Logo

Peran Nostalgia dalam Membentuk Identitas Generasi

Setiap generasi tumbuh dengan cerita yang berbeda, tetapi semuanya membutuhkan kenangan sebagai penanda perjalanan hidup.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 04 July 2026 11:30 UTC

Peran Nostalgia dalam Membentuk Identitas Generasi

Ilustrasi: Merawat Cerita Bersama. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Identitas generasi tidak terbentuk hanya oleh usia atau perkembangan teknologi. Cara seseorang mengenang masa kecil, lingkungan tempat tumbuh, musik yang didengar, hingga kebiasaan sehari-hari ikut membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Karena itu, nostalgia memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengenang masa lalu.

 

Fenomena ini semakin terlihat di era digital. Di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat, banyak orang justru kembali mencari cerita lama yang memberi rasa akrab dan nyaman.

 

Konten bertema nostalgia, arsip foto kota, permainan tradisional, hingga lagu-lagu lawas terus mendapatkan perhatian karena menghadirkan pengalaman yang terasa autentik.

 

Menurut Sensus Penduduk 2020 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), Generasi Z berjumlah sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94 persen penduduk Indonesia, sedangkan Generasi Milenial mencapai sekitar 69,38 juta jiwa atau 25,87 persen.

 

Artinya, lebih dari separuh penduduk Indonesia berasal dari dua generasi yang tumbuh pada masa transisi teknologi. Kondisi tersebut membuat proses membangun identitas menjadi semakin dinamis.

 

 

Pengalaman Bersama Melahirkan Identitas Kolektif

 

Setiap generasi memiliki simbol budaya yang mudah dikenali. Milenial tumbuh bersama televisi analog, telepon rumah, VCD, hingga warnet. Sementara Gen Z lebih akrab dengan internet berkecepatan tinggi, media sosial, layanan streaming, dan ponsel pintar sejak usia muda.

 

Perbedaan tersebut bukan sekadar soal perangkat teknologi. Setiap pengalaman melahirkan cara berkomunikasi, kebiasaan belajar, hingga pola membangun hubungan sosial yang berbeda.

 

Ketika seseorang mengingat kembali lagu, permainan, atau tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya, sebenarnya ia sedang memperkuat hubungan dengan kelompok sosial yang memiliki pengalaman serupa. Inilah yang membuat nostalgia menjadi fondasi identitas kolektif.

 

Di Surabaya, perubahan kota yang berlangsung pesat menghadirkan contoh nyata bagaimana identitas dapat tetap terjaga. Kawasan seperti Tunjungan, Jembatan Merah, hingga Kota Lama terus berkembang, tetapi tetap menyimpan cerita yang menghubungkan generasi lama dan generasi baru.

 

 

Nostalgia Membantu Memahami Perubahan

 

Perubahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Dalam waktu kurang dari dua dekade, masyarakat Indonesia telah beralih dari komunikasi berbasis SMS menuju aplikasi pesan instan, dari kamera saku menuju fotografi berbasis ponsel, hingga dari belanja konvensional menuju perdagangan digital.

 

Menurut survei APJII tahun 2024, tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 79,5 persen, atau sekitar 221,56 juta pengguna.

 

Angka tersebut menunjukkan betapa cepat transformasi digital berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

 

Di tengah perubahan tersebut, nostalgia membantu masyarakat melihat perjalanan yang telah dilalui. Kenangan menjadi titik pembanding yang membuat perkembangan teknologi lebih mudah dipahami, bukan sesuatu yang harus ditolak.

 

Karena itulah, banyak keluarga masih menyimpan album foto cetak, buku tahunan sekolah, atau benda-benda sederhana yang mengingatkan pada masa lalu. Nilainya bukan terletak pada bendanya, melainkan pada cerita yang melekat di dalamnya.

 

 

Media Sosial Mengubah Cara Generasi Mewariskan Cerita

 

Jika dahulu cerita keluarga diwariskan melalui percakapan langsung atau album foto, kini media sosial menjadi ruang baru untuk mendokumentasikan kenangan.

 

Foto lawas yang dipadukan dengan kondisi terkini suatu tempat sering memancing diskusi yang panjang. Anak-anak memperoleh gambaran tentang kehidupan orang tuanya, sementara generasi yang lebih tua melihat bagaimana kota dan masyarakat terus berkembang.

 

Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa nostalgia tidak lagi bersifat pribadi. Ia telah menjadi bagian dari memori digital yang dapat dinikmati bersama oleh jutaan orang.

 

Di Surabaya, semakin banyak komunitas sejarah, fotografi, dan budaya lokal yang memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan arsip kota kepada generasi muda. Langkah ini membantu memperkuat identitas lokal tanpa menghambat proses modernisasi.

 

 

Masa Depan Tetap Membutuhkan Kenangan

 

Teknologi akan terus berkembang, begitu pula cara manusia bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Namun satu hal yang tampaknya tidak berubah adalah kebutuhan untuk mengingat perjalanan yang telah dilalui.

 

Kenangan memberikan konteks terhadap perubahan. Dari sanalah seseorang memahami asal-usulnya, menghargai pengalaman hidup, dan menyusun harapan untuk masa depan.

 

Karena itu, peran nostalgia dalam membentuk identitas generasi tidak akan berakhir meski dunia semakin digital.

 

Justru di tengah perubahan yang semakin cepat, kenangan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan agar setiap generasi tetap memiliki akar yang kuat sekaligus siap menghadapi perkembangan zaman.