JATIMNET.COM, Surabaya – Parfum untuk pertama kalinya masuk sepuluh besar penyumbang inflasi di Jawa Timur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyebut, sepanjang Maret inflasi di komoditi parfum sebesaf 2,88 persen.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jawa Timur Satriyo Wibowo mengatakan, inflasi yang terjadi pada parfum sebetulnya biasa di awal tahun. Tetapi tidak pada posisi sepuluh besar penyumbang inflasi.

"Jadi kalau kita lihat parfum masuk sepuluh besar. Sebelumnya tidak pernah sepuluh besar," ujar Satriyo, Senin 1 April 2019.

Sumbangsih parfum terhadap inflasi bulan lalu tidak begitu besar. Tercatat 0,0078 persen. Masih jauh lebih rendah dari angkutan udara yang memiliki andil 0,0901 persen, bawang putih 0,0650, dan bawang merah 0,0546 persen.

BACA JUGA: Kota Malang Catat Inflasi Tertinggi di Jatim

Inflasi maret 2019 sebesar 0,16 persen. Sedangkan untuk tahun kalender sampai Maret sebesar 0,32 persen.

Kenaikan harga bahan baku di awal tahun, parfum ditengarai menjadi penyebabnya. "Memang mengalami kenaikan di awal tahun. Maret kenaikannya cukup tinggi, sehingga ketika dikalikan dengan bobotnya masuk 10 besar," bebernya.

Secara keseluruhan, lanjut Satriyo, Jawa Timur Maret 2019 mengalami inflasi sebesar 0,16 persen dibanding Februari 2019. Sementara untuk tahun kalender Januari sampai Maret 2019 yakni 0,32 persen.

BACA JUGA: Tarif Angkutan Udara dan Kenaikan Harga Bawang Picu Inflasi 

Penyumbang inflasi terbesar adalah dari angkutan udara yang alami 9,50 persen, diikuti bawang putih yang naik 24,64 persen, bawang merah naik 14,66 persen, pepaya naik 8,62 persen, dan tarif kerta api 1,92 persen.

Sementara untuk kabupaten/kota, inflasi tertinggi Kota Malang 0,47 persen. Sementara Surabaya, yang biasanya menjadi patokan mengalami inflasi 0,36 persen sepanjang Maret 2019.

"Tiket pesawat jadi yang tertinggi inflasi, biasanya pesawat karena permintaannya naik dibanding Februari," kata Satriyo.