JATIMNET.COM, Surabaya - Bank Indonesia optimis nilai tukar mata uang rupiah akan menguat sepanjang tahun 2019 karena adanya sejumlah indikator yang menunjukan tren.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Palembang mengatakan nilai tukar saat ini sudah berkisar Rp14.000 per dolar AS atau lebih baik dari 2018 yang pernah menyentuh angka 15.000 per dolar AS.

"Kami masih melihat bahwa nilai tukar saat ini masih under value. Artinya, masih banyak potensi untuk stabil dan menguat," kata dia seusai menghadiri acara serah terima jabatan (sertijab) kepala Perwakilan BI Sumsel, Kamis 10 Januari 2019.

Perry menjelaskan terdapat empat faktor yang mendorong pergerakan nilai tukar menjadi stabil dan menguat. Pertama, terkait kebijakan suku bunga. Ia menjelaskan kebijakan suku bunga Tanah Air sudah membuat imbal hasil aset keuangan Indonesia termasuk obligasi menjadi menarik. 

"Sehingga memang meningkatkan arus modal asing masuk ke Indonesia dan menambah pasokan valas di dalam negeri," kata dia.

Kedua, kecenderungan kenaikan suku bunga di dunia, khususnya di Amerika yang lebih rendah dari yang diperkirakan. "Sebelumnya, kami perkirakan naik 3 kali ternyata paling banter hanya 2 kali sehingga timbul kondisi investor global mulai beralih ke negara yang menarik, termasuk Indonesia," katanya.

Ketiga, defisit neraca perdagangan atau transaksi berjalan Indonesia yang diupayakan lebih rendah dari tahun lalu.

Perry menjelaskan tahun lalu angka defisit tersebut sebesar 3 persen dari PDB dan diupayakan tahun ini sekitar 2,5 persen. Sehingga dari sisi fundamentalnya cenderung menguat," kata dia.

Keempat, pasar semakin berkembang di mana saat ini sudah sudah pasar SWAP dan pasar transaksi forward atau yang disebut domestic non delivery forward (DNDF). Sementara sebelumnya, kata Perry, transaksi valas hanya di pasar tunai atau spot. (ant).