Selasa, 18 August 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Hiburan Berganti Layar. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Hiburan keluarga Indonesia pernah berpusat pada satu suara dan satu layar. Radio menyala di sudut rumah, lalu televisi mengambil tempat utama di ruang keluarga. Sekarang pilihannya berhamburan ke smart TV, ponsel, tablet, podcast, video pendek, dan layanan streaming.
Perubahannya terasa jelas di kota seperti Surabaya. Selepas makan malam, satu keluarga bisa berada di ruangan yang sama tetapi menikmati konten berbeda. Ayah mengikuti pertandingan dari televisi, anak menonton serial melalui ponsel, sementara ibu membuka video resep sambil membalas pesan keluarga.
Ruang keluarga tidak kehilangan fungsi. Hanya saja, pusat hiburannya tidak lagi selalu berada di tengah ruangan.
Dulu Jadwal Siaran Mengatur Waktu Menonton
Generasi yang tumbuh bersama televisi analog mengenal satu kebiasaan yang semakin asing: menunggu. Film diputar pada jam tertentu. Acara musik mempunyai jadwal. Kartun anak ditunggu pada pagi hari. Ketika siaran selesai, penonton tidak bisa langsung mengulang episode dari awal.
Radio bahkan lebih sederhana. Orang mendengarkan apa yang sedang diputar penyiar saat itu. Model hiburan semacam ini secara tidak langsung menciptakan pengalaman bersama. Banyak orang menonton acara yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan, lalu membicarakannya esok hari di sekolah, kantor atau warung.
Televisi masih mempunyai tempat kuat dalam kehidupan keluarga Indonesia sampai sekarang. Data Badan Pusat Statistik dalam Profil Anak Usia Dini 2025, berdasarkan Susenas Modul Sosial Budaya dan Pendidikan 2024, mencatat 77,86 persen anak Indonesia usia 5–6 tahun menonton siaran televisi dalam seminggu terakhir.
Pada kelompok tersebut, persentasenya mencapai 81,90 persen di perkotaan dan 72,33 persen di perdesaan. Jadi, masuknya streaming tidak otomatis membuat televisi hilang dari rumah. Yang lebih tepat terjadi adalah perubahan fungsi layar tersebut.
Televisi Berubah Sebelum Sempat Ditinggalkan
Perjalanan televisi Indonesia sendiri mengalami lompatan besar saat sistem penyiaran bergerak dari analog menuju digital.
Pemerintah menetapkan penghentian siaran televisi analog atau Analog Switch Off dengan batas akhir 2 November 2022 pukul 24.00 WIB. Peralihan tersebut membuat siaran televisi terestrial beralih menggunakan teknologi digital.
Bagi penonton, perubahan paling mudah dirasakan dari cara menerima siaran. Televisi analog lama masih bisa digunakan dengan perangkat set-top box, sementara televisi yang telah memiliki penerima DVB-T2 dapat menangkap siaran digital secara langsung.
Tetapi digitalisasi televisi berlangsung pada saat kebiasaan masyarakat sudah bergerak lebih jauh. Televisi sekarang tidak selalu digunakan untuk “menonton TV”.
Perangkat yang sama bisa membuka YouTube, film streaming, musik, video olahraga, atau konten dari ponsel yang diproyeksikan ke layar lebih besar. Satu benda lama memperoleh pekerjaan baru.
Di banyak rumah Surabaya, pemandangannya cukup familiar. Televisi tetap menempel di dinding ruang keluarga, tetapi remote bersaing dengan ponsel untuk menentukan apa yang akan ditonton malam itu.
Internet Membuat Penonton Tidak Perlu Menunggu
Perubahan terbesar terjadi ketika hiburan tidak lagi mengikuti jadwal penyiar. Badan Pusat Statistik mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023. Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk memiliki telepon seluler.
Survei Profil Internet Indonesia 2025 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia memberikan gambaran dengan metodologi berbeda. APJII memperkirakan penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66 persen pada 2025, setara sekitar 229,43 juta orang dari populasi sekitar 284,44 juta jiwa.
Ketika akses sebesar itu bertemu dengan ponsel, pola menikmati hiburan pun menjadi sangat personal. Orang dapat menonton satu episode pada pukul dua siang atau dua dini hari.
Lagu yang baru teringat bisa diputar saat itu juga. Siaran yang terlewat dapat dicari kembali. Satu serial bahkan dapat diselesaikan dalam satu akhir pekan.
Kebebasan memilih waktu membuat kegiatan menonton lebih fleksibel, tetapi sekaligus menghapus sebagian pengalaman menunggu yang dahulu menjadi bagian dari hiburan itu sendiri.
