Selasa, 18 August 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Kota Terus Bergerak. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Mobilitas masyarakat Indonesia berubah bersama pertumbuhan kota, jaringan jalan, kendaraan pribadi, transportasi umum, dan kebiasaan bepergian. Sepeda motor masih sangat dekat dengan keseharian, tetapi kereta, bus, pesawat, hingga layanan transportasi berbasis aplikasi ikut memperluas pilihan.
Surabaya memberi gambaran yang akrab. Pagi hari mempertemukan motor yang keluar dari gang permukiman, bus kota yang mengambil penumpang, mobil pribadi, pekerja berjalan menuju halte, serta kendaraan logistik yang mengantar barang.
Semuanya bergerak menuju tujuan berbeda di ruang jalan yang sama. Dari situ, persoalan transportasi modern sebenarnya dimulai.
Kendaraan Pribadi Tumbuh karena Memberi Fleksibilitas
Sepeda motor mempunyai posisi yang sulit digantikan dalam mobilitas harian masyarakat Indonesia. Bentuknya ringkas, relatif mudah diparkir, dan bisa mencapai jalan lingkungan yang tidak selalu terlayani angkutan umum.
Data terbaru dalam Statistik Transportasi Darat 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik juga memperlihatkan skala kendaraan bermotor di Indonesia yang sangat besar.
Publikasi tersebut menghimpun perkembangan kendaraan, panjang jalan, kecelakaan, SIM, dan angkutan kereta api dari berbagai instansi resmi. Dominasi kendaraan pribadi bukan muncul tanpa alasan.
Perjalanan sehari-hari jarang berlangsung lurus dari rumah menuju satu tujuan lalu kembali. Orang bisa mengantar anak, bekerja, membeli kebutuhan rumah, mampir mengambil pesanan, kemudian pulang. Kendaraan pribadi memberikan keluwesan untuk rangkaian perjalanan semacam itu.
Masalah mulai terasa ketika fleksibilitas yang sama dipilih oleh sangat banyak orang pada waktu yang hampir bersamaan. Ruas jalan mempunyai kapasitas terbatas. Jumlah kendaraan dapat terus bertambah, sementara pelebaran jalan di kota padat tidak selalu mudah dilakukan. Rumah, toko, trotoar, saluran air dan ruang publik sudah lebih dahulu mengisi ruang kota.
Surabaya mengenal situasi tersebut dengan baik. Pada jam berangkat dan pulang kerja, perjalanan beberapa kilometer dapat terasa sangat berbeda dibandingkan saat jalan lengang.
Kereta Kembali Menjadi Bagian Penting Perjalanan
Di tengah kuatnya kendaraan pribadi, perjalanan menggunakan angkutan massal juga mencatat pertumbuhan yang besar. BPS mencatat jumlah penumpang kereta api di Indonesia sepanjang Januari–Desember 2024 mencapai 504,6 juta orang. Jumlah itu meningkat 17,81 persen dibandingkan 2023.
Skalanya memberi perspektif menarik. Kereta bukan moda masa lalu yang perlahan ditinggalkan masyarakat. Di sejumlah wilayah, justru perannya kembali menguat ketika mobilitas penduduk meningkat dan jalan raya semakin padat.
Kereta menawarkan sesuatu yang sulit diberikan kendaraan pribadi: kemampuan membawa banyak orang dalam satu perjalanan tanpa menambahkan kendaraan dalam jumlah setara ke jalan raya.
Namun pengalaman penumpang tidak berhenti ketika kereta tiba di stasiun.
Seseorang masih harus mencapai tempat kerja, sekolah, rumah, hotel, rumah sakit atau pusat kegiatan lainnya. Jika perjalanan dari stasiun menuju tujuan akhir terlalu rumit, kendaraan pribadi kembali terasa lebih praktis.
Itu sebabnya pembicaraan mengenai transportasi umum sekarang semakin sering menyentuh integrasi. Halte, stasiun, trotoar, angkutan pengumpan, jadwal dan sistem pembayaran perlu bekerja sebagai rangkaian perjalanan, bukan berdiri sendiri.
Bagi Surabaya dan kawasan metropolitan di sekitarnya, persoalan semacam ini akan semakin relevan. Aktivitas masyarakat tidak berhenti di batas administrasi kota. Setiap hari ada perjalanan yang menghubungkan Surabaya dengan Sidoarjo, Gresik dan kawasan sekitarnya.
Orang Indonesia Ternyata Sangat Sering Bepergian
Besarnya mobilitas nasional semakin terlihat saat memasuki musim perjalanan. Kementerian Perhubungan mencatat 21.461.491 penumpang angkutan umum selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, yakni 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Jumlah tersebut naik 12,48 persen dibandingkan periode sebelumnya yang mencatat 19.079.881 penumpang.
