Sabtu, 09 November 2024 08:00 UTC
Masyarakat membeli pentol kiloan produksi Sugeng Pamuji, warga Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sabtu, 9 November 2024. Foto: Hasan
JATIMNET.COM, Mojokerto – Pria di Mojokerto berhasil sukses berbisnis pentol kiloan hingga mencapai 300 kilogram dan bahkan 1 ton per hari. Ia adalah Sugeng Pamuji, warga Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Pria 44 tahun itu bahkan meraup omzet puluhan juta rupiah setiap bulan dari produksi jajanan tradisional serupa seperti bakso.
Usaha yang berlokasi di sebelah selatan wisata religi Makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini diberi nama "Habib".
Nama tersebut diambil dari dua putra Sugeng, yakni Hasriel dan Habibie. Kini kios pentol milik Sugeng ramai dikunjungi pelanggan.
Ratusan orang rela berdesakan untuk mendapatkan berbagai varian pentol favorit mereka. Mulai dari pentol gajeh, pentol Rp500-an, kasar, ranjau, solo, krikil, jamur, kribo, tanggung, dan jumbo. Selain pentol, di kios ini juga tersedia siomay, tahu walek, bakso, dan sempol.
BACA: Keunikan Penjual Cilok Keliling di Mojosari Mojokerto Sediakan Layanan Transaksi Non Tunai
Pentol yang dijual di kios Sugeng tersedia dalam berbagai kemasan, mulai dari 0,5 kilogram hingga 1 kilogram. Untuk kemasan 0,5 kilogram dijual antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Sedangkan untuk kemasan 1 kilogram, harga jualnya mencapai Rp35 ribu.
Sugeng mengungkapkan pendapatan bersih yang dihasilkan dari penjualan pentol mencapai sekitar Rp30 juta per bulan dengan produksi 300 kilogram per hari. Namun, tampaknya ia belum berani membeberkan pasti omzet saat produksi mencapai 1 ton per hari.
"Kalau dihitung omzet kotor, bisa mencapai Rp6-7 juta per hari. Tapi kalau untuk omzet saat produksi 1 ton, saya tidak berani menyebutkan, takut ada yang cemburu," katanya, Sabtu, 9 November 2024.
Sugeng menunjukkan pentol kiloan yang diproduksinya, Sabtu, 9 November 2024. Foto: Hasan
Pelanggan yang datang, selain dari masyarakat umum, juga berasal dari rombongan peziarah di makam Troloyo dan kegiatan siswa atau outing kelas.
BACA: Ini Tips Membuat Bakso Daging yang Empuk ala Bucin
Bahkan, banyak pelanggan yang memposting pembelian mereka di Instagram atau WhatsApp yang kemudian menarik perhatian pelanggan baru.
"Pembeli kami cukup seimbang, ada yang dari kalangan masyarakat umum dan juga peziarah di makam Troloyo. Kadang ada juga rombongan outing kelas, meski jarang. Biasanya, mereka tahu dari pelanggan yang sudah pernah datang," katanya.
Pentol yang diproduksi Sugeng dibuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di pasar tradisional, seperti daging sapi, ayam, tepung, dan bumbu-bumbu lainnya.
Dengan dibantu istri dan dua karyawan, Sugeng mampu memproduksi hingga 300 kilogram pentol setiap hari. Proses produksi dimulai pada pukul 07.30 WIB hingga 12.00 WIB.
Proses pembuatan pentol diawali dengan membeli daging ayam dan sapi di pasar tradisional. Setelah daging digiling dan dicuci bersih, langkah selanjutnya adalah mencampurkan bumbu dan tepung. Terakhir, pentol dicetak sesuai varian dan dimasak.
Ayah dua anak ini mengaku saat bulan Ramadan, produksinya semakin meningkat pesat. Bahkan, ia bisa memproduksi hingga 1 ton pentol per hari, khususnya pada malam ke-21 hingga Hari Raya Idul Fitri. Untuk memenuhi permintaan yang tinggi selama Ramadan, Sugeng juga menambah dua karyawan lepas.
Sugeng mengawali usahanya pada tahun 2019 dengan hanya menjual satu varian pentol secara keliling dari kampung ke kampung.
BACA: Menikmati Sambelan Khas Majapahit di Kawasan Kolam Segaran Trowulan
Dengan modal awal yang terbatas, ia juga meminjam uang sebesar Rp20 juta dari bank untuk membuka usaha di rumahnya pada tahun 2021.
Meskipun usaha sempat sepi, Sugeng tidak menyerah. Berkat kerja keras dan konsistensi, usaha pentol kiloannya mulai berkembang pada tahun 2022, sehingga ia harus merekrut dua karyawan tetap.
"Awalnya memang sepi, tapi alhamdulillah, dengan konsisten memperkenalkan produk ke teman-teman, akhirnya usaha ini dikenal orang dan pesanan mulai datang," ujarnya.
Ia pun mengaku jika salah satu alasan usahanya tetap bertahan hingga kini adalah karena ia tidak pernah mengubah harga jual meskipun harga bahan baku terus meningkat.
"Saya tidak merubah harga, meskipun harga bahan baku di pasar tradisional naik. Selama masih tidak merugi, saya tetap pertahankan harga tersebut," katanya.
