JATIMNET.COM, Surabaya - Pelaku penembakan dua masjid di Christchurch Selandia Baru Brenton Harrison Tarrant membuat simbol supremasi kulit putih saat hadir di Pengadilan Distrik Christchurch, Sabtu 16 Maret 2019.

Hadir di pengadilan, Tarrant mengenakan pakaian penjara berwarna putih dengan sabuk hitam. Kedua tangannya diborgol. Tubuhnya pendek kekar, rambut menipis dan mata cokelat. Tarrant dijaga ketat dua petugas kepolisian. Seperti dilansir dari http://www.dailymail.co.uk.

Dia sempat tersenyum tipis di awal persidangan dan berulang kali menatap ke media yang hadir. Salah satu tangannya lalu mengacungkan simbol supremasi kulit putih.

Sidang perdana ini diselenggarakan secara tertutup untuk masyarakat. Media diperbolehkan memfoto Tarrant namun mewajibkan untuk memburamkan wajahnya demi asas praduga tak bersalah.

BACA JUGA: Penembakan di Turnamen Game Florida, Dua Orang Tewas

Kericuhan sempat terjadi di luar sidang saat seorang pria membawa pisau. Dia mengatakan ingin menusuk Tarrant atas aksi kejinya yang menewaskan 49 orang Muslim yang tengah salat Jumat.

Dalam pembacaan dakwaan, polisi menuduh Tarrant melepaskan tembakan di dalam Masjid Al Noor, lalu pergi ke Masjid Linwood di seberang kota dengan menembak secara membabi buta. Dia didakwa atas pembunuhan tapi masih terbuka kemungkinan dia didakwa pasal lain.

Sidang hanya berlangsung beberapa menit. Pengacara Tarrant tidak mengajukan jaminan pembebasan. Sidang selanjutnya dijadwalkan pada 5 April 2019.

BACA JUGA: Korban Penembakan di Masjid Selandia Baru Mulai Teridentifikasi

Adapun pria kedua yang ikut didakwa adalah Daniel John Burrough. Pria 18 tahun itu didakwa atas permusuhan atau niat buruk terhadap sekelompok orang di Selandia Baru dengan menerbitkan materi tulisan yang menghina seperti disebut dalam dokumen pengadilan. Burrough tidak hadir di pengadilan.  

Komisaris Polisi Mike Bush mengkonfirmasi jumlah korban tewas sebanyak 49 orang dan luka-lua 42 orang. Bush mengungkapkan seorang pria dilepaskan karena tidak terbukti terlibat peristiwa teror ini.

Pria tersebut diketahui warga biasa yang menyusul anaknya pasca kabar serangan membabi buta Tarrant. Dia memutuskan pulang ke rumah mengambil senjata untuk melindungi anaknya.

Tarrant merupakan warga negara Australia dan tumbuh besar di Grafton, New South Wales. Dia meninggalkan kota tersebut tak lama setelah ayahnya Rodney meninggal akibat kanker.

BACA JUGA: Muhammadiyah dan NU Kecam Penembakan Masjid di Selandia Baru

Selama 2011, Tarrant berkeliling dunia termasuk ke Korea Utara dan Pakistan. Kesuksesannya dalam berinvestasi bitcoin menghasilkan cukup uang untuk berkeliling dunia.

Di antara kegiatan travelling itu, Tarrant tampaknya terobsesi dengan serangan teroris di Eropa selama periode 2016 dan 2017. Manifesto yang dia tulis penuh dengan ideologi Neo-Nazi dan kebencian kepada umat muslim.  

Manifestonya juga menulis bahwa ia terinspirasi oleh penembak lain termasuk Anders Breivik yang membunuh 77 orang di Oslo, Norwegia pada 2011. Dia mengatakan dia tidak menyukai Muslim dan membenci mereka yang telah pindah agama, serta menyebut mereka pengkhianat.

Tarrant mengatakan dia awalnya ingin menargetkan masjid di Dunedin, selatan Christchurch, setelah menonton video di Facebook. "Tetapi setelah mengunjungi masjid-masjid di Christchurch dan Linwood dan melihat penodaan gereja yang telah dikonversi menjadi masjid di Ashburton, rencana saya berubah," tulisnya.

BACA JUGA: 49 Orang Tewas Dalam Penembakan di Masjid Selandia Baru

"Masjid-masjid Christchurch dan Linwood memiliki lebih banyak penjajah."

Dia mengatakan telah merencanakan serangan hingga dua tahun dan memutuskan Christchurch sebagai target serangan sekitar tiga bulan lalu.

Penembak itu mengatakan dia termotivasi untuk melakukan serangan itu dengan kematian anak sekolah Swedia Ebba Akerlund, seorang gadis yang terbunuh dalam serangan teroris di Stockholm pada April 2017.

Tarrant mengatakan dia adalah pendukung Donald Trump yang disebutnya sebagai simbol identitas kulit putih.