JATIMNET.COM, Surabaya – Kinerja ekspor Jawa Timur secara keseluruhan sepanjang tahun 2018 kemarin mencatatkan kinerja cukup menggembirakan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur menyebut net ekspor sepanjang 2018 surplus Rp 95.24 trilliun.

“Neraca perdagangan Jatim secara net ekspor, eskpor luar negeri dikurangi dengan ekspor antar pulau dalam negeri masih surplus,” ujar Kepala Disperindag Jawa Timur Drajat Irawan saat dihubungi Jatimnet.com, Minggu 31 Maret 2019.

Ia menyebut, untuk perdagangan antar pulau, Jatim masih menguasai Indonesia bagian Timur. Dengan mengirim komoditi unggulan seperti beras, barang kerajinan, telur, cabai, bawang merah dan minyak goreng ke 19 provinsi. Sepanjang 2018, ekspor perdagangan antar pulau mencatatkan surplus Rp 208,14 trilliun.

BACA JUGA: Impor Beberapa Komoditi Buah Merosot

Sedangkan untuk perdagangan luar negeri, Drajat mengaku defisit mencapai Rp 112,91 trilliun. Hanya saja defisit ini tertutupi dengan kinerja perdagangan antar pulau yang cukup bagus, sehingga secara keseluruhan tetap berada di posisi bagus.

“Pasar ekspor luar negeri kita yang paling banyak ada di perhiasan, produk olahan kulit, dan mekanik,” ungkapnya.

Drajat menargetkan, perdagangan Jatim tahun ini secara keseluruhan minimal sama dengan realisasi tahun sebelumnya. Sepanjang  tahun 2018 kemarin, perdagangan Jatim tumbuh enam persen dibanding tahun sebelumnya.

Angka itu diklaim masih lebih tinggi di atas nasional dan mampu menopang 48 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur.

BACA JUGA: Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 0,33 Miliar Dolar AS

“Surplusnya net ekspor, pasar Asia saat ini hampir 24 persennya sudah kita rebut. Semua barang dari Jawa Timur mendominasi segitu,” urainya.

Untuk menjaga pasar agar tetap tumbuh bagus, Disperindag Jatim terus melakukan upaya peningkatan kualitas. Salah satunya dengan mendorong digitalisasi produk industri kecil menengah (IKM).

Sementara Pemprov Jatim menyatakan sektor makanan dan minuman pertumbuhannya paling tinggi, yakni 9,23 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari industri kimia 4,53 persen, otomotif 3,68 persen, serta industri tekstil dan pakaian jahit 3,76 persen.