Logo

Istirahat Berkendara Penting Saat Perjalanan Panjang

Berhenti sejenak bukan memperlambat perjalanan, tetapi memberi tubuh kesempatan kembali siap menghadapi jalan.
Reporter:,Editor:

Jumat, 11 September 2026 13:30 UTC

Istirahat Berkendara Penting Saat Perjalanan Panjang

Ilustrasi: Jeda Aman di Perjalanan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Istirahat berkendara sering dianggap membuang waktu ketika tujuan sudah terasa dekat. Padahal, perjalanan panjang menuntut konsentrasi terus-menerus, sementara rasa lelah dan kantuk dapat muncul perlahan tanpa disadari pengemudi.

Situasinya semakin relevan ketika perjalanan dilakukan pada September yang panas dan kering. BMKG menyebut Jawa Timur berada pada puncak musim kemarau selama Agustus–September 2026, dengan kondisi yang cenderung lebih panas dan kering. 

Secara nasional, 169 Zona Musim atau 25,41 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September. Analisis terbaru BMKG juga menunjukkan El Niño pada periode Juni–Agustus 2026 berada pada kategori sangat kuat. 

Kombinasi perjalanan panjang, panas, dan kurang istirahat membuat kondisi tubuh perlu diperhatikan sama seriusnya dengan kondisi kendaraan.

 

Empat Jam Mengemudi Menjadi Batas Penting

Tubuh manusia memiliki keterbatasan dalam mempertahankan konsentrasi. Duduk lama sambil terus membaca kondisi jalan, menjaga kecepatan, dan mengantisipasi kendaraan lain tetap membutuhkan energi.

Indonesia sebenarnya mempunyai acuan yang cukup jelas mengenai waktu kerja pengemudi kendaraan umum. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 menetapkan waktu kerja pengemudi kendaraan bermotor umum paling lama delapan jam sehari.

Aturan yang sama menyebut setelah mengemudi selama empat jam berturut-turut, pengemudi kendaraan bermotor umum wajib beristirahat sekurang-kurangnya setengah jam. Dalam kondisi tertentu, waktu kerja dapat mencapai 12 jam sehari, termasuk waktu istirahat satu jam. 

Ketentuan tersebut memang secara spesifik mengatur pengemudi kendaraan bermotor umum. Namun, pola empat jam berkendara dan 30 menit beristirahat dapat menjadi referensi keselamatan yang berguna bagi pengemudi pribadi saat melakukan perjalanan jauh.

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat juga pernah mengimbau masyarakat beristirahat sekitar 30 menit setelah berkendara selama empat jam berturut-turut. Pengemudi turut dianjurkan tidur cukup sebelum memulai perjalanan. 

 

Kantuk Bukan Kondisi yang Layak Dilawan

Kopi, musik keras, atau membuka kaca terkadang digunakan pengemudi ketika mulai mengantuk. Cara seperti ini mungkin membuat tubuh terasa lebih segar sesaat, tetapi tidak menggantikan kebutuhan istirahat.

Tinjauan sistematis yang dipublikasikan melalui World Health Organization Regional Office for the Eastern Mediterranean menganalisis 17 penelitian tentang kantuk dan kecelakaan lalu lintas.

Penelitian tersebut melibatkan 55.945 peserta dari 10 studi potong lintang, 3.821 peserta dari lima studi kasus-kontrol, serta 16.875 peserta dari dua studi kohort. Hasil keseluruhannya menunjukkan kantuk dan kurang tidur merupakan faktor penting dalam kecelakaan lalu lintas. 

Kajian tersebut juga menemukan tidur sekitar enam jam sehari dikaitkan dengan risiko kecelakaan 33 persen lebih tinggi dibandingkan tidur tujuh atau delapan jam. Kurang tidur disebut sebagai salah satu kontributor utama rasa kantuk ketika mengemudi. 

Artinya, persiapan perjalanan panjang sebenarnya dimulai sejak malam sebelumnya. Pengemudi yang berangkat dalam keadaan kurang tidur sudah membawa faktor kelelahan bahkan sebelum menghadapi kemacetan atau perjalanan berjam-jam.

