JATIMNET.COM, Surabaya – Produsen kopi arabika dalam negeri megap-megap memenuhi permintaan pasar dunia.

Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Kopi Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan mengatakan permintaan pasar dunia terhadap kopi arabika mencapai 70 persen. Sementara sisanya, 30 persen kopi robusta. “Permintaan lebih banyak arabika,” katanya, Senin 11 Maret 2019.

Sayangnya, ia melanjutkan, permintaan itu tak diimbangi dengan produksi kopi arabika dari produsen Indonesia. Sampai kini, produksi kopi robusta mendominasi. Jumlahnya mencapai 72 persen. “25 persen arabika,” katanya.

BACA JUGA: Indonesia Diprediksi Bisa Jadi Importir Kopi 

Ia mengatakan prospek ekonomi kopi arabika lebih menggiurkan. Harga kopi jenis ini di pasaran dunia mencapai USD 2.500-4.000 per ton. Sedangkan harga kopi robusta berkisar pada USS 1.500 per ton.

Meski demikian, Isdarmawan melihat kondisi itu sebagai tantangan. Salah satu alasannya, kopi arabika dari perkebunan di Jatim digemari pasar dunia. “Kalau produktivitas bisa optimal,” ujarnya.

Saat ini, ia mengatakan, produksi kopi di Jatim memang belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Dengan rata-rata produksi mencapai 70 ribu ton per tahun, permintaan pasar kopi mencapai 65-70 ribu ton. “Jadi kalau diekspor habis,” katanya.

Padahal, ia melanjutkan, industri dalam negeri membutuhkan 200 ribu ton per tahun. “Maka selama ini kami ambil dari luar pulau untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” katanya.

BACA JUGA: Kopi dan Minuman Tradisional Diminati Pengunjung ITB Berlin

Menurut dia, perlu ada roadmap industri kopi dalam negeri. Produksi kopi di tingkat hulu pada petani pun harus dijaga. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, tak bisa terus menerus mengandalkan hasil perkebunan besar yang kini terus menurun. “Pemerintah juga harus turun tangan untuk menaikkan produksi,” katanya.

Pemerintah, kata dia, harus menginventarisir pohon yang perlu diremajakan dan tetap dipertahankan. Ini penting guna terus menggenjot produksi kopi yang rata-rata masih 700 kilogram per hektare per tahun. Itu masih jauh dibanding Vietnam yang mampu 2 ton per hektare per tahun.

“Kita harus menyamakan kualitas ekspor dan pengembangan areal, terus diperluas. Selain menghadirkan bibit unggul yang baik,” katanya. LIHAT JUGA: (INFOGRAFIS) Kopi Indonesia di Pasar Dunia