Pakar Desak Pemerintah Revisi Target Pertumbuhan Ekonomi

Rochman Arief

Rabu, 8 Mei 2019 - 22:12

JATIMNET.COM, Jakarta – Pemerintah dinilai perlu bekerja ekstra keras untuk menerbitkan kebijakan atau terobosan inovatif. Harapannya untuk mendongkrak kinerja ekspor dan investasi dengan harapan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada 2019 bisa dicapai.

Upaya itu tidak lepas dari realisasi pertumbuhan ekonomi yang hanya 5,07 persen pada kuartal I/2019. Lembaga kajian Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan angka tersebut masih di bawah ekspetasi berbagai kalangan termasuk pemerintah.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan pada paruh pertama tahun ini, sektor-sektor penggerak ekonomi seperti manufaktur dan investasi pertumbuhannya tidak sesuai harapan dan gagal mendorong laju perekonomian.

“Dengan capaian kuartal I/ 2019 ini akan semakin sulit untuk pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen,” ujar dia.

BACA JUGA: Pertumbuhan Ekonomi Jatim Capai 5,51 Persen

Berdasarkan capaian kuartal I/ 2019, Tauhid menilai pertumbuhan di sektor pertanian serta transportasi menjadi biang keladi lambannya pertumbuhan ekonomi. PDB sektor pertanian menurun karena harga komoditas di sektor tersebut juga terkoreksi terutama untuk tanaman pangan.

“Di antara sektor ini tanaman pangan menyumbang penurunan terbesar, meski ada juga di kehutanan dan penebangan kayu. Misalnya harga gabah kering panen trennya turun dari Rp 5.400 turun sebesar Rp 4.400," ujar dia.

Sementara di sektor transportasi, kenaikan tarif angkutan udara menjadi beban utama untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Sejak awal kuartal I/2019, tarif tiket pesawat ekonomi rute domestik sudah bergerak naik secara liar.

Hal itu yang menyebabkan permintaan transportasi menurun dan mengganggu kegiatan konsumsi masyarakat.

BACA JUGA: Kinerja Arus Barang Dipengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

“Salah satu yang jadi perdebatan ini harga tiket pesawat yang menyumbang penurunan jumlah penumpang. Tren penurunan penumpang cukup besar,” tegasnya.

Dua sektor tersebut, ujar Tauhid, menjadi kontributor signifikan bagi penciptaan Produk Domestik Bruto.

Ekonom Indef Enny Sri Hartati menilai di sisa waktu tahun ini, pemerintah perlu fokus menumbuhkan sektor manufaktur terutama sektor yang dapat menyubstitusi impor. Dia mengkritisi proses penciptaan industri subtitusi impor yang berjalan lamban dan telah memicu laju impor yang signifikan.

BACA JUGA: Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I/2019 Capai 5,07 Persen

Sektor manufaktur, kata Enny, jauh lebih penting, selain upaya-upaya pemerintah menumbuhkan industri 4.0.

“Jangan latah ikut-ikutan 4.0. Potensi kita itu di manufaktur, karena kita memiliki kekayaan sumber daya alam yang banyak dan melimpah," ujarnya.

Secara keseluruham, Indef menilai pemerintah perlu merevisi target pertumbuhan ekonomi dari 5,3 persen. Hal ini, kata Tauhid, lebih baik ketimbang pemerintah memaksakan segala upaya yang dikhawatirkan justru merusak stabilitas.

“Target (pertumbuhan ekonomi) 5,3 persen 2019 perlu dikoreksi, lembaga dunia beberapa hari lalu menyampaikan ada koreksi pertumbuhan ekonomi global karena adanya tekanan eksternal,” ujar dia. (ant)

Baca Juga

loading...