Kamis, 17 September 2026 10:30 UTC

Ilustrasi: Pulang sebelum terik. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Jam kunjungan wisata layak diperhitungkan ketika perjalanan berlangsung pada musim kemarau. Datang lebih pagi atau menghindari aktivitas luar ruang pada tengah hari dapat mengurangi paparan panas tanpa memangkas kesenangan berlibur.
Pertimbangan ini relevan pada September 2026. BMKG memprediksi 169 Zona Musim atau ZOM mencapai puncak kemarau pada September, mencakup sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia.
BMKG juga mencatat hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 ZOM atau sekitar 54,5 persen luas daratan Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Bahkan, 437 ZOM atau 48,77 persen luas daratan diperkirakan mengalami kemarau lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Cuaca tentu tidak sama di setiap destinasi. Namun, angka tersebut cukup menjadi pengingat bahwa waktu keberangkatan dan kepulangan sebaiknya ikut masuk dalam rencana perjalanan.
Jam Kunjungan Wisata Bisa Disesuaikan dengan Panas
Kebiasaan berwisata sering dimulai setelah sarapan santai, lalu tiba di destinasi menjelang siang. Pola tersebut nyaman dari sisi persiapan, tetapi belum tentu ideal untuk tempat yang sebagian besar areanya terbuka.
Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat sebisa mungkin berada di dalam ruangan atau berteduh antara pukul 11.00 hingga 15.00 ketika menghadapi cuaca panas.
Rentang empat jam tersebut dapat menjadi pertimbangan praktis dalam menyusun agenda wisata. Aktivitas utama bisa ditempatkan pada pagi hari, sedangkan waktu tengah hari digunakan untuk makan, beristirahat, atau mengunjungi tempat dalam ruangan.
Strategi ini tidak berarti wisatawan harus menghindari matahari sepenuhnya. Tujuannya adalah mengurangi paparan langsung pada periode ketika kondisi terasa lebih terik.
WHO juga menggunakan UV Index sebagai panduan perlindungan terhadap radiasi ultraviolet. Ketika indeks berada pada level 3–7, perlindungan seperti tempat teduh, pakaian, topi, dan sunscreen sudah dianjurkan.
Saat UV Index mencapai 8 atau lebih, WHO menyarankan menghindari berada di luar ruangan pada tengah hari bila memungkinkan.
Berangkat Pagi Membuat Ritme Perjalanan Lebih Fleksibel
Datang lebih awal memberi keuntungan yang tidak hanya berkaitan dengan suhu. Wisatawan mempunyai ruang waktu lebih panjang untuk menyesuaikan agenda ketika kondisi lapangan berbeda dari rencana.
Destinasi yang ternyata ramai dapat dinikmati tanpa terburu-buru. Sebaliknya, jika cuaca mulai terasa terlalu panas, perjalanan bisa dihentikan lebih awal tanpa merasa kehilangan seluruh hari.
Ritme seperti ini cocok untuk wisata keluarga. Anak-anak dan anggota keluarga yang lebih tua tidak perlu dipaksa mengikuti jadwal panjang di bawah matahari.
Perjalanan pagi juga memberi kesempatan untuk menempatkan aktivitas fisik pada awal kunjungan. Jalan kaki, melihat kawasan terbuka, atau berkeliling taman dapat dilakukan terlebih dahulu.
Menjelang tengah hari, kegiatan bisa bergeser ke area teduh. Museum, restoran, pusat oleh-oleh, galeri, atau kafe lokal dapat menjadi bagian kedua perjalanan.
Satu hari wisata akhirnya tetap terasa penuh tanpa seluruh waktunya dihabiskan menghadapi panas.
Waktu Istirahat Perlu Masuk Agenda Perjalanan
Jadwal wisata sering dipenuhi daftar tempat yang ingin dikunjungi. Waktu istirahat justru jarang ditulis, seolah tubuh akan selalu mampu mengikuti perpindahan dari satu lokasi ke lokasi berikutnya.
