Logo

Destinasi Sejarah Jawa Timur untuk Liburan Keluarga

Perjalanan sejarah terasa lebih hidup ketika anak bisa melihat tempat, benda, dan kota yang selama ini hanya hadir di buku.
Reporter:,Editor:

Minggu, 16 August 2026 13:00 UTC

Destinasi Sejarah Jawa Timur untuk Liburan Keluarga

Ilustrasi: Menyusuri Jejak Sejarah. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Destinasi sejarah Jawa Timur punya jangkauan cerita yang jauh lebih luas daripada perjuangan kemerdekaan. Dari Surabaya, keluarga dapat bergerak menuju warisan Majapahit di Mojokerto, jejak kerajaan di Kediri, hingga museum dan kawasan lama yang menyimpan lapisan sejarah berbeda.

Momentum Agustus membuat perjalanan semacam ini terasa pas. Namun nilai utamanya justru terletak pada pengalaman melihat sejarah sebagai bagian dari ruang hidup, bukan hafalan tanggal.

Minat terhadap perjalanan di Jawa Timur sendiri berada pada skala besar. Badan Pusat Statistik mencatat 217,20 juta perjalanan wisatawan nusantara menuju Jawa Timur sepanjang 2025. Data itu memberi gambaran bahwa perjalanan domestik di provinsi ini sudah menjadi bagian kuat dari pola rekreasi masyarakat. 

Bagi keluarga, tantangannya tinggal memilih tempat yang cukup menarik untuk orang dewasa, tetapi tidak membuat anak merasa sedang mengikuti pelajaran tambahan.

 

Mulai dari Surabaya, Sejarah Tidak Perlu Dicari Jauh

Surabaya menjadi titik awal yang paling mudah bila keluarga ingin membangun konteks perjalanan. Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember menyimpan cerita penting tentang Pertempuran 10 November 1945. Kawasannya berada di tengah kota, sehingga kunjungan bisa dilakukan tanpa perjalanan panjang atau agenda yang terlalu padat.

Anak biasanya lebih mudah menangkap sejarah ketika ada benda dan ruang konkret di depan mata. Monumen, diorama, foto lama, rekaman suara, hingga bentuk bangunan memberi pijakan visual yang jauh lebih kuat dibandingkan penjelasan panjang.

Ada keuntungan lain dari memulai perjalanan di Surabaya: keluarga bisa menghubungkan masa lalu dengan kota yang mereka lihat sekarang.

Keluar dari kawasan monumen, jalan kembali ramai. Kendaraan bergerak, toko buka, gedung pemerintahan berdiri berdampingan dengan jejak masa lalu. Anak dapat melihat bahwa sejarah memang berlangsung di tempat yang sekarang masih dipakai orang untuk bekerja dan beraktivitas.

 

Trowulan Membawa Keluarga Jauh Sebelum 1945

Sekitar satu jam perjalanan dari Surabaya terdapat kawasan Trowulan, Mojokerto. Museum Majapahit menjadi salah satu titik penting untuk memahami periode yang sama sekali berbeda.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mencatat Museum Trowulan mulai dibuka pada 1926, berawal dari kegiatan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit yang didirikan pada 1924. 

Museum ini dikenal menyimpan koleksi peninggalan Majapahit yang sangat lengkap. Benda berbahan batu, logam dan kayu menjadi bagian dari koleksi yang terus menjalani konservasi oleh lembaga pelestarian kebudayaan. 

Bagi anak, Trowulan punya kelebihan yang tidak selalu dimiliki museum perkotaan. Ceritanya berlanjut ke ruang luar.

Keluarga dapat menghubungkan koleksi museum dengan situs arkeologi di kawasan sekitarnya. Bangunan bata merah, struktur kuno dan bentang kawasan membuat nama Majapahit tidak berhenti sebagai bab dalam buku sekolah.

Perjalanan juga bisa dibuat santai. Tidak perlu menuntaskan seluruh situs dalam sehari. Museum ditambah satu atau dua lokasi di sekitarnya sudah cukup untuk memberi pengalaman yang utuh.

Anak yang mulai kehilangan konsentrasi setelah terlalu banyak informasi biasanya lebih menikmati perjalanan ketika ada jeda makan, berjalan di ruang terbuka, atau sekadar mengamati benda tanpa harus mendapat penjelasan setiap menit.

