Rabu, 20 May 2026 06:07 UTC

Sejumlah 3.600 lulusan SMK dan LPK diberangkatkan untuk bekerja di luar negeri, Rabu, 20 Mei 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melepas ribuan lulusan pendidikan vokasi untuk bekerja di luar negeri. Sebanyak 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan lembaga pelatihan kerja (LPK) diberangkatkan ke sejumlah negara tujuan kerja.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas peluang kerja lulusan vokasi di pasar internasional.
“Lulusan SMK dan kursus untuk bekerja di luar negeri. Ada 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan kursus yang kita lepas untuk bekerja di beberapa negara,” ujar Abdul Mu’ti, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurutnya, pemerintah tidak hanya menyiapkan kemampuan teknis peserta, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan bahasa asing, pemahaman budaya, hingga kesiapan administrasi sebelum diberangkatkan.
“Dan mereka ini bekerja di sektor-sektor profesional dan juga telah memiliki kontrak dengan lembaga-lembaga resmi, sehingga insyaallah mereka akan dapat bekerja dengan sebaik-baiknya. Mereka memiliki kemampuan bahasa, memiliki kemampuan dan wawasan kebudayaan, serta kesiapan untuk memasuki negara di mana mereka berada,” katanya.
BACA: Sekolah Makin Digital, Kemendikdasmen Tambah Perangkat Belajar Jadi 3 Unit per Sekolah
Abdul Mu’ti menambahkan, pemerintah turut mendampingi pengurusan dokumen keberangkatan seperti paspor dan visa agar para calon pekerja migran tidak mengalami kendala administratif maupun pembiayaan.
“Berbagai hal menyangkut kesiapan keimigrasian juga kita dampingi, sehingga mereka tidak ada kesulitan, termasuk kesulitan finansial ketika harus misalnya mengurus paspor, mengurus visa, dan kelengkapan dokumen untuk mereka berangkat,” ucapnya.
Pemerintah juga telah menjalin nota kesepahaman dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) untuk memastikan perlindungan tenaga kerja Indonesia selama bekerja di luar negeri.
“Sudah ada MoU dengan Kementerian P2MI terkait dengan program-program yang kami laksanakan ini. Sehingga insyaallah mudah-mudahan semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada permasalahan,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Direktorat SMK Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyebut mayoritas peserta pelepasan tahap pertama berasal dari Jawa Timur. Namun, terdapat pula peserta dari sejumlah provinsi lain.
BACA: Disdik Surabaya Bakal Gelar TKA Berbasis Komputer bagi Siswa SD dan SMP
“Untuk periode ini kebanyakan dari Provinsi Jawa Timur. Tapi karena sekalian dia bersamaan dengan yang lain, maka juga ada dari provinsi-provinsi lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan kebutuhan tenaga kerja disesuaikan dengan permintaan masing-masing negara tujuan. Jepang dan Korea Selatan, misalnya, banyak membutuhkan tenaga kerja di sektor caregiver, pertanian, dan manufaktur.
“Kalau dilihat dari job order yang ada, memang tergantung pada negaranya. Seperti misalnya Jepang, Korea, itu banyaknya untuk caregiver. Tapi di samping itu juga memang kebutuhan untuk di pertanian dan kebutuhan manufaktur juga ada,” katanya.
Sementara itu, Turki lebih banyak membutuhkan tenaga kerja Indonesia di sektor hospitality.
“Kalau misalnya di Turki, banyaknya untuk hospitality. Di sana mereka sangat percaya dengan tenaga kerja Indonesia,” ujar Tatang.
Dalam agenda yang sama, Kemendikdasmen juga meluncurkan program SMK 3+1 untuk memperkuat kesiapan lulusan vokasi memasuki pasar kerja global.
