Sekelompok Santri di Jatim Deklarasi Golput 

Khoirotul Lathifiyah

Senin, 15 April 2019 - 18:34

JATIMNET.COM, Surabaya – Sekelompok santri dari berbagai wilayah di Indonesia mendeklarasikan untuk tidak menggunakan hak suaranya atau golput dalam Pilpres 17 April 2019 di Kantor KontraS Surabaya, Jawa Timur, Senin 15 April 2019.

Para santri dari Malang, Lampung, Tasikmalaya, dan Surabaya ini beralasan karena kedua calon presiden diisi oleh partai-partai yang didirikan atau disokong oleh oligarki.

"Mereka adalah para pemodal dan orang-orang kuat yang memiliki akses kepada kekuasaan," kata penggagas Suara Santri untuk Politik Alternatif Muhammad Al Fayyadl, Senin 15 April 2019.

Deklarasi ini, kata Fayyadl, menunjukkan bahwa santri juga mampu bersikap dan menolak terselenggaranya kontestasi kepentingan para pemodal.

BACA JUGA: Mahasiswa Ubaya Ajak Milenial Tidak Golput dengan Doodle Art

Menurutnya, pilpres kali ini bukan hajatan rakyat tapi hajatan oligarki. Rakyat hanya menjadi penggembira, karena kedua kubu tidak mencoba memberikan solusi untuk menyejahterahkan rakyat.

"Seperti kemiskinan dan penderitaan rakyat hanya sebagai komoditas politik, isu hoaks, politisasi SARA, sampai ujaran kebencian dan persekusi terus direproduksi," katanya.

Menurutnya, kedua kubu pasangan calon presiden hanya memainkan klaim-klaim dan jargon-jargon yang mempertajam polarisasi dan rivalitas di antara rakyat.

"Misalnya seperti Pancasila versus Khilafah, atau antara NKRI versus Negara Islam, Komunis versus Islam, Anti-Islam versus Islam, Asing versus Pribumi dan masih banyak lagi," katanya.

BACA JUGA: Usai Coblosan, WNI di Kamboja Nikmati Pesta Rakyat

Ia menilai label-label tersebut merupakan hasutan dan pendangkalan yang membuat ajang pilpres semakin merosot dan tidak bermutu secara ideologis.

Ia juga menjelaskan bahwa kedua calon relatif melakukan pendekatan untuk memperoleh suara dalam pemilu, khususnya pada kelompok "islam" dan "santri".

"Hal ini menurut kami menyimpang, apalagi Indonesia merupakan negara yang beragam, baik budaya maupun agama," katanya.

Ia berharap banyak masyarakat yang sadar dan bersikap dengan jernih dalam Pilpres 2019 ini.

Fayyadl mengajak para santri dan seluruh masyarakat Indonesia untuk menerapkan politik alternatif untuk mengembalikan khittah kebangsaan ke rel demokrasi sejati yang mengabdi kepada kepentingan rakyat tertindas (aI-mustadl’afin fil ardi).

Baca Juga

loading...