Padahal, panas dapat menambah beban tubuh. WHO pada Juli 2026 kembali menempatkan panas ekstrem sebagai bahaya iklim yang memiliki dampak serius terhadap kesehatan.
Indonesia bahkan meluncurkan KATALIS-HEAT pada Juli 2026 melalui kolaborasi Kementerian Kesehatan, WHO, BMKG, Kementerian Lingkungan Hidup, dan sejumlah mitra. Program tersebut ditujukan untuk memperkuat pemahaman dan respons terhadap risiko panas bagi kesehatan.
Bagi wisatawan, bentuk antisipasinya tidak harus rumit. Duduk selama beberapa menit di tempat teduh, minum air, dan mengurangi aktivitas ketika tubuh mulai lelah merupakan langkah sederhana.
Kementerian Kesehatan menyarankan minum cukup tanpa menunggu rasa haus. Masyarakat juga dianjurkan memperhatikan tanda seperti keringat berlebihan, pusing, mual, kram, jantung berdebar, hingga urin sedikit dan berwarna kuning pekat.
Gejala seperti itu bukan sinyal untuk mengejar destinasi berikutnya. Tubuh membutuhkan pendinginan, cairan, dan bila keluhan tidak membaik, pemeriksaan di fasilitas kesehatan.
Jadwal Pulang Juga Menjadi Bagian dari Keselamatan
Merencanakan waktu berwisata sebaiknya tidak berhenti pada jam tiba. Kondisi pengemudi ketika perjalanan pulang juga perlu diperhitungkan.
Perjalanan sejak pagi, berjalan berjam-jam, menghadapi panas, lalu mengemudi cukup jauh dapat menimbulkan kelelahan. Kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi biasa dari liburan.
Rilis kinerja Komite Nasional Keselamatan Transportasi tahun 2025 menyebut faktor manusia masih dominan dalam kecelakaan transportasi yang mereka investigasi. Kelelahan, kelalaian, dan ketidakpatuhan terhadap prosedur keselamatan termasuk pola yang ditemukan.
Untuk moda lalu lintas dan angkutan jalan, KNKT menginvestigasi sembilan kecelakaan sepanjang 2025. Kasus tersebut mengakibatkan 69 orang mengalami luka-luka.
Korlantas Polri juga mengingatkan bahwa mengantuk dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat waktu reaksi, dan membuat pengemudi kehilangan kendali kendaraan.
Karena itu, jadwal pulang jangan dibuat terlalu ketat. Sisakan waktu untuk makan, minum, dan beristirahat sebelum berkendara kembali.
Jika pengemudi sudah mengantuk atau sangat lelah, menambah satu destinasi bukan keputusan yang sepadan dengan risikonya.
Cuaca Tetap Perlu Dicek pada Hari Keberangkatan
Musim kemarau bukan jaminan bahwa perjalanan akan selalu berlangsung di bawah langit cerah. Dinamika atmosfer tetap dapat menghadirkan hujan di sejumlah wilayah.
BMKG pernah mencatat hujan harian 152 mm di Sumatera Barat dan 137 mm di Sumatera Utara pada periode 15–19 Juli 2026, ketika musim kemarau sedang meluas.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa label musim tidak cukup digunakan sebagai prakiraan cuaca harian. Informasi lokal tetap perlu diperiksa mendekati waktu perjalanan.
Selain prakiraan hujan, wisatawan dapat memperhatikan suhu dan UV Index. Informasi tersebut membantu menentukan jam berangkat, perlindungan yang dibawa, serta lamanya aktivitas di luar ruangan.
Rencana juga perlu dibuat lentur. Memajukan keberangkatan satu jam atau mengganti aktivitas siang dengan tempat teduh terkadang sudah cukup membuat perjalanan jauh lebih nyaman.
Pada akhirnya, jam kunjungan wisata saat musim kemarau bukan aturan yang harus berlaku sama untuk semua destinasi. Prinsip utamanya adalah menyesuaikan aktivitas dengan cuaca, kondisi tubuh, dan perjalanan pulang sehingga liburan tetap menyenangkan tanpa memaksakan diri.