 

Cuaca Panas Bisa Menambah Beban Perjalanan

September 2026 memiliki konteks cuaca yang perlu diperhitungkan. Analisis BMKG pada akhir Agustus menunjukkan peluang tinggi curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada September mencakup Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, serta sejumlah wilayah lain. 

BMKG juga menjelaskan minimnya tutupan awan pada musim kemarau dapat meningkatkan intensitas pemanasan permukaan, terutama sejak pagi hingga siang. Kondisi tersebut dapat mendorong peningkatan suhu udara maksimum. 

Bagi pengemudi, kondisi panas tidak berarti perjalanan otomatis menjadi berbahaya. Namun, perjalanan terasa lebih nyaman ketika kebutuhan dasar tubuh tidak diabaikan.

Sediakan air minum, gunakan pakaian yang nyaman, dan pastikan AC atau ventilasi kendaraan bekerja baik. Saat tubuh mulai lelah, cari tempat yang aman untuk beristirahat daripada mengejar waktu tiba.

Jeda juga bisa digunakan untuk berjalan ringan dan mengubah posisi tubuh setelah duduk lama. Pengemudi dapat kembali memeriksa kondisi dirinya sebelum memutuskan melanjutkan perjalanan.

 

Rest Area Bukan Sekadar Tempat Membeli Makanan

Dalam perjalanan antarkota, rest area sering digunakan sebatas untuk mengisi bahan bakar, membeli kopi, atau menggunakan toilet. Padahal, fungsi istirahat seharusnya mendapatkan porsi yang sama penting.

Ditjen Perhubungan Darat menganjurkan pengemudi yang mengantuk atau kelelahan untuk beristirahat. Pada konteks perjalanan tol yang padat, lembaga tersebut pernah menyarankan penggunaan rest area hingga sekitar 30 menit atau keluar tol untuk mencari lokasi istirahat yang lebih nyaman. 

Jeda yang berkualitas tidak harus dipenuhi banyak aktivitas. Duduk dengan nyaman, minum, makan secukupnya, atau tidur singkat ketika memang diperlukan bisa lebih bermanfaat daripada terus melihat layar ponsel.

Pengemudi juga sebaiknya tidak memaksakan jadwal perjalanan terlalu ketat. Waktu tiba yang memiliki ruang untuk istirahat membuat keputusan berhenti terasa lebih mudah ketika tubuh membutuhkannya.

Untuk perjalanan bersama keluarga atau teman yang sama-sama mampu mengemudi, pergantian pengemudi dapat dipertimbangkan. Namun, orang yang mengambil alih kemudi juga harus berada dalam kondisi bugar dan memiliki kemampuan berkendara yang sesuai.

 

Kondisi Tubuh Sama Pentingnya dengan Kondisi Mobil

Persiapan perjalanan panjang biasanya identik dengan mengecek ban, bahan bakar, oli, rem, atau kondisi mesin. Semua itu penting, tetapi kendaraan yang sehat tetap membutuhkan pengemudi yang waspada.

Kantuk, sulit fokus, sering menguap, atau tubuh yang terasa sangat lelah sebaiknya tidak diperlakukan sebagai gangguan kecil. Munculnya tanda tersebut menjadi alasan untuk mencari lokasi berhenti yang aman.

Apalagi, kondisi kering masih luas pada periode ini. BMKG mencatat sekitar 80 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau pada akhir Agustus 2026. 

Karena itu, rencana perjalanan sebaiknya tidak hanya berisi tujuan dan perkiraan waktu tiba. Masukkan pula waktu istirahat, lokasi berhenti, kebutuhan air minum, serta kemungkinan berganti pengemudi.

Istirahat berkendara pada akhirnya bukan tanda seseorang kurang kuat menempuh perjalanan jauh. Kebiasaan tersebut justru menunjukkan pengemudi memahami bahwa konsentrasi memiliki batas.

Mobil dapat diperiksa sebelum berangkat dan bahan bakar dapat diisi kembali di perjalanan. Tubuh pun membutuhkan perlakuan serupa: cukup tidur sebelum berangkat dan berhenti ketika konsentrasi mulai menurun.