Sabtu, 08 August 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Sejarah Lebih Dekat. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Museum perjuangan bisa menjadi pilihan liburan keluarga yang cukup menyenangkan selama Agustus. Di Surabaya, pengalaman itu terasa dekat karena sejarah perjuangan hadir melalui monumen, rumah tokoh, foto, benda pribadi, hingga diorama.
Mengajak anak ke museum memang membutuhkan pendekatan berbeda. Mereka belum tentu tertarik pada urutan tanggal atau penjelasan sejarah yang panjang. Sebaliknya, benda yang bisa diamati, ruang yang dapat dijelajahi, dan cerita manusia sering lebih mudah memancing rasa ingin tahu.
Momentum Agustus membuat kunjungan semacam ini semakin relevan. Anak melihat merah putih hampir setiap hari, lalu museum memberi kesempatan memahami cerita di balik suasana tersebut.
Museum Surabaya Kini Punya Banyak Pilihan
Surabaya tidak kekurangan tempat untuk memulai. Pemerintah Kota Surabaya melalui Musea Surabaya mengelola delapan museum dan satu gedung seni budaya yang tersebar di sejumlah titik kota.
Jaringannya mencakup Museum Sepuluh Nopember, Museum Surabaya, Museum Pendidikan, Museum Olahraga, Museum dr. Soetomo, Museum H.O.S. Tjokroaminoto, Rumah Lahir Bung Karno, serta Rumah Wafat W.R. Soepratman.
Pilihan sebanyak itu berguna bagi keluarga karena minat anak tidak selalu sama. Ada yang tertarik kendaraan dan benda fisik, ada yang senang melihat foto, sementara lainnya lebih mudah terhubung dengan cerita seorang tokoh.
Minat terhadap museum di Surabaya juga terlihat dari jumlah pengunjung. Data Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya mencatat museum yang dikelola pemerintah kota menerima sekitar 618 ribu kunjungan sepanjang 2024.
Jumlah tersebut memberikan gambaran bahwa museum masih memiliki tempat di tengah pilihan hiburan perkotaan. Tantangannya sekarang lebih pada bagaimana keluarga membuat kunjungan terasa seperti kegiatan liburan, bukan memindahkan suasana kelas ke akhir pekan.
Mulai dari Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember
Untuk kunjungan pertama bersama anak, Museum Sepuluh Nopember relatif mudah dijadikan pintu masuk. Museum berada di kompleks Tugu Pahlawan, salah satu landmark paling dikenal di Surabaya.
Tugu Pahlawan sendiri menjulang 40,50 meter. Angka tersebut bisa menjadi permainan kecil sebelum masuk museum: minta anak menebak tinggi monumen atau membandingkannya dengan bangunan yang biasa mereka lihat. Begitu masuk, perhatian bisa dialihkan pada benda nyata.
Museum Sepuluh Nopember memiliki ratusan koleksi yang berkaitan dengan perjuangan Surabaya. Di dalamnya terdapat foto dokumentasi, senjata, artefak, koleksi pribadi, serta diorama yang menggambarkan beberapa bagian peristiwa November 1945.
Diorama biasanya lebih bersahabat untuk pengunjung muda dibandingkan deretan teks panjang. Anak dapat melihat bentuk kota, posisi manusia, kendaraan, bangunan, dan suasana peristiwa dalam satu pandangan.
Ada pula koleksi teknologi dokumentasi masa lalu, termasuk kamera dan perlengkapan yang digunakan pada zamannya. Untuk anak yang tumbuh bersama kamera ponsel, benda tersebut dapat membuka percakapan sederhana mengenai cara orang merekam peristiwa sebelum teknologi digital hadir.
Rumah Tokoh Membuat Sejarah Terasa Manusiawi
Setelah museum besar, kunjungan berikutnya bisa dibuat lebih personal. Surabaya memiliki Rumah Lahir Bung Karno di kawasan Pandean. Sukarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, sebuah fakta yang kadang luput karena perjalanan hidupnya kemudian berkaitan dengan banyak kota di Indonesia.
Rumah H.O.S. Tjokroaminoto menawarkan pengalaman berbeda. Tempat tersebut berkaitan dengan tokoh pergerakan sekaligus lingkungan tempat sejumlah pemuda yang kemudian memainkan peran besar dalam perjalanan bangsa bertemu dengan gagasan politik dan kebangsaan.
Ada pula Rumah Wafat W.R. Soepratman. Tokoh kelahiran 9 Maret 1903 itu dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia Raya dan meninggal di Surabaya pada 17 Agustus 1938, tepat tujuh tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan.
Detail seperti ini sering lebih mudah menjadi bahan obrolan keluarga dibandingkan meminta anak mengingat kronologi panjang.
Anak bisa diajak membayangkan kehidupan seseorang melalui rumah yang pernah ditempatinya. Ukuran kamar, bentuk jendela, meja, foto keluarga, atau barang pribadi membuat masa lalu terasa memiliki ukuran dan bentuk. Sejarah kemudian tidak berhenti pada nama yang dicetak tebal dalam buku.
Anak Tak Perlu Membaca Semua Keterangan
Kesalahan yang cukup mudah terjadi ketika membawa anak ke museum adalah mencoba melihat semuanya. Orang dewasa saja bisa mengalami kelelahan museum setelah membaca terlalu banyak panel informasi. Pada anak, rasa bosan biasanya datang lebih cepat.
Cobalah memberi target yang lebih sederhana. Misalnya, selama satu kunjungan anak cukup menemukan tiga benda yang menurutnya paling aneh, paling tua, atau paling menarik. Setelah itu, tanyakan alasan pilihannya.
Cara tersebut memberi anak sedikit kendali terhadap pengalaman mereka sendiri. Keluarga juga bisa menggunakan kamera ponsel sebagai alat eksplorasi selama fotografi diperbolehkan pengelola. Minta anak memotret satu benda yang ingin diceritakan kembali kepada teman atau anggota keluarga di rumah.
Kunjungan akhirnya mempunyai tujuan kecil tanpa berubah menjadi tugas sekolah. Durasi pun tidak harus panjang. Satu museum yang dinikmati dengan santai sering lebih berkesan daripada mengejar empat lokasi dalam sehari.
Agustus Bisa Menjadi Awal, Bukan Jadwal Tahunan
Jumlah perjalanan wisata masyarakat Indonesia memberi konteks menarik terhadap kebiasaan liburan keluarga. Badan Pusat Statistik mencatat 1,02 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2024, meningkat 21,61 persen dibandingkan 2023.
Di tengah mobilitas sebesar itu, museum bersaing dengan pusat belanja, taman rekreasi, wisata alam, kuliner, dan berbagai bentuk hiburan keluarga lainnya.
Museum perjuangan memiliki satu kelebihan yang sulit ditiru destinasi lain: cerita yang melekat langsung pada tempatnya.
Bagi keluarga Surabaya, keuntungan lainnya adalah kedekatan. Kunjungan tidak selalu membutuhkan perjalanan panjang atau agenda seharian. Museum dapat disisipkan sebelum makan siang, setelah berjalan di pusat kota, atau menjadi bagian dari aktivitas akhir pekan.
Agustus memang memberikan alasan yang mudah untuk memulainya. Namun setelah anak menemukan bahwa museum berisi kamera tua, rumah kecil, foto kota zaman dahulu, atau diorama pertempuran, kunjungan berikutnya tak harus menunggu 17 Agustus lagi.