Kereta api menjadi penyumbang terbesar dengan 7.573.881 penumpang. Angkutan udara melayani 4.768.675 penumpang, penyeberangan 3.725.343 penumpang, angkutan jalan 3.138.859 penumpang, sedangkan angkutan laut mencapai 2.254.733 penumpang.
Beberapa bulan kemudian, pola pergerakan besar kembali terlihat. Kementerian Perhubungan mencatat sejak H-8 hingga hari H Lebaran 2026 terdapat 10.887.584 perjalanan penumpang angkutan umum. Jumlah itu naik 8,58 persen dibandingkan periode yang sama pada Lebaran 2025.
Kereta kembali mencatat jumlah tertinggi, yakni 3.349.343 penumpang. Penyeberangan mencapai 2.664.004 penumpang, pesawat 2.397.192 penumpang, bus 1.693.931 penumpang, dan kapal laut 783.114 penumpang.
Data pada periode khusus seperti Lebaran dan Nataru tentu tidak mewakili pola perjalanan harian sepanjang tahun. Ia berguna untuk melihat satu karakter penting masyarakat Indonesia: kebutuhan bergerak antarkota dan antarpulau tetap sangat besar.
Transportasi bagi orang Indonesia berkaitan erat dengan pekerjaan, keluarga, perdagangan, pendidikan, wisata, serta kebiasaan pulang ke daerah asal.
Waktu Perjalanan Diam-diam Menjadi Biaya
Ada biaya transportasi yang mudah terlihat. Bensin, tiket, tarif parkir, tol dan ongkos perjalanan dapat langsung dihitung. Waktu lebih sulit dimasukkan ke dalam dompet.
Perjalanan yang terlalu lama mengurangi waktu bersama keluarga, waktu istirahat, bahkan kesempatan melakukan aktivitas lain. Bagi pekerja yang harus berpindah tempat beberapa kali sehari, selisih 20 atau 30 menit dapat terasa besar ketika terakumulasi selama seminggu.
Kementerian Perhubungan bahkan menyebut tingginya biaya transportasi di Indonesia dapat menggerus sekitar 30–40 persen pendapatan masyarakat dalam konteks yang melatarbelakangi pengembangan sistem angkutan umum massal perkotaan.
Pemerintah tengah menjalankan Indonesia Mass Transit Project dengan dukungan Bank Dunia dan Agence Française de Développement. Nilai proyek yang disebut Kementerian Perhubungan mencapai sekitar Rp3,7 triliun, dengan periode pelaksanaan 2022 hingga pertengahan 2027.
Pilot pengembangan sistem BRT dalam proyek tersebut berada di Medan dan Bandung. Pesannya tetap relevan bagi kota besar lain: transportasi umum perlu cukup nyaman dan praktis agar masyarakat memiliki alasan nyata untuk menggunakannya. Orang jarang memilih moda transportasi berdasarkan teori.
Mereka mempertimbangkan berapa lama harus menunggu, apakah harus berganti kendaraan, seberapa jauh berjalan kaki, apakah aman ketika pulang malam, serta berapa uang yang habis sampai tujuan.
Kota Nyaman Tidak Harus Membuat Semua Orang Berkendara
Selama puluhan tahun, kemajuan mobilitas mudah diasosiasikan dengan semakin banyak orang mampu memiliki kendaraan. Ada unsur kebebasan di sana. Kendaraan membuat seseorang tidak sepenuhnya bergantung pada jadwal dan rute.
Namun kota dengan jutaan penduduk membutuhkan pilihan lebih banyak daripada satu cara bepergian. Transportasi umum yang layak memberi pilihan kepada pekerja yang tidak ingin menyetir.
Trotoar yang nyaman membantu perjalanan pendek. Kereta menangani pergerakan dalam jumlah besar. Kendaraan pribadi tetap berguna untuk perjalanan yang sulit dilayani moda lain.
Pilihan tersebut juga penting ketika usia penduduk semakin beragam. Anak, lansia, penyandang disabilitas, pekerja malam dan keluarga dengan bayi mempunyai kebutuhan perjalanan yang tidak selalu sama.
Itulah tantangan berikutnya dalam mobilitas masyarakat Indonesia: bukan menentukan satu kendaraan yang paling benar untuk semua orang, tetapi membuat beberapa moda dapat hidup bersama secara masuk akal.
Surabaya selepas 17 Agustus tetap bergerak seperti biasanya. Motor keluar dari permukiman, bus berhenti mengambil penumpang, kereta membawa pekerja dari kawasan sekitar, dan pejalan kaki menunggu lampu penyeberangan.
Kemerdekaan bergerak hari ini mungkin sesederhana mempunyai pilihan perjalanan yang aman, terjangkau, dan tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencapai tempat yang sebenarnya tidak terlalu jauh.
