Pembaca Alquran "Raksasa" di Banyuwangi Bukan Sembarang Orang

Ahmad Suudi

Selasa, 21 Mei 2019 - 09:17

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Pembacaan Alquran raksasa di Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi hanya dilaksanakan enam orang ustaz pilihan, seorang di antaranya penghafal Alquran. Mereka yang bertugas telah dikurasi dan dinilai layak membaca kitab suci ini.

Koordinator Tadarus Alquran Besar Ustaz Ahmad Rifai mengatakan, pembatasan petugas baca tadarus bukan karena Alquran-nya yang besar, melainkan pendengar yang sangat luas. Tadarus di MAB Banyuwangi terdengar dari menara setinggi 45 meter, hingga disiarkan di radio komunitas milik masjid yang menjangkau pendengar lebih luas.

Ustaz Rifai mengatakan, masyarakat juga turut mengoreksi hasil bacaan tadarus di masjid yang berada di jantung Kota Banyuwangi itu. Karena banyaknya yang menyimak, bila dirinya asal-asalan memilih petugas tadarus hingga banyak bacaan yang salah akan kena protes banyak orang.

BACA JUGA: Masih Berseragam, Polisi Banyuwangi Tarawih dan Tadarus Pasca Bertugas

"Pernah ada orang bukan petugas tadarus nekat membaca, akhirnya banyak yang telepon ke saya, protes bacaannya banyak yang salah," kata ustaz yang juga menjadi imam salat rowatib MAB Banyuwangi itu beberapa waktu lalu.

Alquran raksasa di dalam peti besar itu hanya dibuka untuk kegiatan tadarus Ramadan atau kegiatan khusus di luar Ramadan. Selain itu peti kayu Alquran raksasa juga akan dibuka saat jadwal perawatan agar kertasnya tidak termakan kutu atau membusuk.

Sedangkan tadarus Ramadan dibacakan 3 juz per hari, yang artinya khatam atau tamat 3 kali dalam sebulan. Selain petugas pembaca tadarus, ada dua orang lagi yang bertugas membalik Alquran raksasa itu lembar demi lembar yang sudah dibaca.

BACA JUGA: Hari Pertama Ramadan, Tadarus Massal Digelar Santri di Medan

Pasalnya ukuran lembaran kertas 142X210 sentimeter tidak bisa hanya dibuka satu orang melainkan harus 2 orang. Selain itu pembukaan Alquran raksasa harus secara hati-hati demi keawetan lembar demi lembar mushaf yang ditulis tangan oleh KH Abdul Karim, warga Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, selama 7 bulan pada tahun 2010 itu.

Dalam prosesnya, penulis menghabiskan 32 dus spidol, 40 dus tinta isi ulang, dan setumpuk kertas impor dari Jepang yang kesemuanya didanai Pemkab Banyuwangi. Tahun itu juga Pemkab Banyuwangi yang tengah dipimpin Bupati Ratna Ani Lestari menghibahkannya pada MAB Banyuwangi sebagai ikon kota yang mencermikan masyarakat beragama Banyuwangi.

"Ini yang sedang baca ini sedang tes tampil, insya Allah masuk ini bacaannya lancar," kata Ustaz Rifai sambil memandang salah satu petugas tadarus yang tengah membaca Alquran raksasa.

BACA JUGA: Ngerandu Buko, Cara Kampung Papring Menunggu Berbuka Puasa

Yang dimaksudnya adalah Asmadi (26), pemuda yang pada Ramadan kali ini menjalani tes masuk sebagai petugas tadarus MAB Banyuwangi. Warga Banyuwangi yang sejak kecil mengaji di MAB Banyuwangi itu mengaku grogi saat pertama diberi kesempatan membaca Alquran raksasa dengan mikrofon di tangan.

"Yang biasa megang Alquran kecil, lalu baca Alquran besar, pertama pandangan yang kerepotan karena jarak duduk kita dan Alquran jauh. Yang kedua kurang terbiasa membacanya," kata Asmadi.

Baca Juga

loading...