 

Kediri Menawarkan Sejarah dari Masa Kerajaan

Jika keluarga memiliki waktu perjalanan lebih panjang, Kediri menyediakan lapisan sejarah lain. Museum Airlangga berada di kawasan Pojok, Kecamatan Mojoroto. Museum tersebut menyimpan benda dari berbagai periode, termasuk era Kadiri, Singhasari hingga Majapahit. Pemerintah Kota Kediri pernah mencatat koleksinya mencapai 147 benda arkeologi dan etnografi.

Jejak perkembangan museumnya sendiri cukup panjang. Cikal bakal penyimpanan koleksi sudah ada sejak 1951. Setelah berpindah tempat, koleksi akhirnya menempati Museum Airlangga pada awal dekade 1990-an. Sumber resmi pemerintah daerah mencatat museum tersebut diresmikan pada Januari 1992. 

Salah satu koleksinya adalah relief yang dikaitkan dengan cerita Panji Semirang. Relief itu menggambarkan tujuh sosok, termasuk figur yang ditafsirkan sebagai Panji dan Panji Semirang. 

Bagian ini bisa menjadi pintu masuk yang menyenangkan bagi anak. Sejarah tidak lagi berupa daftar kerajaan dan nama raja. Ada tokoh, perjalanan, kisah, simbol pada relief, dan benda yang bisa diamati langsung.

Kawasan Museum Airlangga juga berada satu kompleks dengan wisata Goa Selomangleng. Kombinasi ruang museum dan kawasan luar membuat jadwal keluarga lebih fleksibel, terutama jika anak membutuhkan variasi aktivitas.

 

Liburan Sejarah Tidak Harus Berubah Menjadi Kelas

Kesalahan kecil yang sering terjadi dalam wisata keluarga adalah keinginan menjelaskan semuanya. Orang tua melihat prasasti, lalu merasa perlu menerangkan seluruh konteks kerajaan. Melihat monumen, pembicaraan berubah menjadi ceramah panjang. Anak mungkin mendengar, tetapi belum tentu menyimpan informasi tersebut.

Lebih efektif membiarkan rasa ingin tahu muncul dari apa yang mereka lihat. Minta anak memilih benda yang paling aneh menurut mereka. Cari tahun tertua yang tertulis di museum. Bandingkan ukuran bangunan lama dengan bangunan modern. Atau cukup tanyakan bagian perjalanan yang paling mereka ingat saat makan siang.

Tidak masalah jika jawaban mereka justru tentang meriam, relief, batu bata atau patung tertentu. Ingatan terhadap satu benda konkret sering menjadi awal untuk memahami cerita yang lebih besar beberapa tahun kemudian.

Kebiasaan mengambil foto juga dapat dipakai sebagai alat belajar. Alih-alih hanya berfoto bersama, anak bisa diberi kesempatan memotret satu objek yang menurut mereka menarik. Setelah pulang, cari kembali ceritanya bersama.

Cara sederhana tersebut membuat perangkat digital tidak selalu menjadi pesaing museum.

 

Pilih Dua Tempat, Bukan Mengejar Lima

Perjalanan wisata di Jawa Timur semakin ramai dari tahun ke tahun dan volume pergerakannya tetap besar. Pada April 2026 saja terdapat 14,73 juta perjalanan wisatawan nusantara di provinsi ini, menurut BPS Jawa Timur. 

Hari libur dan akhir pekan panjang bisa membawa kepadatan tambahan ke jalan maupun kawasan wisata. Bagi keluarga yang berangkat dari Surabaya, rencana paling nyaman biasanya dibuat berdasarkan radius perjalanan.

Untuk perjalanan singkat, Surabaya cukup diisi Tugu Pahlawan dan satu kawasan heritage. Jika ingin keluar kota, Trowulan dapat menjadi perjalanan sehari. Kediri lebih masuk akal ketika waktu yang tersedia lebih longgar.

Jangan lupa memeriksa jam operasional sebelum berangkat, terutama menjelang hari besar nasional. Museum dan situs yang dikelola pemerintah dapat memiliki penyesuaian pelayanan.

Air minum, topi, alas kaki nyaman dan jeda makan juga terdengar sepele sampai anak mulai kelelahan di tengah kunjungan.
Besok Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan. Namun perjalanan melalui destinasi sejarah Jawa Timurmengingatkan bahwa cerita wilayah ini berlangsung jauh sebelum 1945 dan terus bergerak setelahnya.

Dari Tugu Pahlawan di tengah Surabaya hingga bata merah Trowulan dan relief Panji di Kediri, tiap tempat memiliki skalanya sendiri.
Untuk liburan keluarga, tidak perlu pulang dengan hafalan banyak tanggal. Jika anak membawa pulang satu cerita yang membuatnya penasaran, perjalanan itu sudah bekerja dengan baik.