Senin, 18 May 2026 00:00 UTC

Ilustrasi Fokus yang hilang. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Sulit fokus saat rapat kini bukan sekadar masalah pribadi. Fenomena ini makin terlihat ketika ponsel, game, notifikasi, dan rasa jenuh hadir bersamaan di ruang formal.
Kasus viral anggota DPRD Jember yang terekam bermain game dan merokok saat rapat membahas stunting memantik kritik publik karena forum itu menyangkut isu serius masyarakat.
Peristiwa tersebut terjadi dalam rapat dengar pendapat Komisi D DPRD Jember pada Senin, 11 Mei 2026, menurut laporan Suara Jatim.
Namun, di luar kasus tersebut, ada pertanyaan yang lebih luas: kenapa banyak orang modern makin sulit benar-benar hadir dalam rapat panjang?
Sulit Fokus Saat Rapat Bukan Selalu Karena Malas
Banyak orang mengira kehilangan fokus hanya terjadi karena malas, tidak sopan, atau tidak peduli. Padahal, riset tentang perhatian menunjukkan masalahnya lebih kompleks.
Psikolog Gloria Mark dari University of California, Irvine, meneliti pola perhatian manusia di layar selama hampir dua dekade. Ia menyebut rata-rata rentang perhatian pada layar turun dari sekitar dua setengah menit pada 2004 menjadi sekitar 47 detik dalam pengamatan terbarunya.
Artinya, otak manusia modern makin terbiasa berpindah dari satu rangsangan ke rangsangan lain. Ketika rapat berlangsung lama, satu arah, dan minim interaksi, ponsel menjadi jalan keluar paling mudah.
Masalahnya, rapat publik tidak sama dengan menunggu antrean. Ada tanggung jawab sosial, etika jabatan, dan kepercayaan warga yang ikut dipertaruhkan.
Rapat Panjang Sering Kalah dari Stimulasi Cepat
Ponsel memberi hadiah instan. Game memberi skor, warna, suara, dan rasa menang dalam hitungan detik. Media sosial memberi notifikasi yang membuat otak merasa “dipanggil”.
Sementara itu, rapat sering berjalan lambat. Banyak forum formal masih berisi pembacaan data panjang, sambutan berulang, dan diskusi yang tidak selalu jelas ujungnya.
Microsoft Work Trend Index 2023 menemukan “rapat tidak efisien” menjadi pengganggu produktivitas nomor satu bagi pekerja. Dalam laporan yang sama, 55 persen responden menyebut langkah berikutnya di akhir rapat sering tidak jelas.
Pendapat ahli rapat Steven Rogelberg juga relevan. Profesor organizational science dari UNC Charlotte itu menyebut rapat buruk bisa meninggalkan “meeting hangover”, yaitu efek negatif yang terbawa setelah rapat dan mengganggu produktivitas.
Jadi, rapat yang buruk memang bisa melelahkan. Tetapi responsnya tetap perlu dewasa, apalagi jika rapat menyangkut isu publik seperti kemiskinan dan stunting.
Multitasking Bukan Tanda Hebat
Bermain game sambil mengikuti rapat sering dianggap “masih bisa dengar kok”. Ini ilusi yang cukup umum.
American Psychological Association menjelaskan bahwa berpindah tugas menimbulkan switching cost. Makin kompleks tugasnya, makin besar waktu dan energi mental yang hilang saat otak berpindah fokus.
Dalam konteks rapat, biaya itu bisa berupa salah menangkap data, kehilangan konteks, atau tidak memahami keputusan penting. Jika rapat membahas stunting, dampaknya bukan sekadar catatan yang terlewat.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting nasional pada SSGI 2024 masih 19,8 persen. Angka ini memang turun, tetapi tetap menjadi pekerjaan besar karena variasinya berbeda antardaerah dan kelompok sosial ekonomi.
Karena itu, forum yang membahas stunting membutuhkan perhatian utuh. Isunya bukan hanya administrasi, tetapi masa depan anak, keluarga rentan, dan kualitas kebijakan daerah.
Etika Fokus Perlu Jadi Budaya Baru
Di era digital, fokus harus diperlakukan sebagai etika. Bukan hanya kemampuan pribadi, tetapi bentuk hormat kepada orang lain.
Dalam rapat, fokus berarti mendengar, mencatat, menimbang, dan merespons dengan pantas. Seseorang boleh lelah atau bosan, tetapi tetap perlu menjaga sikap karena ruang formal punya standar perilaku.
Solusinya tidak cukup hanya menyalahkan individu. Lembaga, kantor, komunitas, dan organisasi juga perlu memperbaiki kualitas rapat.
Agenda harus jelas. Durasi perlu masuk akal. Peserta yang hadir harus benar-benar relevan. Moderator perlu menjaga alur agar forum tidak berubah menjadi seremoni panjang tanpa keputusan.
Namun, peserta juga punya tanggung jawab. Menaruh ponsel, mematikan notifikasi, dan menunda hiburan digital adalah latihan kecil untuk hadir secara penuh.
Pada akhirnya, sulit fokus saat rapat adalah cermin zaman. Kita hidup dengan layar yang makin menarik, sementara forum serius sering belum berubah. Tetapi makin penting isu yang dibahas, makin besar pula kewajiban kita untuk benar-benar hadir.
