Selasa, 27 January 2026 02:00 UTC

Jalur aliran lumpur (mudflow) yang melintas Kampung Pasir Kuning hingga Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kec. Cisarua, Kab. Bandung Barat. Dok: ITB
JATIMNET.COM - Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Achmad Sadisun mengingatkan potensi longsor atau aliran lumpur susulan yang sebelumnya melanda Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026.
Akibat musibah ini, sekitar 30 rumah tertimbun dan diperkirakan lebih dari 90 orang tertimbun termasuk 23 prajurit marinir TNI AL yang sedang dalam masa latihan sebelum ditugaskan di pos perbatasan Indonesia-Papua Nugini.
Hingga Senin, 26 Januari 2026, sudah 25 jenazah ditemukan dan puluhan lainnya masih tertimbun.
Imam menilai kejadian tersebut merupakan hasil interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia yang menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu longsoran di bagian hulu sistem alirannya.
BACA: Sedang Latihan, 23 Marinir Tertimbun Longsor di Bandung Barat
Menurut Imam, Bandung Barat termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan yang relatif tebal.
Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincirnya. Kondisi ini semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh.
“Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” ujar Imam dikutip dari laman berita itb.ac.id, Minggu, 25 Januari 2026.
BACA: Update Longsor Bandung Barat: 25 Korban Tewas, Puluhan Masih Tertimbun
Menurutnya, pemicu longsor tidak hanya ditentukan durasi hujan, melainkan juga intensitasnya. Dalam ilmu kebumian dikenal hubungan antara durasi dan intensitas hujan. Hujan dengan intensitas sedang namun berlangsung lama dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi yang singkat.
Salah satu temuan penting dalam kejadian ini adalah adanya indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).
Akibat tertutupnya alur sungai, aliran air tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu, bersamaan dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, hingga bongkah batu.
Ketika bendungan alam ini tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada.
BACA: Longsor di Bandung Barat, Baru 9 Korban Ditemukan dari 82 Orang Diduga Tertimbun
Ia mengatakan aliran ini bukan sekadar air, melainkan aliran lumpur yang bahkan kerap mengandung bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu yang bergerak cepat dan memiliki dampak kerusakan yang lebih dahsyat.
“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” ujar Imam.
Karakter aliran semacam ini umumnya memiliki daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan aliran air biasa karena muatan sedimen yang sangat besar.
Oleh karena itu, fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow) atau bahkan bisa menjadi aliran debris (debris flow).
Hal ini pula yang dapat menjelaskan mengapa terdapat kerusakan yang parah sepanjang jalur alirannya atau yang berada di kawasan bantaran sungai yang ada, meskipun wilayah tersebut tidak berada langsung di zona sumber longsoran.
Imam juga mengingatkan adanya potensi bahaya susulan, mengingat masih ditemukannya indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.
