Rumah Sakit Jiwa Bogor Selenggarakan TPS untuk Pemilu 2019

Dyah Ayu Pitaloka

Rabu, 10 April 2019 - 09:29

JATIMNET.COM, Surabaya - Rumah Sakit Dr H Marzoeki Mahdi Bogor menyelenggarakan pemilu pada 2014, dan Pemilu 17 April 2019. Dari sekitar 300 lebih pasien ODGJ yang ada di rumah sakit ini, hanya pasien dalam kondisi stabil dan tenang, yang akan menggunakan hak pilih.

"Karena sesuai dengan hak asasi manusia, bahwa setiap warga dijamin hak politiknya," kata kata Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor Bambang Eko Sunaryanto.

"Kecuali apabila ada kendala-kendala atau kekuatan yang tidak memungkinkan untuk menggunakan hak pilihnya, atau secara administrasi menjadi kendala," lanjutnya.

Rencananya, Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kecamatan Bogor Barat akan membuat Tempat Pemungutan Suara (TPS), di ruang Instalasi Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Dr H Marzoeki Mahdi.

BACA JUGA: Orang dengan Gangguan Jiwa Berhak Memilih dalam Pemilu 2019

Di rumah sakit peninggalan Hindia Belanda yang berdiri sejak 1882 ini, pasien dibagi dalam dua kategori.

Bagi yang akut serta gaduh gelisah, ditempatkan di Ruang Rawat Psikiatri Akut (PHCU). 

Sedangkan bagi yang kondisinya sudah stabil serta tenang, ditempatkan di ruang rawat inap berupa bangsal-bangsal.

PHCU di rumah sakit jiwa ibarat ICU di rumah sakit umum untuk penyakit fisik. Kondisi pasien yang berada di fasilitas ini, seringkali gaduh, marah-marah, berteriak, dan kondisi lainnya, yang tidak terkontrol.

BACA JUGA: Kekurangan Vitamin D Mempengaruhi Kesehatan Otak

Sementara pasien yang ditempatkan di bangsal dan ruang rawat inap yang berasitektur kental gaya kolonial, lebih pendiam dan tenang.

Ketua Perhimpunan Jiwa Sehat Indonesia Yeni Rosa Damayanti menekankan, pentingnya edukasi dan sosialisasi pemilu kepada pemilih ODGJ agar penggunaan hak suara dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Perhimpunan Jiwa Sehat Indonesia bersama organisasi lainnya beberapa kali bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum dalam melakukan sosialisasi, dan memberikan pendidikan pemilu bagi pemilih ODGJ.

Menurut Yeni, sebagian besar ODGJ memiliki minat dalam pemilu dan berkeinginan untuk menggunakan hak pilihnya pada hari pencoblosan nanti.

BACA JUGA: Tips Agar Milenial Tak Mudah Baper di Era Siber

Kendati demikian, ada pula ODGJ yang tidak menggunakan hak pilihnya pada hari pemungutan suara.

Dari penyelenggaraan Pemilu 2014 yang telah diikuti oleh pemilih ODGJ di Indonesia, Yeni menyebutkan tidak ada satu pun yang bermasalah dan seluruhnya berjalan lancar.

Beberapa hasil penghitungan suara di beberapa TPS yang digelar di rumah sakit atau panti pun, berbeda-beda satu sama lain.

Yeni berharap, agar lebih banyak lagi ODGJ yang diberikan kesempatan, untuk memilih dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.

"Belum semua rumah sakit atau panti mengizinkan pasiennya untuk memilih dalam pemilu”. (ant)

Baca Juga

loading...