Logo

Wisata Air Jadi Favorit Saat Musim Kemarau

Air yang jernih dan udara terbuka membuat perjalanan terasa lebih segar, tetapi keselamatan tetap menjadi bagian terpenting.
Reporter:,Editor:

Kamis, 17 September 2026 08:00 UTC

Wisata Air Jadi Favorit Saat Musim Kemarau

Ilustrasi: Segar di alam. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Wisata air menawarkan sensasi menyegarkan ketika musim kemarau masih terasa pada September. Mata air, kolam alami, air terjun, pantai, dan kawasan sungai kerap menjadi pilihan untuk mengimbangi cuaca yang lebih kering.

Momentum tersebut cukup relevan pada September 2026. BMKG memperkirakan 169 Zona Musim atau ZOM, setara sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia, mengalami puncak kemarau pada September.

Di Jawa Timur, musim kemarau 2026 juga diprediksi cenderung lebih kering. Stasiun Klimatologi Jawa Timur memperkirakan 56 dari 74 ZOM mengalami sifat hujan bawah normal. Wilayah tersebut mencakup sekitar 75,5 persen luas provinsi.

Namun, mencari kesegaran di sekitar air bukan berarti risiko cuaca panas otomatis hilang. Paparan matahari, kondisi medan, arus, kedalaman air, hingga kemampuan berenang tetap perlu diperhitungkan.

 

Wisata Air Terasa Menarik Saat Udara Lebih Kering

Ada alasan sederhana mengapa wisata air terasa menyenangkan ketika hari panas. Kontak dengan air membantu tubuh mendapatkan sensasi sejuk, sementara lingkungan terbuka menawarkan suasana berbeda dari rutinitas harian.

Pilihan destinasinya pun semakin beragam. Wisatawan tidak selalu harus menuju pantai. Mata air alami, pemandian, danau, sungai, air terjun, hingga kolam terbuka dapat menjadi tujuan perjalanan sehari.

Indonesia memiliki sumber daya air permukaan yang sangat besar. Kementerian Pekerjaan Umum mencatat terdapat 5.590 sungai utama dan lebih dari 65 ribu anak sungai yang tersebar di Indonesia.

Indonesia juga memiliki 7,12 juta hektare kawasan perairan umum daratan menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan. Cakupan tersebut meliputi sungai, danau, waduk, rawa, serta berbagai badan air lainnya.

Besarnya bentang perairan membuat pengalaman wisata berbasis air sangat beragam. Setiap tempat memiliki karakter lingkungan berbeda sehingga pengunjung tidak seharusnya memperlakukan semua destinasi dengan cara yang sama.

 

Wisata Air Tetap Membutuhkan Perlindungan dari Matahari

Berada di dalam air sering menciptakan kesan bahwa tubuh tidak sedang menghadapi panas. Padahal, bagian tubuh yang terbuka tetap menerima paparan radiasi ultraviolet.

WHO menggunakan UV Index untuk menggambarkan tingkat radiasi ultraviolet matahari di permukaan bumi. Skalanya dimulai dari nol dan semakin tinggi angkanya, semakin besar potensi kerusakan pada kulit dan mata.

WHO merekomendasikan perlindungan terhadap matahari ketika UV Index mencapai angka 3 atau lebih. Perlindungan menjadi semakin penting saat aktivitas berlangsung cukup lama di ruang terbuka.

Air juga dapat memantulkan radiasi ultraviolet. Karena itu, berenang atau bermain air bukan alasan untuk mengabaikan pakaian pelindung, area teduh, kacamata hitam, maupun tabir surya.

Waktu berkunjung dapat ikut diatur. Datang lebih pagi memungkinkan wisatawan menikmati aktivitas utama sebelum paparan matahari siang menjadi lebih kuat.

 

Keselamatan Lebih Penting daripada Foto yang Menarik

Destinasi alami sering memiliki sudut yang terlihat menarik di kamera. Batu di dekat air terjun, tepian sungai, atau bagian pantai yang sepi mudah mengundang pengunjung untuk mendekat.

Masalahnya, kondisi visual tidak selalu menunjukkan tingkat keamanan sebenarnya. Batu dapat licin, kedalaman air bisa berubah mendadak, sementara arus terkadang tidak mudah terlihat dari permukaan.

WHO memperkirakan sekitar 300 ribu orang meninggal akibat tenggelam di seluruh dunia pada 2021. Anak-anak dan kelompok usia muda termasuk yang paling terdampak.

Sekitar 24 persen kematian akibat tenggelam secara global terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Sebanyak 19 persen lainnya terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas di sekitar air perlu diperlakukan serius. Kemampuan berenang dasar, pengawasan anak, dan kepatuhan terhadap aturan pengelola tidak boleh dikalahkan keinginan mengejar konten.

Hindari memasuki area yang sudah diberi larangan. Pelampung juga perlu digunakan ketika kondisi destinasi atau jenis aktivitas memang membutuhkannya.

 

Air yang Terlihat Jernih Belum Tentu Aman Diminum

Wisata mata air sering memiliki daya tarik berupa kejernihan air. Namun, kejernihan secara visual tidak otomatis berarti air aman dikonsumsi langsung.

WHO menyebut sedikitnya 1,7 miliar orang di dunia menggunakan sumber air minum yang terkontaminasi feses pada 2022. Air tercemar secara mikrobiologis dapat menularkan berbagai penyakit.

Karena itu, membawa air minum sendiri tetap menjadi pilihan praktis. Wisatawan tidak perlu bergantung pada sumber air di lokasi yang belum diketahui standar pengelolaan dan kualitasnya.

Kementerian Kesehatan juga menyarankan masyarakat minum air dalam jumlah cukup saat cuaca panas tanpa menunggu rasa haus. Kebiasaan tersebut penting ketika perjalanan melibatkan jalan kaki, berenang, atau aktivitas fisik lainnya.

Botol minum dapat ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau. Jangan meninggalkannya terlalu lama di dalam kendaraan yang terparkir di bawah matahari.

 

Pilih Destinasi dari Kondisi, Bukan Sekadar Popularitas

Media sosial membuat sebuah mata air atau air terjun dapat mendadak ramai. Foto air berwarna biru, kolam alami, atau pemandangan tersembunyi mudah mendorong keinginan berkunjung.

Popularitas tetap bukan indikator utama keamanan. Sebelum berangkat, cari informasi tentang akses jalan, kedalaman air, fasilitas keselamatan, tempat berteduh, toilet, dan pengelolaan destinasi.

Prakiraan cuaca juga perlu diperiksa meskipun perjalanan dilakukan pada musim kemarau. Hujan di daerah hulu dapat memengaruhi kondisi sungai atau air terjun meski lokasi wisata terlihat cerah.

Wisatawan bersama anak kecil sebaiknya memilih tempat dengan pengawasan dan fasilitas lebih memadai. Sementara pengunjung lanjut usia perlu mempertimbangkan medan menuju sumber air, terutama tangga dan permukaan licin.

Menikmati wisata air saat musim kemarau pada akhirnya bukan sekadar mencari tempat yang terasa dingin. Destinasi yang tepat adalah tempat yang memberi ruang untuk bersenang-senang sekaligus memungkinkan pengunjung menjaga keselamatan, hidrasi, dan perlindungan dari matahari.