Logo

Persiapan Mobil Sebelum Perjalanan Saat Libur Agustusan

Perjalanan yang nyaman sering dimulai beberapa hari sebelum mesin mobil dinyalakan.
Reporter:,Editor:

Jumat, 07 August 2026 00:00 UTC

Persiapan Mobil Sebelum Perjalanan Saat Libur Agustusan

Ilustrasi: Siap menempuh perjalanan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Perjalanan libur Agustusan dengan mobil punya karakter tersendiri. Di Surabaya, perjalanan bisa berarti bergerak menuju Malang, kawasan Bromo, Madura, atau sekadar berpindah dari satu agenda keluarga ke agenda lain ketika suasana kemerdekaan sedang ramai.

 

Mobil yang sehari-hari terasa baik-baik saja belum tentu siap menerima pola perjalanan berbeda. Jarak lebih panjang, kabin penuh, cuaca panas, kemacetan, dan penggunaan AC berjam-jam membuat beban kendaraan berubah.

 

Persoalan keselamatan pun masih besar. Korlantas Polri mencatat 158.508 kecelakaan lalu lintas sepanjang 2025, naik sekitar 5 persen dibandingkan 150.906 kejadian pada 2024. Data terbaru itu memberi alasan cukup kuat untuk tidak memperlakukan persiapan kendaraan sebagai urusan sepele. 

 

 

 

Ban Layak Mendapat Pemeriksaan Pertama

 

Ada kebiasaan sederhana sebelum bepergian: melihat mobil dari luar, memastikan tidak ada ban kempis, kemudian berangkat. Pemeriksaan semacam itu berguna, tetapi belum cukup untuk perjalanan yang lebih jauh.

 

Tekanan ban perlu mengikuti rekomendasi pabrikan, terutama ketika jumlah penumpang dan barang bertambah. Informasinya biasanya tersedia pada label di pilar pintu pengemudi atau buku manual kendaraan. Jangan menjadikan angka tekanan pada dinding ban sebagai patokan tekanan harian; angka tersebut memiliki fungsi berbeda.

 

Permukaan ban juga perlu diperiksa. Perhatikan retakan, benjolan, benda tajam yang menancap, serta keausan yang tidak merata. Ban cadangan sering terlupakan karena berbulan-bulan tersimpan tanpa disentuh.

 

Di Surabaya yang siang harinya bisa terasa menyengat, kondisi ban semakin layak diperhatikan sebelum perjalanan. Ban bekerja menghadapi beban kendaraan, gesekan permukaan jalan, kecepatan, dan suhu selama mobil bergerak.

 

 

 

Rem, Cairan, dan Komponen yang Jarang Terlihat

 

Persiapan mobil sebelum perjalanan saat libur Agustusan sebaiknya tidak berhenti pada bagian yang kasatmata. Beberapa komponen penting justru bekerja tanpa banyak terlihat oleh pengemudi.

 

Mulailah dari rem. Pedal yang terasa berubah, getaran ketika pengereman, suara abnormal, atau kemampuan pengereman yang menurun pantas diperiksa di bengkel. Jangan menunggu lampu indikator menyala jika mobil sudah memberikan gejala.

 

Periksa pula oli mesin, coolant, minyak rem, air pembersih kaca, aki, lampu, dan wiper sesuai prosedur pada buku manual kendaraan. Untuk mobil yang jadwal servis berkalanya sudah dekat, melakukan pemeriksaan sebelum perjalanan biasanya lebih masuk akal daripada menundanya sampai pulang.

 

Mengapa bagian ini penting? Data Kementerian Perhubungan yang mengutip Korlantas mengelompokkan penyebab kecelakaan menjadi faktor manusia sekitar 61 persen, prasarana dan lingkungan 30 persen, serta sarana atau kendaraan 9 persen.

 

Persentase kendaraan memang paling kecil, tetapi tetap mewakili risiko yang dapat ditekan lewat perawatan dan pemeriksaan teknis. 

 

 

 

Pengemudi Tetap Menjadi Faktor Terbesar

 

Mobil yang baru diservis tidak otomatis membuat perjalanan aman. Pengemudinya tetap memegang peran terbesar. Gambaran tersebut terasa relevan ketika melihat pola kecelakaan pada perjalanan padat.

