Logo

Risiko Facelift Ilegal yang Jarang Dipahami Konsumen

Wajah bukan tempat yang aman untuk eksperimen tanpa standar medis.
Reporter:,Editor:

Senin, 25 May 2026 08:00 UTC

Risiko Facelift Ilegal yang Jarang Dipahami Konsumen

Ilustrasi risiko treatment ilegal. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Risiko facelift ilegal kembali menjadi perhatian publik setelah muncul kasus dugaan prosedur estetik tanpa kompetensi yang memadai. Fenomena ini membuka mata banyak orang bahwa tindakan kecantikan tidak selalu sesederhana yang terlihat di media sosial.

 

Di era digital, facelift sering dipromosikan sebagai solusi cepat untuk membuat wajah terlihat lebih muda dan kencang. Video transformasi instan, before-after dramatis, hingga promo harga murah membuat prosedur ini tampak ringan dan minim risiko. Padahal, facelift termasuk tindakan medis invasif yang melibatkan struktur penting pada wajah.

 

Data International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) mencatat lebih dari 1,57 juta prosedur facelift dilakukan di dunia sepanjang 2023. Jumlah ini naik sekitar 8 persen dibanding tahun sebelumnya.

 

Meningkatnya tren anti-aging membuat masyarakat perlu memahami bahwa facelift bukan treatment biasa, melainkan operasi medis dengan risiko serius jika dilakukan secara ilegal.

 

 

Facelift Tidak Sekadar Mengencangkan Kulit

 

Banyak orang mengira facelift hanya menarik kulit wajah agar terlihat lebih muda. Padahal prosedur ini jauh lebih kompleks. Dalam facelift, dokter harus memahami struktur saraf wajah, lapisan otot, jaringan kulit, serta pembuluh darah yang sangat sensitif. Kesalahan kecil dapat menyebabkan gangguan permanen pada fungsi wajah.

 

Menurut American Society of Plastic Surgeons (ASPS), facelift atau rhytidectomy merupakan prosedur bedah yang bertujuan mengurangi tanda penuaan pada area wajah dan leher melalui reposisi jaringan serta pengencangan struktur wajah.

 

Karena itu, tindakan ini idealnya dilakukan oleh dokter spesialis bedah plastik dengan fasilitas operasi yang memenuhi standar medis. Facelift bukan prosedur yang aman dilakukan di rumah, apartemen, salon, atau klinik tanpa ruang tindakan steril.

 

 

Risiko Medis Bisa Sangat Serius

 

Salah satu masalah terbesar dalam prosedur ilegal adalah minimnya standar keamanan. Dokter atau pelaku yang tidak memiliki kompetensi bedah sering kali tidak memahami anatomi wajah secara mendalam.

 

Akibatnya, risiko komplikasi meningkat drastis. Beberapa komplikasi facelift yang paling sering terjadi antara lain:

  • infeksi,
  • perdarahan,
  • jaringan kulit mati,
  • kerusakan saraf wajah,
  • gangguan ekspresi wajah,
  • hematoma,
  • hingga sepsis.

American Board of Cosmetic Surgery menyebut hematoma menjadi komplikasi facelift paling umum dengan angka kejadian sekitar 1 hingga 8 persen kasus. Selain risiko fisik, dampak psikologis juga sering muncul ketika hasil prosedur tidak sesuai harapan.

 

Tidak sedikit pasien mengalami stres, trauma, bahkan kehilangan rasa percaya diri setelah mengalami komplikasi wajah akibat tindakan ilegal.

 

 

Harga Murah Sering Menjadi Jebakan

 

Salah satu alasan banyak orang tergoda facelift ilegal adalah biaya yang jauh lebih murah dibanding prosedur resmi. Padahal biaya dalam dunia medis biasanya berkaitan langsung dengan:

  • kualitas fasilitas,
  • keamanan alat,
  • kompetensi dokter,
  • sterilisasi,
  • hingga kesiapan penanganan darurat.

Klinik profesional membutuhkan ruang operasi steril, obat anestesi yang aman, alat monitoring pasien, dan tim medis lengkap. Semua itu memengaruhi biaya tindakan.

 

Ketika prosedur ditawarkan terlalu murah dengan janji hasil instan, konsumen perlu lebih waspada. Menurut laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), praktik medis tanpa regulasi yang baik menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko patient safety incidents di berbagai negara berkembang.

 

Masalahnya, promosi media sosial sering membuat risiko medis terlihat jauh lebih ringan daripada kenyataannya.

 

 

Media Sosial Membuat Operasi Estetik Terlihat “Normal”

 

Budaya visual digital ikut mendorong meningkatnya popularitas prosedur anti-aging. Filter wajah, kamera berdefinisi tinggi, dan standar penampilan online membuat banyak orang semakin sensitif terhadap tanda penuaan.

 

Laporan American Psychological Association menunjukkan media sosial dapat meningkatkan body comparison dan ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, terutama pada perempuan muda. (apa.org)

 

Akibatnya, prosedur seperti facelift perlahan dianggap sebagai bagian dari lifestyle modern, bukan lagi tindakan medis besar. Padahal secara medis, facelift tetap memiliki masa pemulihan, risiko anestesi, dan kemungkinan komplikasi yang tidak kecil.

 

 

Konsumen Perlu Lebih Kritis Sebelum Memilih Treatment

 

Tren estetika kemungkinan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Masyarakat semakin terbuka terhadap prosedur kecantikan dan anti-aging.

 

Namun di tengah popularitas itu, literasi medis masyarakat juga harus meningkat. Sebelum menjalani facelift atau prosedur invasif lain, penting untuk memastikan dokter memiliki kompetensi yang sesuai, fasilitas klinik legal, dan prosedur dilakukan secara aman.

 

Konsumen juga berhak meminta penjelasan lengkap mengenai risiko, pemulihan, serta kemungkinan efek samping sebelum tindakan dilakukan.

 

Pada akhirnya, wajah bukan sekadar bagian dari penampilan digital. Ada kesehatan, fungsi saraf, dan keselamatan yang harus dijaga. Karena itu, memahami risiko facelift ilegal menjadi langkah penting agar masyarakat tidak mudah tergoda prosedur instan yang justru bisa meninggalkan dampak jangka panjang.