Selasa, 18 August 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Percakapan Makin Digital. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Cara orang Indonesia berkomunikasi berubah drastis dalam beberapa dekade terakhir. Surat pribadi makin jarang, telepon rumah kehilangan dominasinya, sementara percakapan keluarga, pekerjaan, transaksi, dan urusan lingkungan kini bisa berpindah ke layar berukuran beberapa inci.
Perubahan tersebut terasa sangat biasa sehingga kadang luput diperhatikan. Di Surabaya, grup WhatsApp RT bisa lebih sibuk daripada pos ronda.
Undangan datang lewat pesan digital. Pedagang mengabari pelanggan melalui aplikasi, sedangkan anggota keluarga yang tinggal berbeda kota tetap bisa bertatap muka melalui video.
Transformasinya memang didorong teknologi. Namun, yang sebenarnya berubah jauh lebih luas: kapan orang merasa perlu menghubungi seseorang, seberapa cepat balasan diharapkan, dan batas antara percakapan pribadi dengan urusan publik.
Ketika Telepon Rumah Perlahan Keluar dari Ruang Tamu
Ada masa ketika satu nomor telepon mewakili seluruh penghuni rumah. Orang yang menelepon belum tentu langsung berbicara dengan orang yang dicari. Kadang ayah, ibu, kakak, atau anggota keluarga lain lebih dahulu mengangkat gagang. Pola itu praktis menghilang dari banyak rumah.
Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik mencatat hanya 0,99 persen rumah tangga Indonesia yang memiliki atau menguasai telepon tetap kabel pada 2024. Pada 2023 porsinya masih 1,17 persen.
Telepon seluler bergerak ke arah sebaliknya. Pada 2024, 68,65 persen penduduk Indonesia tercatat memiliki telepon seluler. Perbedaannya tidak berhenti pada perangkat.
Telepon rumah menempatkan komunikasi pada sebuah lokasi. Ponsel membawanya mengikuti manusia. Percakapan bisa berlangsung di bus, warung, ruang tunggu klinik, kantor, pasar, bahkan sambil menunggu lampu lalu lintas berganti.
Di kota dengan mobilitas tinggi seperti Surabaya, sifat tersebut sangat relevan. Komunikasi tidak lagi menunggu seseorang tiba di rumah.
Internet Membuat Percakapan Sulit Dipisahkan dari Aktivitas Lain
BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023.
Survei APJII menggunakan metodologi berbeda dan menghasilkan angka penetrasi yang lebih tinggi.
Pada survei 2024, APJII memperkirakan pengguna internet Indonesia mencapai 221,56 juta orang, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen.
Dua angka tersebut tidak perlu dipertentangkan karena sumber, definisi, dan metodologi pengukurannya berbeda. Keduanya memberi gambaran yang sama mengenai satu arah perubahan: internet sudah menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Dulu orang menelepon untuk berbicara. Sekarang satu aplikasi percakapan dapat dipakai mengirim teks, foto, dokumen, lokasi, rekaman suara, panggilan video, hingga bukti pembayaran. Percakapan akhirnya ikut berubah bentuk.
Pesan suara menjadi jalan tengah ketika seseorang malas mengetik tetapi tidak ingin menelepon. Emoji menggantikan sebagian ekspresi wajah. Tanda centang bisa memunculkan ekspektasi bahwa pesan segera dibalas.
Bahkan diam memiliki arti baru. Pesan yang sudah terbaca tetapi lama tidak mendapat jawaban dapat ditafsirkan berbeda, meski orang di balik layar mungkin sedang bekerja atau mengemudi.
Teknologi mempercepat komunikasi, sementara manusia masih harus belajar mengelola harapan terhadap kecepatan itu.
Dari Mengobrol sampai Membayar, Semuanya Bertemu di Ponsel
Perubahan komunikasi digital semakin sulit dipisahkan dari perubahan ekonomi sehari-hari. Seorang pelanggan bisa mengetahui menu melalui media sosial, bertanya melalui aplikasi percakapan, memesan makanan, lalu membayar tanpa uang tunai.
Seluruh hubungan antara penjual dan pembeli berlangsung melalui beberapa sentuhan layar. Skalanya sudah sangat besar.
