuwangi, atau sebaliknya. Sedangkan port time atau kegiatan di dermaga pelabuhan ditargetkan selesai dalam 32 menit.

"Saat cuaca bagus menyeberang hanya butuh waktu 25 menit. Tapi saat cuaca buruk bisa sampai 1 jam," ujar Ginanjar.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan gelombang laut di Selat Bali, Minggu 2 Juni 2019 rata-rata antara 0,3-1,3 meter. Gelombang bisa setinggi 2 kali lipat untuk waktu-waktu tertentu.

Baca Juga

loading...