Selasa, 18 August 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Indonesia Terus Berubah. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Gaya hidup Indonesia pada usia 81 tahun kemerdekaan sudah berada sangat jauh dari keseharian generasi awal Republik. Perubahannya tidak selalu hadir melalui sesuatu yang besar. Ia terlihat dari ponsel di tangan, perjalanan menuju tempat kerja, usia hidup yang makin panjang, hingga cara keluarga mengatur pengeluaran.
Di Surabaya, perubahan itu mudah ditemukan sejak pagi. Jalanan mulai padat, pengemudi ojek daring berhenti di depan pertokoan, pembayaran dilakukan lewat layar, sementara makanan dapat tiba tanpa pembeli meninggalkan rumah.
Namun, perubahan gaya hidup tidak bergerak dengan kecepatan yang sama bagi setiap orang. Indonesia menjadi semakin terkoneksi dan kualitas hidup membaik, tetapi kesenjangan akses masih ikut berjalan di belakangnya.
Dari 270 Juta Penduduk, Indonesia Makin Urban
Indonesia hari ini jauh lebih padat dibandingkan beberapa dekade lalu. Hasil Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik mencatat 270,20 juta penduduk, bertambah 32,56 juta dibandingkan sensus 2010.
Laju pertumbuhan penduduk selama 2010–2020 mencapai rata-rata 1,25 persen per tahun. Kepadatan penduduk nasional pada 2020 berada di angka 141 jiwa per kilometer persegi.
Perubahan demografi tersebut terasa kuat di kota besar. Rumah semakin dekat dengan pusat aktivitas, perjalanan harian menjadi bagian penting kehidupan, dan kebutuhan terhadap ruang publik ikut berubah.
Surabaya memberi gambaran yang cukup nyata. Data registrasi yang dimuat BPS Kota Surabaya mencatat 3.018.022 penduduk WNI pada 2024, terdiri atas 1.494.734 laki-laki dan 1.523.288 perempuan.
Hidup bersama tiga juta orang lebih membuat keseharian kota memiliki ritmenya sendiri. Warga berbagi jalan, trotoar, taman, pusat belanja, transportasi, tempat makan hingga ruang digital yang sama.
Perubahan gaya hidup Indonesia kemudian banyak tumbuh dari kebutuhan praktis: bagaimana bekerja lebih efisien, bergerak lebih cepat, serta memperoleh barang dan layanan tanpa menghabiskan terlalu banyak waktu.
Ponsel Mengubah Banyak Kebiasaan Sekaligus
Barangkali sulit menemukan benda yang mengubah keseharian masyarakat Indonesia secepat telepon seluler.
BPS melalui Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Setahun sebelumnya angkanya 69,21 persen.
Dalam rentang lebih panjang, perubahannya semakin jelas. Pada 2021, pengguna internet baru sekitar 62,10 persen penduduk berusia lima tahun ke atas. Dalam tiga tahun, porsinya bertambah lebih dari 10 poin persentase.
Telepon seluler menjadi pintu utamanya. Pada 2024, sekitar 68,65 persen penduduk Indonesia memiliki telepon seluler.
Dampaknya menjalar ke kebiasaan yang dahulu tidak berhubungan dengan teknologi. Membeli makan siang, mencari alamat, memesan kendaraan, membaca berita, berbicara dengan keluarga, sampai membayar tagihan kini bisa berlangsung melalui perangkat yang sama.
Coba lihat suasana makan siang di pusat Surabaya. Orang tetap mengobrol di warung, kedai kopi, atau pusat kuliner, tetapi ponsel hampir selalu berada dalam jangkauan tangan. Kehidupan fisik dan digital sudah bercampur begitu rapat.
Meski demikian, Indonesia belum sepenuhnya berada dalam ruang digital yang setara. Data BPS menunjukkan pengguna internet di perkotaan mencapai 79,14 persen pada 2024, sedangkan di perdesaan berada pada 63,71 persen.
Jaraknya masih sekitar 15 poin persentase. Jadi, ketika layanan publik, pekerjaan dan transaksi semakin digital, ketersediaan pilihan non-digital tetap penting bagi masyarakat yang aksesnya belum sama.
Hidup Lebih Lama Ikut Mengubah Kebutuhan
Ada perubahan lain yang lebih pelan sehingga jarang terasa dalam aktivitas harian: orang Indonesia mempunyai peluang hidup lebih panjang.
