Logo

Pesan Satu Minuman, Nongkrong Bisa Berjam-jam

Nilai sebuah tempat kadang bukan dihitung dari banyaknya pesanan, tetapi dari kenyamanan yang membuat orang betah tinggal.
Reporter:,Editor:

Kamis, 01 October 2026 11:00 UTC

Pesan Satu Minuman, Nongkrong Bisa Berjam-jam

Ilustrasi: Secangkir, Berjam-jam. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Pesan satu minuman lalu nongkrong cukup lama menjadi pemandangan yang mudah ditemui di banyak tempat. Secangkir kopi atau teh bisa menemani percakapan yang berlangsung jauh lebih panjang daripada waktu menghabiskan minumannya.

Kebiasaan ini memperlihatkan bahwa orang tidak selalu datang ke warung hanya untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum. Tempat duduk, suasana, harga yang terjangkau, serta kesempatan bertemu orang lain ikut menentukan alasan seseorang bertahan.

Ekosistem usaha makanan dan minuman Indonesia sendiri sangat besar. Badan Pusat Statistik mencatat terdapat sekitar 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman pada 2024, naik sekitar 8,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 2,51 juta atau 47,59 persen termasuk kelompok restoran dan rumah makan. Data itu mencakup beragam jenis usaha, bukan hanya warung kopi.

Besarnya ekosistem tersebut menunjukkan bahwa tempat makan dan minum sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebagian tempat kemudian menjalankan fungsi tambahan sebagai ruang untuk menghabiskan waktu bersama.

 

Satu Minuman Bisa Membeli Waktu untuk Mengobrol

Saat seseorang memesan kopi di warung, yang diperoleh sebenarnya bukan hanya minuman. Ada meja, kursi, suasana, serta kesempatan berhenti dari aktivitas harian.

Itulah yang membuat durasi kunjungan tidak selalu sejalan dengan jumlah pesanan. Minuman mungkin habis dalam 20 menit, sementara percakapan dapat berlangsung satu atau dua jam.

Bagi pengunjung, pola seperti ini membuat nongkrong terasa terjangkau. Tidak harus memesan berulang kali hanya untuk mempertahankan tempat duduk selama percakapan berlangsung.

Kebiasaan membeli makanan dan minuman siap konsumsi juga terlihat dalam pengeluaran rumah tangga. Susenas BPS mencatat rata-rata pengeluaran per kapita untuk makanan dan minuman jadi mencapai Rp248.501 per bulan pada 2025.

Angka itu meningkat dibandingkan 2024 yang berada pada Rp238.902 per kapita per bulan. Dengan perhitungan sederhana, kenaikannya sekitar 4 persen dalam setahun.

Di wilayah perkotaan, pengeluaran makanan dan minuman jadi pada 2025 bahkan mencapai rata-rata Rp294.188 per kapita per bulan. Di perdesaan, nilainya Rp181.387.

Data tersebut tidak secara khusus menggambarkan pengeluaran di warung kopi. Namun, angkanya menunjukkan makanan dan minuman siap konsumsi memiliki porsi nyata dalam kebiasaan belanja masyarakat.

 

Harga Terjangkau Membuat Warung Lebih Fleksibel

Warung kopi memiliki karakter yang berbeda dengan tempat makan yang mengandalkan pergantian meja cepat. Banyak warung lingkungan tumbuh bersama pelanggan yang datang berulang kali.

Hubungan penjual dan pembeli pun sering berkembang menjadi lebih personal. Pemilik mengenali minuman langganan, sementara pelanggan mengenal orang-orang yang biasa datang.

Karena itu, satu gelas minuman kadang bukan sekadar transaksi tunggal. Pelanggan yang hari ini hanya memesan kopi bisa kembali besok untuk sarapan atau membawa teman lain.

Kenyamanan seperti ini membuat warung memiliki nilai sosial yang sulit diterjemahkan hanya melalui jumlah barang yang dibeli setiap kunjungan.

Di sisi lain, kebiasaan nongkrong lama tetap membutuhkan kepekaan. Warung adalah ruang sosial, tetapi juga tempat orang mencari penghasilan.

Ketika warung sedang penuh, membeli tambahan minuman atau camilan bisa menjadi bentuk apresiasi sederhana. Memberikan tempat kepada pelanggan lain juga dapat menjaga suasana tetap nyaman.

