Sabtu, 27 June 2026 00:05 UTC

Suasana panas terjadi saat aksi #IndonesiaSekarat di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jumat, 26 Juni 2026. Foto: Khaesar
JATIMNET.COM, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyayangkan kerusakan yang terjadi pada Gedung Negara Grahadi setelah aksi demonstrasi bertajuk #IndonesiaSekarat berakhir ricuh, Jumat, 22 Juni 2026 kemarin. Bangunan yang menjadi simbol pemerintahan Provinsi Jawa Timur sekaligus berstatus cagar budaya itu mengalami kerusakan pada sejumlah bagian akibat aksi anarkistis sejumlah oknum demonstran.
Selain membakar tumpukan sampah dan menyalakan petasan, massa juga melempar batu serta berbagai benda keras ke arah kompleks Gedung Grahadi. Aksi tersebut mengakibatkan beberapa bagian bangunan, termasuk pagar, mengalami kerusakan.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, mengatakan aparat keamanan berhasil mengendalikan situasi setelah mengedepankan pendekatan persuasif sebelum akhirnya mengambil langkah tegas untuk membubarkan massa.
"Ya terima kasih, tadi keamanan sudah bisa menghalau semua. Tapi mohon ini tidak terjadi lagi. Kami sudah berusaha untuk persuasif dan tentunya tadi sudah kita lakukan dengan represif sedikit untuk bisa mendorong ke sana," kata Adhy Karyono usai meninjau kondisi Grahadi, Jumat, 26 Juni 2026.
BACA: Demo #IndonesiaSekarat di Grahadi Surabaya Berujung Ricuh, Polisi Bubarkan Massa
Adhy menegaskan kerusakan terhadap Gedung Grahadi bukan sekadar merusak aset pemerintah, tetapi juga menimbulkan kerugian bagi masyarakat Jawa Timur. Menurutnya, Grahadi merupakan simbol pemerintahan provinsi yang memiliki nilai sejarah dan harus dijaga bersama.
"Yang jelas tentu kalau ada kerusakan di bangunan negara seperti ini, ya merupakan kerugian bagi warga semua. Ini simbol dari pemerintahan Jawa Timur dirusak kembali," ujarnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, batu dan berbagai benda lain masih berserakan di halaman depan Grahadi setelah kericuhan mereda. Beberapa bagian pagar dan area depan bangunan tampak mengalami kerusakan akibat lemparan benda keras.
Pemprov Jawa Timur menegaskan bahwa penyampaian aspirasi merupakan hak setiap warga negara. Namun, aksi demonstrasi diharapkan tetap berlangsung secara damai tanpa merusak fasilitas umum maupun bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari identitas Jawa Timur.
BACA: Demo di Mojokerto, Massa Gabungan Tuntut Evaluasi Kebijakan Prabowo-Gibran
Saat insiden terjadi, Gedung Grahadi diketahui tengah menjalani proses renovasi dan pemeliharaan. Sejumlah bagian bangunan telah dipasangi rangka besi dan material pelindung sebelum aksi demonstrasi berlangsung. Pemprov memastikan kerusakan yang terjadi akan segera diperbaiki agar proyek renovasi tetap berjalan sesuai rencana.
Kericuhan bermula setelah massa aksi gagal bertemu dengan perwakilan pemerintah hingga menjelang malam. Kekecewaan tersebut memicu aksi pembakaran sampah, pelemparan batu, dan penyalaan petasan sebelum akhirnya aparat kepolisian membubarkan massa menggunakan personel Dalmas dan pengamanan berlapis.