Indeks Pembangunan Manusia Indonesia pada 2025 mencapai 75,90, menurut BPS. Setahun sebelumnya berada pada 75,02.
Salah satu komponennya adalah Umur Harapan Hidup saat lahir yang pada 2025 mencapai 74,47 tahun, naik 0,32 tahun dibandingkan 2024.
Tambahan umur harapan hidup membawa konsekuensi yang sangat dekat dengan keluarga. Rumah perlu lebih nyaman bagi orang lanjut usia.
Kota membutuhkan trotoar yang aman. Pelayanan kesehatan harus mudah dijangkau. Anak-anak dewasa juga semakin mungkin hidup cukup lama bersama orang tua yang memasuki usia lanjut.
Surabaya sudah berhadapan langsung dengan kebutuhan tersebut. Dokumen Pemerintah Kota Surabaya mencatat kota ini memiliki 63 puskesmas, 153 puskesmas pembantu, dan 2.672 posyandu keluarga.
Jadi pembicaraan mengenai gaya hidup sehat tidak lagi sebatas tren olahraga atau menu rendah gula. Ada kebutuhan lebih panjang tentang bagaimana masyarakat mempertahankan kualitas hidup ketika usia harapan hidup meningkat.
Pendidikan Naik, Cara Memandang Hidup Ikut Bergeser
Kemajuan kualitas hidup juga tampak pada pendidikan. BPS mencatat rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia berusia 25 tahun ke atas mencapai 9,07 tahun pada 2025, bertambah 0,22 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.
Harapan lama sekolah bagi penduduk usia tujuh tahun ke atas berada pada 13,30 tahun. Pendidikan yang semakin panjang ikut membawa perubahan pada pilihan pekerjaan, pola pengasuhan, cara mencari informasi dan ekspektasi terhadap pelayanan.
Masyarakat makin terbiasa membandingkan sebelum membeli, membaca ulasan sebelum datang, atau mencari informasi tambahan sebelum mengambil keputusan.
Perubahan tersebut bertemu dengan internet yang semakin luas. Hasilnya terlihat dalam perilaku konsumen modern: keputusan kecil dapat melibatkan informasi jauh lebih banyak dibandingkan masa orang tua atau kakek-nenek mereka.
Namun, hidup modern juga membawa pekerjaan rumah baru. Informasi tersedia melimpah, tetapi kemampuan memilahnya menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mendapatkannya.
Kemerdekaan Kini Hadir dalam Pilihan Sehari-hari
Delapan puluh satu tahun setelah proklamasi, gambaran kehidupan Indonesia tentu tidak dapat diringkas melalui satu statistik. BPS mencatat pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan mencapai Rp12,802 juta per tahun pada 2025, naik Rp461 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut merupakan indikator dalam penghitungan pembangunan manusia, bukan jumlah uang belanja bulanan setiap orang.
Ia tetap memberi konteks penting.
Kualitas kehidupan berkembang bersama kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan, memperoleh pendidikan, menjaga kesehatan, serta mendapatkan akses terhadap berbagai layanan.
Di kota seperti Surabaya, hasil perubahan itu muncul dalam bentuk yang sangat biasa. Orang berangkat bekerja sambil memesan sarapan lewat aplikasi.
Orang tua berkonsultasi di fasilitas kesehatan, sementara anaknya mengurus kebutuhan keluarga lewat ponsel. Pedagang tradisional menerima pembayaran digital tanpa harus meninggalkan karakter warungnya.
Indonesia juga belum selesai berubah. Kesenjangan digital masih ada, tekanan kehidupan perkotaan meningkat, dan umur yang lebih panjang membutuhkan layanan publik yang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Itulah sebabnya gaya hidup Indonesia setelah 81 tahun merdeka lebih menarik dibaca sebagai perjalanan yang masih berlangsung. Tidak semua kebiasaan lama hilang dan tidak semua hal baru otomatis lebih baik.
Pagi di Surabaya barangkali menggambarkannya dengan sederhana. Bendera merah putih masih berkibar selepas 17 Agustus, lalu warga kembali bekerja, berdagang, mengantar anak, membuka ponsel dan menjalani rutinitas.
Republik bertambah usia. Kehidupan sehari-hari pun terus bergerak bersamanya.