Kebiasaan tersebut tidak perlu berubah menjadi aturan kaku. Intinya adalah memahami bahwa kenyamanan pengunjung dan keberlangsungan usaha perlu berjalan bersama.

 

Nongkrong Lama Tidak Selalu Berarti Boros

Budaya nongkrong sering diasosiasikan dengan pengeluaran tambahan. Kenyataannya, pilihan tempat sangat menentukan berapa besar biaya yang dikeluarkan.

Warung memungkinkan seseorang bertemu teman tanpa harus membuat acara khusus. Cukup menentukan lokasi, memesan minuman, kemudian percakapan berjalan dengan sendirinya.

Sifat sederhana ini penting ketika melihat pola pengeluaran masyarakat. Pada 2025, BPS mencatat rata-rata total pengeluaran penduduk Indonesia mencapai sekitar Rp1,57 juta per kapita per bulan.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp775.516 dialokasikan untuk kelompok makanan dan Rp793.572 untuk kebutuhan bukan makanan.

Artinya, setiap pilihan konsumsi tetap berada di tengah kebutuhan rumah tangga lainnya. Nongkrong dengan biaya yang terkendali menjadi salah satu cara orang mempertahankan aktivitas sosial tanpa harus menjadikannya pengeluaran besar.

Namun, murah tidak harus berarti memesan seminimal mungkin setiap saat. Jika berkunjung cukup lama, membeli makanan kecil atau menambah minuman tetap bisa dipertimbangkan sesuai kemampuan.

Hubungan antara pelanggan dan warung akan terasa lebih sehat ketika kedua pihak sama-sama mendapatkan manfaat.

 

Waktu Bersama Kini Bersaing dengan Layar

Ada alasan lain mengapa duduk lama di warung terasa menarik. Kehidupan sehari-hari semakin dipenuhi komunikasi melalui perangkat digital.

BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Setahun sebelumnya, angkanya 69,21 persen.

Artinya, dalam satu tahun terjadi peningkatan sekitar 3,57 poin persentase. Internet semakin dekat dengan pekerjaan, hiburan, transaksi, pencarian informasi, dan percakapan sehari-hari.

Namun, kemudahan berkirim pesan tidak membuat pertemuan langsung menjadi tidak diperlukan. Duduk satu meja memberi bentuk komunikasi yang berbeda.

Orang dapat melihat ekspresi, mendengar intonasi, menangkap candaan, dan merespons cerita tanpa harus menunggu tanda seseorang sedang mengetik.

Menariknya, smartphone tetap bisa berada di meja. Tantangannya bukan menghilangkan teknologi, melainkan menjaga agar orang yang hadir secara fisik tetap mendapatkan perhatian.

Satu minuman yang menemani percakapan panjang akhirnya memiliki fungsi sederhana. Ia menjadi alasan untuk duduk dan memberi waktu kepada hubungan sosial.

 

Etika Kecil Membuat Nongkrong Tetap Nyaman

Pesan satu minuman lalu duduk lama sebenarnya bukan masalah selama situasinya memungkinkan. Yang lebih penting adalah membaca kondisi tempat.

Saat kursi masih banyak, pengunjung mempunyai ruang lebih leluasa. Situasinya berbeda ketika warung penuh dan beberapa pelanggan kesulitan mendapatkan tempat.

Menjaga kebersihan meja juga penting. Gelas, bungkus makanan, tisu, dan sampah kecil sebaiknya tidak dibiarkan berantakan hanya karena seseorang merasa sudah menjadi pelanggan tetap.

Begitu pula dengan volume percakapan. Nongkrong boleh santai, tetapi pengunjung lain tetap berhak menikmati ruang yang sama.

Kebiasaan kecil tersebut membuat budaya nongkrong tetap menyenangkan tanpa mengabaikan orang lain maupun pemilik usaha.
Pada akhirnya, pesan satu minuman dan nongkrong berjam-jam bukan semata cerita tentang berhemat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menggunakan tempat makan dan minum sebagai ruang sosial.

Nilai secangkir kopi terkadang tidak berhenti ketika gelas sudah kosong. Ada waktu, cerita, pertemanan, dan rasa akrab yang tumbuh selama orang masih duduk di meja.

Warung kopi mampu menyediakan semua itu melalui cara yang sederhana. Selama pengunjung tetap memahami etika dan menghargai usaha pemiliknya, satu minuman dapat menjadi pintu masuk untuk percakapan yang jauh lebih panjang.