 

Dalam evaluasi arus Lebaran 2024, Korlantas mencatat tidak menjaga jarak aman menyumbang 32 persen faktor penyebab kecelakaan pada periode tersebut. Faktor saat berbelok tercatat 16 persen, perubahan arus 13 persen, dan menyalip 11 persen. 

 

Konteksnya memang perjalanan Lebaran, bukan Agustusan. Namun perilakunya mudah ditemukan pada perjalanan sehari-hari: terlalu dekat dengan kendaraan depan, berpindah lajur terburu-buru, atau memaksakan menyalip ketika ruang terbatas.

 

Jalan keluar Surabaya menuju kawasan sekitar juga dapat berubah cepat dari lancar menjadi padat. Menambah jarak aman sering jauh lebih berguna daripada terus mencari celah beberapa meter di depan.

 

Data global memberi konteks yang lebih serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,19 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan jalan.

 

Lebih dari separuh korban meninggal merupakan pengguna jalan rentan, termasuk pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara sepeda motor. 

 

Maka ketika membawa mobil melewati kawasan permukiman, pasar, persimpangan, atau jalan yang dipenuhi kegiatan Agustusan, kewaspadaan tidak cukup diarahkan kepada kendaraan besar di depan. Orang yang menyeberang dan sepeda motor dari jalan kecil justru membutuhkan ruang antisipasi lebih besar.

 

 

 

Barang Bawaan Bisa Mengubah Karakter Mobil

 

Perjalanan keluarga sering menghasilkan satu pemandangan khas: bagasi yang semula terasa luas mendadak penuh. Tas, makanan, stroller, oleh-oleh, sampai perlengkapan anak masuk hampir bersamaan.

 

Barang berat sebaiknya ditempatkan stabil dan tidak dibiarkan bergerak bebas. Hindari menumpuk barang hingga mengganggu pandangan pengemudi melalui kaca belakang. Kapasitas angkut kendaraan juga tetap perlu mengikuti batas yang ditentukan produsen.

 

Tambahan muatan memengaruhi respons kendaraan. Mobil dapat membutuhkan pengereman berbeda dibandingkan ketika hanya dikendarai satu orang. Pengemudi yang memahami perubahan itu biasanya lebih mudah menyesuaikan kecepatan dan jarak.

 

Ada baiknya menyimpan barang yang mungkin diperlukan di perjalanan pada posisi mudah dijangkau: obat pribadi, air minum, kabel pengisi daya, dokumen, serta perlengkapan darurat. Membongkar seluruh bagasi di bahu jalan jelas bukan bagian menyenangkan dari liburan.

 

 

 

Jangan Membuat Jadwal Terlalu Ambisius

 

Satu hal yang sering tidak masuk daftar pemeriksaan bengkel adalah kondisi orang di balik kemudi. WHO mencatat kecelakaan jalan menyebabkan sekitar 1,19 juta kematian per tahun secara global dan 20–50 juta orang mengalami cedera nonfatal.

 

Keselamatan jalan memang melibatkan kendaraan dan infrastruktur, tetapi perilaku pengguna jalan tetap menjadi bagian penting dalam pencegahannya. 

 

Untuk perjalanan Agustusan, jadwal yang longgar memberi keuntungan sederhana. Pengemudi tidak merasa harus mengejar waktu setelah terkena macet atau berhenti lebih lama untuk makan.

 

Berangkat dalam keadaan cukup istirahat, bergantian mengemudi jika memungkinkan, serta berhenti ketika konsentrasi mulai turun jauh lebih masuk akal daripada memaksakan target kedatangan.

 

Suasana Agustus di Surabaya juga punya ritme yang khas. Bendera mulai memenuhi gang, gapura dihias, panggung warga berdiri di sejumlah lingkungan, sementara aktivitas jalan tetap berjalan seperti biasa. Beberapa ruas lokal bisa lebih ramai karena lomba atau kegiatan warga.

 

Persiapan mobil sebelum perjalanan saat libur Agustusan akhirnya tidak membutuhkan ritual rumit. Ban sehat, rem bekerja baik, cairan kendaraan cukup, lampu berfungsi, barang tersusun aman, dan pengemudi beristirahat cukup sudah menjadi fondasi yang jauh lebih penting.

 

Mobil boleh mengilap dan playlist perjalanan boleh sudah siap sejak malam sebelumnya. Namun sebelum meninggalkan Surabaya, lima menit tambahan untuk mengelilingi kendaraan dan memeriksa bagian penting bisa menjadi waktu yang sangat berharga.