Tidak ada lagi alasan kuat untuk pulang lebih cepat hanya karena acara favorit segera dimulai.
Satu Rumah, Banyak Layar
Perubahan ini sangat terasa pada keluarga dengan anggota dari beberapa generasi. Nielsen pada 2025 mencatat lebih dari 70 persen Gen Z dan Gen Y di Indonesia memiliki smartphone sekaligus televisi. Adopsi smart TV juga meningkat, terutama pada rumah tangga perkotaan dan rumah tangga yang lebih muda.
Ini menghasilkan pola yang agak unik. Layar besar tidak benar-benar digantikan layar kecil. Keduanya dipakai bersamaan.
Nielsen juga menemukan Gen Z Indonesia memiliki kemungkinan 42 persen lebih besar dibandingkan rata-rata penduduk untuk menemukan produk melalui kebiasaan menggunakan beberapa layar sekaligus. Pada Gen Y, kemungkinannya sekitar 8 persen lebih tinggi.
Walau data tersebut berkaitan dengan perilaku penemuan produk, kebiasaannya memberi petunjuk tentang cara hiburan modern dikonsumsi.
Seseorang dapat menonton acara televisi sambil mencari pemainnya di internet. Pertandingan sepak bola berjalan di layar besar, sementara komentar warganet dibaca lewat ponsel. Lagu dari sebuah film kemudian dicari di layanan musik.
Menonton tidak lagi selalu menjadi aktivitas tunggal. Di ruang keluarga Surabaya pada malam hari, hal semacam itu bahkan terasa terlalu biasa untuk disebut sebagai perubahan teknologi.
Radio Tidak Hilang, Ia Berubah Bentuk
Nasib radio juga menarik. Radio konvensional tidak lagi memegang posisi sebesar ketika televisi dan internet belum tersedia luas, tetapi kebiasaan mendengarkan audio justru menemukan banyak bentuk baru.
Musik berpindah ke aplikasi. Obrolan panjang menemukan rumah di podcast. Siaran radio dapat didengarkan melalui internet. Potongan percakapan dari sebuah program kemudian hidup lagi sebagai video pendek di media sosial.
BPS masih mempertahankan indikator penduduk berusia 10 tahun ke atas yang mendengarkan siaran radio dalam seminggu terakhir dalam statistik sosial budaya nasional.
Dalam metodologinya, kegiatan mendengarkan radio dibedakan secara khusus dari mendengarkan musik atau rekaman biasa. Pembedaan itu semakin relevan saat ini.
Sebab yang bertahan bukan selalu perangkat radionya, melainkan kebutuhan terhadap audio sebagai teman aktivitas. Orang mendengarkan sesuatu sambil mengemudi, memasak, berolahraga atau menyelesaikan pekerjaan rumah.
Radio yang dahulu berdiri sebagai kotak di ruang tengah kini seperti pecah menjadi banyak format.
Pilihan Banyak, Waktu Tetap 24 Jam
Streaming memberikan kebebasan yang dulu sulit dibayangkan. Namun banyaknya pilihan membawa persoalan sederhana: manusia tetap mempunyai jumlah waktu yang sama setiap hari.
Daftar tontonan dapat bertambah lebih cepat daripada kesempatan menontonnya. Keluarga juga perlu bernegosiasi dengan bentuk hiburan yang semakin individual.
Ketika setiap anggota rumah memiliki layar dan headphone sendiri, kebersamaan tidak lagi tercipta otomatis karena semua orang terpaksa menonton program yang sama. Bukan berarti pola lama selalu lebih baik.
Pilihan personal memungkinkan anak menonton konten sesuai usia, orang tua menikmati acara favoritnya, dan anggota keluarga menemukan hiburan yang sesuai minat masing-masing. Masalah baru muncul ketika layar terus menyala tanpa batas yang jelas.
Teknologi memberi kontrol lebih besar kepada penonton. Kontrol itulah yang perlu digunakan. Kadang keluarga memilih satu film untuk ditonton bersama. Pada malam lain, setiap orang menikmati kontennya sendiri. Sesekali televisi bahkan mati karena semua memilih mengobrol atau keluar mencari makan.
Begitulah hiburan keluarga Indonesia bergerak dari radio hingga streaming. Perangkat berganti, pilihan membesar, dan jadwal siaran kehilangan kuasanya.
Di sebuah rumah Surabaya, radio lama mungkin masih tersimpan di lemari sementara smart TV menyala di dinding dan tiga ponsel terhubung ke Wi-Fi. Tidak ada yang benar-benar aneh dengan pemandangan itu.
Delapan puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka, sejarah hiburan ternyata ikut tersimpan di ruang keluarga.
