Rocky Gerung Desak Mahasiswa Bersikap Kritis terhadap Pemerintah

Khoirotul Lathifiyah
Khoirotul Lathifiyah

Selasa, 29 Januari 2019 - 15:32

JATIMNET.COM, Surabaya – Intelektual publik Rocky Gerung mengkritisi peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) yang melarang kampus melakukan politik praktis. Menurutnya mahasiswa yang tidak menggunakan mimbarnya untuk memperjuangkan keadilan masyarakat. 

“Mimbar itu wadah mahasiswa untuk orasi politik,” kata Rocky selepas Kuliah Umum Membangun Nalar Kritis di Kalangan Kampus untuk Indonesia Berkemajuan di Lantai 13 Gedung At-Tauhid Universitas Muhammadiyah Surabaya, Selasa 29 Januari 2019.

Tetapi orasi yang disampaikan harus dengan argumen yang tidak bisa dibantah. Rocky menegaskan orasi tersebut harus tegas, benar dan tidak mengedepankan sentimen.

“Kampus itu otonom yang memiliki kebebasan mimbar akademis, jika tidak angkat saja mimbar akademisnya,” lanjutnya.

BACA JUGA: Rocky Gerung Bantah Terlibat Kasus Ratna Sarumpaet

Rocky mengungkapkan akan sangat kacau jika kampus dibatasi untuk berpolitik. Padahal arti politik adalah tentang keadilan. Sementara fungsi mahasiswa selain pendidikan dan penelitian adalah fungsi mengabdi dalam masyarakat.

“Nah, jika pergerakan berpolitik ruangnya dibatasi, bagaimana mahasiswa mengabdi pada masayarakat," tambahnya.

Dia mendesak agar Menristekdikti hanya mengatur tentang administrasi kampus, dan tidak membatasi kebebasan berpolitik kampus. Karena mimbar yang dimiliki civitas adalah senjata untuk menegakkan keadilan dalam masyarakat.

Dengan adanya mimbar tersebut membuktikan bahwa tidak ada batas untuk melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang mengganggu kesejahteraan sosial.

BACA JUGA: Muhammadiyah Jatim Serukan Pendukung Capres Terapkan Politik Santun

“Cara bersikap kritis, mahasiswa harus mencurigai semua policy (kebijakan) negara, keputusan atau baik-buruknya pemimpin negara," kata Rocky.

Rocky menambahkan, kritik ini penting untuk evaluasi pemegang aturan. Kekuasaaan bisa membusuk jika tidak dikritik dan tidak tahu di mana kesalahan kebijakannya.

“Politik praktis itu penting untuk menunjukkan sikap kritis. Sebab kritis itu bukan untuk melawan. Jadi mahasiswa mempunyai kebebasan berpolitik untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat,” kata Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Sukadiono.

Baca Juga

loading...