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada triwulan II 2026 mencapai 16,07 miliar transaksi, tumbuh 36,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Transaksi melalui aplikasi mobile tumbuh 31,39 persen secara tahunan. QRIS bahkan mencatat pertumbuhan volume transaksi 100,12 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Pada periode yang sama, BI-FAST memproses sekitar 1,529 miliar transaksi ritel dengan nilai mencapai Rp3.777 triliun.
Perubahan tersebut membuat komunikasi bisnis semakin ringkas. Percakapan seperti “sudah ditransfer” kini sering cukup dijawab dengan emoji atau foto bukti pembayaran.
Penjual rumahan dapat mengelola pelanggan dari ponsel. Usaha kecil tidak harus memiliki meja kasir yang rumit untuk menerima transaksi digital.
Fenomena ini mudah dijumpai di Surabaya. Dari kedai kopi modern sampai usaha makanan skala kecil, papan QR sudah menjadi pemandangan yang biasa.
Bank Indonesia mencatat hingga Juni 2025 terdapat 57 juta pengguna QRIS dan 39,3 juta merchant. Sebanyak 93,16 persen merchant QRIS merupakan UMKM.
Jadi, ponsel sekarang memegang dua fungsi yang dahulu terpisah: tempat percakapan terjadi sekaligus tempat transaksi diselesaikan.
Komunikasi Cepat Membawa Etika Baru
Kemudahan tersebut juga menciptakan kebiasaan yang belum dikenal generasi sebelumnya. Ada persoalan sederhana seperti waktu mengirim pesan.
Pesan pekerjaan yang masuk pukul 10 malam mungkin secara teknis dapat diterima, tetapi penerimanya belum tentu ingin membahas pekerjaan ketika sedang bersama keluarga.
Grup percakapan juga mempertemukan karakter manusia yang sangat berbeda. Ada orang yang rajin membaca tanpa membalas, ada yang gemar meneruskan informasi, ada pula yang menanggapi hampir setiap pesan.
Kemampuan menggunakan aplikasi akhirnya belum tentu sama dengan kemampuan berkomunikasi dengan baik. Internet bahkan membuat orang perlu memeriksa sesuatu yang dahulu jarang menjadi persoalan: apakah orang di balik pesan benar-benar orang yang mengaku mengirimnya.
Permintaan uang mendadak, tautan asing, akun yang diambil alih, hingga informasi tanpa sumber dapat beredar melalui ruang yang sama dengan percakapan keluarga.
Kebiasaan mengonfirmasi lewat kanal lain menjadi bentuk kehati-hatian yang makin relevan.
Ada pula persoalan privasi yang sering terlihat sepele. Foto seseorang dapat diteruskan ke grup lain dalam hitungan detik. Tangkapan layar percakapan pribadi dapat berpindah tangan tanpa sepengetahuan pengirim. Jejak percakapan sekarang jauh lebih mudah disimpan daripada obrolan di teras rumah.
Indonesia Tetap Suka Bertemu Langsung
Kemajuan komunikasi digital tidak otomatis menghapus kebutuhan bertatap muka. Justru keseharian kota menunjukkan keduanya hidup berdampingan.
Orang membuat janji lewat aplikasi, kemudian bertemu di kedai kopi. Grup keluarga ramai setiap hari, tetapi makan bersama tetap dicari. Warga berkoordinasi melalui ponsel, lalu datang langsung ketika ada kerja bakti atau hajatan.
Pemandangan selepas perayaan kemerdekaan di Surabaya memberi contoh kecil. Pesan, foto lomba dan video kegiatan mungkin sudah memenuhi grup warga sejak malam sebelumnya. Keesokan harinya, orang-orang yang sama masih bisa berhenti di depan rumah untuk membicarakan acara kemarin.
Cara orang Indonesia berkomunikasi memang telah bergerak jauh dari masa surat dan telepon rumah. Internet membuat jarak terasa pendek, transaksi menjadi cepat, dan satu orang dapat terhubung dengan banyak lingkaran sekaligus.
Tetapi teknologi belum menemukan tombol untuk menggantikan seluruh nuansa percakapan manusia.
Kadang pesan singkat sudah cukup. Untuk urusan tertentu, telepon terasa lebih tepat. Dan sesekali, duduk satu meja tetap menyelesaikan sesuatu yang terlalu panjang jika harus diketik di layar.
