Rabu, 17 June 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Kampus di Era AI. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Era AI sedang mengubah wajah pendidikan tinggi dengan kecepatan yang sulit diabaikan. Jika beberapa tahun lalu mahasiswa masih mengandalkan mesin pencari dan forum diskusi, kini berbagai platform kecerdasan buatan menjadi bagian dari aktivitas akademik sehari-hari.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di negara maju. Mahasiswa di berbagai kampus Indonesia, termasuk Surabaya sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Jawa Timur, mulai menjadikan AI sebagai alat bantu untuk merangkum materi, mencari referensi awal, menyusun ide penelitian, hingga memahami konsep yang sulit.
Fenomena tersebut bukan sekadar tren sesaat. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa penggunaan AI di lingkungan kampus telah berkembang menjadi kebiasaan baru yang memengaruhi pola belajar, cara berpikir, bahkan strategi penyelesaian tugas.
AI Menjadi Teman Belajar Baru Mahasiswa
Dalam waktu singkat, AI berkembang dari teknologi yang terdengar rumit menjadi alat yang mudah diakses melalui ponsel maupun laptop.
Survei Higher Education Policy Institute (HEPI) terhadap 1.041 mahasiswa pada 2025 menunjukkan 92 persen responden telah menggunakan AI dalam aktivitas akademik. Angka tersebut meningkat tajam dibanding 66 persen pada tahun sebelumnya. Sebanyak 88 persen bahkan mengaku pernah menggunakan AI untuk membantu pengerjaan tugas atau asesmen akademik.
Peningkatan penggunaan ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi pelengkap. Bagi banyak mahasiswa, AI telah menjadi bagian dari ekosistem belajar yang sama pentingnya dengan perpustakaan digital atau platform pembelajaran daring.
Di lingkungan kampus, penggunaan AI umumnya tidak hanya untuk membuat tulisan. Mahasiswa lebih sering memanfaatkannya untuk menjelaskan konsep yang sulit dipahami, merangkum artikel ilmiah, membantu brainstorming, hingga menyusun kerangka penelitian.
Dari Mencari Jawaban Menjadi Memahami Konsep
Salah satu perubahan paling menarik adalah bergesernya fokus belajar. Sebelum AI populer, mahasiswa sering menghabiskan waktu lama untuk mencari informasi dari banyak sumber. Kini proses pencarian awal menjadi jauh lebih cepat.
Data HEPI menunjukkan penggunaan AI paling banyak dilakukan untuk menjelaskan konsep pembelajaran, merangkum artikel, serta memberikan ide penelitian. Aktivitas tersebut membantu mahasiswa menghemat waktu pada tahap eksplorasi informasi.
Kondisi ini membuat sebagian mahasiswa memiliki lebih banyak waktu untuk berdiskusi, menganalisis, dan mengembangkan gagasan yang lebih kompleks.
Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Ketika jawaban tersedia dalam hitungan detik, kemampuan berpikir kritis tetap harus dilatih agar mahasiswa tidak hanya menerima informasi secara pasif.
Kampus Mulai Menyesuaikan Aturan dan Budaya Akademik
Perubahan perilaku mahasiswa turut mendorong kampus melakukan penyesuaian. UNESCO pada 2025 melaporkan hampir dua pertiga institusi pendidikan tinggi yang menjadi bagian dari jaringan UNESCO telah memiliki atau sedang menyusun pedoman penggunaan AI.
Temuan ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi di berbagai negara mulai memandang AI sebagai realitas yang perlu diatur, bukan sekadar dibatasi.
Perubahan tersebut penting karena dunia akademik menghadapi tantangan menjaga integritas sekaligus memanfaatkan inovasi.
Survei BestColleges sebelumnya menemukan 58 persen mahasiswa menyatakan kampus atau program studinya telah memiliki kebijakan terkait penggunaan AI. Sementara hampir 80 persen responden mengaku pernah mendapatkan diskusi mengenai etika AI dari dosen mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa fokus pendidikan mulai bergeser dari larangan menuju literasi penggunaan yang bertanggung jawab.
Keterampilan yang Kini Lebih Dibutuhkan
Masuknya AI ke ruang kelas ternyata mengubah jenis kemampuan yang dianggap penting. Jika sebelumnya mahasiswa dinilai unggul karena mampu menemukan informasi lebih cepat, kini nilai tambah justru berada pada kemampuan mengevaluasi, memverifikasi, dan menginterpretasikan informasi tersebut.
Meta-analisis terhadap 33.833 data mahasiswa dari berbagai penelitian menemukan bahwa persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan menjadi faktor utama yang mendorong adopsi AI di kalangan mahasiswa.
Artinya, mahasiswa yang mampu memahami fungsi AI secara tepat cenderung memperoleh manfaat lebih besar dibanding mereka yang sekadar mengikuti tren.
Kemampuan menulis prompt yang jelas, memeriksa akurasi informasi, membaca sumber primer, serta menyusun argumen yang kuat kini menjadi keterampilan baru yang semakin relevan di dunia kampus.
Masa Depan Belajar Tidak Lagi Sama
Perubahan cara belajar mahasiswa di era AI kemungkinan akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang. Penelitian terbaru dari Center for Studies in Higher Education UC Berkeley terhadap lebih dari 95 ribu mahasiswa menunjukkan sekitar dua pertiga mahasiswa telah memanfaatkan AI generatif dalam aktivitas akademiknya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan AI sudah menjadi bagian dari arus utama pendidikan tinggi modern. Bagi mahasiswa, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mengakses informasi. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah informasi menjadi pemahaman yang bermakna.
Pada akhirnya, perubahan cara belajar mahasiswa di era AI bukan tentang manusia melawan teknologi. Yang terjadi justru sebaliknya.
Mahasiswa yang mampu memanfaatkan AI secara kritis, etis, dan kreatif berpeluang memiliki keunggulan lebih besar dibanding mereka yang hanya mengandalkan cara lama atau sepenuhnya bergantung pada mesin. Di tengah perubahan ini, kemampuan berpikir tetap menjadi aset paling berharga yang tidak bisa digantikan teknologi.
