Kamis, 09 July 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Mengelola Notifikasi. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Notifikasi digital telah menjadi bagian dari kehidupan modern yang sulit dipisahkan. Hampir setiap aplikasi berlomba mengirim pemberitahuan, mulai dari pesan instan, media sosial, promosi belanja, layanan keuangan, hingga berbagai aplikasi produktivitas.
Dalam satu hari, layar ponsel bisa menyala puluhan bahkan ratusan kali hanya karena notifikasi yang sebenarnya tidak selalu mendesak.
Fenomena ini membuat semakin banyak orang mulai menata ulang pengaturan notifikasi di perangkat mereka. Tujuannya bukan sekadar mengurangi bunyi atau getaran ponsel, melainkan menciptakan ruang konsentrasi yang lebih baik agar aktivitas sehari-hari berjalan lebih efektif.
Perubahan kebiasaan tersebut juga didorong oleh meningkatnya kesadaran bahwa perhatian merupakan sumber daya yang terbatas. Ketika perhatian terus-menerus terpecah oleh notifikasi, kualitas pekerjaan maupun interaksi sosial ikut terdampak.
Menurut laporan Digital 2025 Indonesia yang disusun We Are Social bersama Meltwater, masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari menggunakan internet.
Dari total waktu tersebut, sekitar 3 jam 8 menit digunakan untuk mengakses media sosial melalui berbagai platform. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya paparan digital dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, DataReportal 2025 juga mencatat jumlah koneksi seluler di Indonesia telah mencapai lebih dari 356 juta, jauh melampaui jumlah penduduk karena banyak orang menggunakan lebih dari satu kartu SIM maupun perangkat digital. Kondisi tersebut membuat arus notifikasi semakin padat dibanding beberapa tahun lalu.
Notifikasi Tidak Selalu Memiliki Tingkat Kepentingan yang Sama
Sebagian besar aplikasi dirancang agar tetap menarik perhatian pengguna. Tidak semua notifikasi berkaitan dengan kebutuhan penting.
Banyak di antaranya berupa rekomendasi konten, promo, pengingat aktivitas, hingga pemberitahuan yang sebenarnya bisa dibuka beberapa jam kemudian tanpa menimbulkan konsekuensi.
Prinsip inilah yang membuat para ahli produktivitas mulai menyarankan pengelompokan notifikasi berdasarkan tingkat urgensi. Pesan dari keluarga, pekerjaan, layanan kesehatan, maupun transaksi keuangan tentu memiliki prioritas berbeda dibanding pemberitahuan promosi atau media sosial.
Pendekatan tersebut bukan berarti mengurangi manfaat teknologi. Sebaliknya, pengguna justru memiliki kendali lebih besar terhadap perangkat yang digunakan setiap hari.
Gangguan Kecil yang Terjadi Berulang
Sebuah penelitian dari University of California, Irvine, menemukan bahwa seseorang membutuhkan waktu rata-rata sekitar 23 menit untuk kembali fokus sepenuhnya setelah mengalami interupsi saat bekerja.
Meskipun penyebab gangguan tidak selalu berasal dari notifikasi ponsel, pemberitahuan digital menjadi salah satu sumber interupsi yang paling sering terjadi.
Temuan tersebut menjelaskan mengapa pekerjaan yang sebenarnya sederhana terkadang terasa berlangsung jauh lebih lama. Bukan karena tingkat kesulitannya meningkat, tetapi karena perhatian terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
Fenomena serupa juga mulai dirasakan dalam kehidupan keluarga. Tidak sedikit momen makan bersama, berdiskusi, atau sekadar bersantai menjadi terpotong karena layar ponsel terus menyala.
Mengatur Notifikasi Menjadi Bentuk Literasi Digital
Mengelola notifikasi kini dipandang sebagai bagian dari literasi digital, bukan sekadar preferensi pribadi. Langkah sederhana seperti mematikan notifikasi promosi, mengaktifkan mode fokus ketika bekerja, atau menjadwalkan waktu tertentu untuk membuka media sosial mampu mengurangi gangguan yang tidak diperlukan.
Perusahaan teknologi juga mulai menyediakan berbagai fitur pendukung. Sistem operasi modern menghadirkan mode fokus, ringkasan notifikasi, hingga pengaturan kategori pemberitahuan sehingga pengguna dapat menentukan aplikasi mana yang benar-benar layak mengirim notifikasi secara langsung.
Perubahan ini menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya telah menyediakan alat untuk mengurangi distraksi. Tantangan utamanya justru berada pada kebiasaan pengguna dalam memanfaatkannya.
Fokus Menjadi Nilai yang Semakin Berharga
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan mempertahankan fokus menjadi keterampilan yang semakin penting. Bukan berarti seseorang harus memutus hubungan dengan dunia digital, melainkan belajar memilih kapan harus merespons dan kapan cukup menunda.
Kebiasaan kecil seperti menonaktifkan notifikasi yang tidak penting sering kali memberikan dampak yang lebih besar daripada yang dibayangkan.
Aktivitas bekerja terasa lebih teratur, percakapan bersama keluarga menjadi lebih utuh, dan waktu istirahat tidak lagi terus-menerus disela bunyi pemberitahuan.
Notifikasi ponsel memang diciptakan untuk membantu pengguna memperoleh informasi secara cepat. Namun ketika jumlahnya tidak lagi terkendali, manfaat tersebut dapat berubah menjadi sumber distraksi.
Mengatur notifikasi secara bijak menjadi langkah sederhana untuk mengembalikan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting dalam kehidupan sehari-hari.
