NYARKUB, istilah ini akrab di kalangan santri atau yang lebih luas kaum Nahdliyin untuk menyebut orang-orang yang hobi ziarah ke makam para wali atau ulama besar. Mereka yang telah bertahun-tahun ziarah dari satu makam ke makam lainnya biasanya dipanggil sarkub alias Sarjana Kuburan.

Beragam tujuan tentunya yang diharapkan ketika “melangitkan” doa di tempat-tempat yang dianggap keramat ini. Dari yang sekadar untuk ngalap berkah hingga ingin hajatnya segera terkabul ketika berdoa di makam orang-orang yang dekat dengan Sang Khaliq.

KH Musthofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan dalam peringatan sewindu Gus Dur tahun 2017 lalu, jika Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) adalah satu-satunya presiden yang saba kuburan.

"Ini ada orang, tokoh nasional bahkan Internasional, pernah jadi presiden tapi sering ziarah kubur. Gus Dur ini saya kira satu-satunya presiden yang saba kuburan," kata Gus Mus dikutip dari laman Nu.or.id.

"Malah kadang diejek orang dengan mengatakan; Sarkub, Sarjana Kuburan," imbuhnya, diikuti gelak tawa hadirin yang ramai memadati acara.

Ketika Gus Dur ditanya hobinya ke kuburan itu, Gus Dur menjawab, “Karena orangnya baik-baik. (Di sana) tak ada ghibah, tak ada fitnah, dan lebih dari itu, mengingatkan pada akhirat,” ujar Gus Mus menirukan jawaban Gus Dur.

Jawaban Gus Dur ini, menurut Gus Mus, mirip dengan syair dari Syekh Buhlul Al-Majnun (Abu Wahb Buhlul bin Amr As-Shairafi Al-Kufi). Syekh Buhlul merupakan seorang sufi yang hidup di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Apa hubungan ziarah kubur dan politik praktis? Syahdan, politik kuburan ini pernah diterapkan oleh Presiden RI ke-4 sehingga dirinya dihormati berbagai kelompok masyarakat secara luas di negeri ini, baik ketika masih hidup mau pun sudah meninggal.

Mengutip cerita yang pernah disampaikan Adhie M Massardi yang pernah dimuat di Viva.co.id, suatu hari Adhie menanyakan maksud Gus Dur ziarah makam. Gus Dur menjawab, dengan ziarah kubur, ia bisa berkomunikasi dengan yang diziarahi dan –alasan kedua- politik praktis.

Menurut Gus Dur, dengan menghormati makam, orang-orang yang menghormati makam pun akan menghormatinya.

Sudah kebiasaan Gus Dur, jika datang ke suatu tempat ia akan bertanya siapa tokoh yang dihormati. Setelah mendapat jawaban, dia akan bertanya siapa lagi yang lebih dihormati. Mungkin ayahnya atau kakeknya. Maka Gus Dur pun menziarahi makam orang itu.

Belakangan, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno rajin menziarahi makam dalam agenda kampanye mereka.

Di Jawa Timur saja, keduanya tercatat menziarahi makam ulama serta pencipta lagu dan penyanyi. Dari makam KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Gus Dur, KH Bisri Syansuri di Jombang sampai makam Sunan Ampel, Gombloh, WR Supratman, KH Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU) di Surabaya.

Sangat mungkin para calon presiden dan wakilnya itu meniru gaya politik Gus Dur untuk meraup suara di Jawa Timur. Sebab, mayoritas masyarakat Jawa Timur menghormati para kiai dan ulama. Saking hormatnya, mereka sangat menjaga perilaku di depan kiai dan ulama. Bicara santun, berjalan pun terbungkuk-bungkuk –bahkan ngesot.

Penghormatan itu diberikan tak hanya saat “waliyullah” itu masih hidup. Ketika sudah meninggal pun, orang-orang itu tetap bicara dan berjalan sesantun-santunnya di depan makamnya. Bukan melangkahinya.